Ujian Kesetiaan
Ruang rapat Medika Sentral bukan lagi sekadar tempat diskusi; itu adalah medan eksekusi. Bau disinfektan yang tajam beradu dengan aroma kopi mahal, menciptakan kontras yang menyesakkan. Arjuna duduk di ujung meja mahoni, punggungnya tegak, matanya memindai lima direktur yang duduk gelisah. Di hadapan mereka, sebuah map hitam—umpan yang ia sebut sebagai 'bukti final tender'—tergeletak seperti bom waktu.
"Data ini," suara Arjuna memecah keheningan, rendah namun memiliki gravitasi yang memaksa setiap orang menahan napas. "Akan saya bawa ke ruang lelang besok pukul 08.00. Siapa pun yang memegangnya, memegang kendali atas masa depan rumah sakit ini."
Maya, yang duduk di sampingnya, tampak pucat. Ia tidak tahu bahwa Arjuna sedang mempertaruhkan segalanya pada sebuah gertakan. Map itu kosong, hanya berisi kertas putih yang ditandai dengan sidik jari tak terlihat. Arjuna mengamati gestur mereka. Direktur Keuangan berkeringat dingin, sementara Rian, sekretaris pribadi Maya selama lima tahun, terus melirik jam tangannya. Bagi Arjuna, kepercayaan adalah variabel yang paling mudah dimanipulasi.
"Saya akan keluar selama lima menit," ujar Arjuna seraya berdiri. "Beri waktu bagi kalian untuk meninjau urgensinya. Saya harap, saat saya kembali, tidak ada yang berani menyentuh map ini tanpa izin."
Arjuna tidak pergi jauh. Ia berdiri di balik pilar koridor, matanya terpaku pada layar ponsel yang terhubung ke sistem keamanan internal. Tak sampai dua menit, notifikasi muncul: Rian keluar dari ruang rapat dengan langkah tergesa, menuju ruang arsip di lantai bawah. Arjuna mengikuti, langkahnya tanpa suara, layaknya predator yang memburu mangsa.
Di ruang arsip yang remang, Rian membeku. Jemarinya masih mencengkeram ponsel yang menampilkan pesan terkirim ke nomor milik tangan kanan Bramantyo.
"Sudah selesai mengirim laporan perkembangan internal kita?" suara Arjuna tenang, nyaris seperti bisikan, namun memiliki bobot yang membuat udara di ruangan itu terasa berat.
Rian tersentak, wajahnya pucat pasi. Ia mencoba menyembunyikan ponsel, namun Arjuna sudah melangkah maju, meletakkan tablet di meja kayu di hadapan Rian. Layar itu menampilkan ringkasan mutasi rekening pribadi Rian dalam tiga bulan terakhir—aliran dana dari perusahaan cangkang milik Bramantyo yang merah dan mencolok.
"Pilihannya sederhana, Rian," ujar Arjuna sambil duduk dengan santai. "Kau bisa mengakui siapa yang memerintahkanmu membocorkan data tender ini, atau saya akan mengirimkan bukti transfer ini ke departemen kepatuhan hukum dan media massa dalam lima menit. Karirmu, reputasimu, dan kebebasanmu—semuanya akan hancur sebelum matahari terbenam."
Rian gemetar hebat. "Mereka... mereka mengancam keluarga saya, Arjuna!"
"Dan sekarang, kau harus memilih antara mereka atau masa depanmu di sini," potong Arjuna dingin. "Berikan informasi palsu kepada Bramantyo bahwa map itu berisi surat kuasa asli. Biarkan dia percaya dia akan menang besok pagi. Itu satu-satunya jalan keluar bagimu."
Arjuna membawa Rian ke ruang kerja pribadi Maya. Di balik jendela, lampu-lampu kota tampak seperti kerumunan semut yang tak sadar sarang mereka sedang diguncang gempa. Maya berdiri di dekat meja kerja, tangannya menggenggam erat dokumen audit yang baru saja Arjuna serahkan.
"Siapa pun yang melakukan ini, dia menghancurkan reputasi Bramantyo tanpa sisa," gumam Maya, suaranya bergetar. "Tapi kenapa kau membawaku ke sini?"
Arjuna berbalik, menatap Maya dengan ketenangan predator. "Karena musuhmu bukan hanya Bramantyo di luar sana, Maya. Ada lubang di dalam kapalmu sendiri." Arjuna menekan tombol interkom. "Masuklah, Rian."
Pintu terbuka. Rian melangkah masuk dengan kepala tertunduk. Begitu melihat dokumen audit di tangan Maya, kakinya goyah. Arjuna menatap mata pengkhianat itu, memberikan pilihan terakhir: "Akui segalanya di depan publik besok, atau hancur saat ini juga."