Novel

Chapter 6: Langkah Strategis Sang Juru Lelang

Arjuna meluncurkan serangan finansial yang meruntuhkan saham Bramantyo, memaksa kaki tangan musuh untuk berkhianat, dan menetapkan panggung untuk kemenangan mutlak di lelang tender besok pagi.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Langkah Strategis Sang Juru Lelang

Layar monitor di ruang kendali Medika Sentral berpendar biru, memantulkan ketegangan yang merayap di wajah Maya. Pukul 09.00 tepat. Pasar saham dibuka, dan di depan mata mereka, grafik perusahaan Bramantyo—yang selama ini tampak kokoh—mulai menunjukkan keretakan.

Arjuna berdiri di belakang Maya, jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang tenang, kontras dengan napas Maya yang memburu. "Lihat itu," ucap Arjuna datar. "Algoritma yang kutanamkan tidak hanya menyerang harga saham. Ia mengekspos transaksi fiktif Bramantyo dengan Haryo bulan lalu secara real-time ke publik."

Dalam hitungan detik, angka-angka itu terjun bebas. Merah. Dominan. Kehilangan sepuluh persen nilai dalam satu kedipan mata. Alarm di lantai bursa pusat seolah bergaung hingga ke ruangan mereka, sebuah simfoni kehancuran bagi Bramantyo.

Ponsel Arjuna bergetar. Nama Bramantyo muncul, berkedip seperti peringatan bahaya.

"Kau meretas sistem proteksi internal?" suara Bramantyo di seberang sana terdengar parau, penuh amarah yang tertahan. "Polisi siber akan melacakmu sampai ke lubang semut!"

Arjuna tersenyum tipis, tatapannya tajam menatap layar. "Polisi siber tidak akan datang, Bramantyo. Mereka terlalu sibuk memeriksa bukti transfer ilegal yang sudah kukirim ke meja jaksa. Kau bukan sedang berhadapan dengan pengusaha, tapi dengan orang yang kau coba hancurkan lima tahun lalu. Mundur dari lelang besok, atau saksikan kerajaanmu menjadi debu sebelum matahari terbenam."

Arjuna memutus sambungan. Ia tidak memberi ruang bagi negosiasi. Ia segera melangkah keluar, menuju ruang rapat utama di mana Direktur Prasetyo—kaki tangan Bramantyo—sedang berusaha menyembunyikan kegelisahannya.

Arjuna meletakkan map berisi bukti transfer ilegal tepat di depan Prasetyo. "Data ini bukan sekadar angka, Prasetyo. Ini adalah vonis. Pilihannya sederhana: menjadi saksi kunci melawan Bramantyo dan selamat, atau membusuk di penjara sebagai kambing hitam."

Prasetyo memucat, tubuhnya merosot di kursi. Ia tahu permainannya telah berakhir. Di sudut ruangan, Maya menatap Arjuna dengan pandangan yang telah berubah total. Ia tidak lagi melihat seorang pesuruh, melainkan seorang predator yang memegang kendali penuh atas papan catur kota.

Arjuna berjalan ke teras, menatap gedung Bramantyo di kejauhan. Lelang besok bukan lagi soal tender rumah sakit, tapi panggung penentuan nasib. Ia menoleh ke arah Maya, matanya setajam belati. "Persiapkan saksi kunci itu. Saat palu lelang diketuk besok pukul 08.00, kita tidak hanya akan memenangkan tender, kita akan mengakhiri dominasi mereka selamanya."

Arjuna berbalik, menyapu pandangan ke arah tim internal Medika Sentral. Ia menatap tajam seorang pria di barisan belakang yang sedari tadi menghindari kontak mata. "Dan kau," Arjuna melangkah mendekat, suaranya rendah namun mematikan. "Kau punya waktu sampai malam ini untuk mengakui siapa yang memerintahkanmu menyabotase sistem kami. Akui sekarang, atau hancur saat itu juga."

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced