Menembus Hierarki Elit
Lampu kristal di Ballroom Hotel Grand Emerald memantulkan cahaya dingin, menciptakan kontras tajam dengan aroma parfum mahal yang menyembunyikan kepanikan para tamu. Arjuna berdiri di sudut ruangan, setelan jasnya yang sederhana namun pas di tubuh memberikan siluet yang tajam di antara para elit kota yang sibuk memperebutkan pengaruh. Di depannya, Bramantyo tampak berusaha mempertahankan wibawa, meski matanya terus bergerak gelisah setiap kali seorang investor besar melirik ke arahnya.
"Kau berani muncul di sini, pecundang?" bisik Bramantyo saat berpapasan, suaranya sarat dengan kebencian yang tertahan. "Setelah apa yang kau lakukan pada tender Medika Sentral, kau hanyalah bangkai yang menunggu waktu untuk dibuang."
Arjuna tidak menoleh. Ia menyesap minumannya dengan tenang, matanya terkunci pada sosok investor yang tengah berbincang akrab dengan Bramantyo—orang yang sama yang mendanai sabotase operasional rumah sakit minggu lalu. "Waktu adalah komoditas yang mahal, Bramantyo. Sayang sekali kau baru saja menghabiskan sisa jatahmu," jawab Arjuna datar. Saat pelayan lewat, Arjuna menyenggol lengan sang pelayan dengan presisi tinggi. Gelas kristal berisi sampanye itu jatuh, tumpah tepat mengenai jas sutra investor tersebut. Kegaduhan kecil meledak. Investor itu memaki, dan dalam kekacauan, Arjuna menyelinap menuju ruang arsip hotel.
Di dalam ruang arsip yang dingin, Haryo—direktur keuangan yang menjadi kaki tangan Bramantyo—terbujur kaku di kursi kerjanya, jemarinya gemetar mencoba menghapus jejak digital transfer gelap. Arjuna berdiri membelakangi pintu, suaranya sedingin es. "Satu detik lagi, dan kariermu bukan hanya tamat, tapi kau akan mendekam di sel yang lebih sempit dari kantor ini."
Ia meletakkan ponselnya di atas meja, menampilkan bukti transfer ilegal yang baru saja ia sadap. Haryo pucat pasi. Arjuna menekan tombol override pada sistem enkripsi, mengunci seluruh akses Haryo. "Bramantyo hanya pion yang sedang kau korbankan untuk menutupi jejak tuanmu yang sebenarnya," Arjuna melangkah maju, bayangannya menelan sosok Haryo yang tak berdaya. "Tapi kau lupa satu hal, Haryo. Aku tidak datang untuk menghancurkan pion. Aku datang untuk meruntuhkan seluruh arsitekturnya."
Kembali ke ruang kerja privat di Medika Sentral, Arjuna menatap tumpukan dokumen audit lama milik mendiang ayah Maya. Jemarinya menelusuri tanda tangan basah di pojok bawah surat perjanjian akuisisi dua belas tahun lalu. Satu pola yang sama muncul: guratan tajam pada huruf 'S' yang menjadi ciri khas pelaku yang menghancurkan karier militernya di masa lalu. Maya berdiri di ambang pintu, menatap Arjuna dengan curiga. "Kau mencari sesuatu yang lebih besar dari sekadar tender rumah sakit ini, bukan?"
Arjuna menempatkan dokumen milik ayah Maya tepat di samping berkas bukti suap Bramantyo. "Ayahmu tidak kalah karena bisnis, Maya. Dia dikhianati oleh tangan yang sama yang mencoba membuangku ke dasar jurang saat aku masih memegang komando." Saat Maya membandingkan kedua tanda tangan itu, wajahnya memucat. Musuh mereka adalah satu.
Di kantornya pada pukul dua pagi, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Arjuna dari nomor tersembunyi: “Berhenti bermain di level ini, Arjuna. Identitasmu sebagai Dewa Perang adalah bom waktu.” Arjuna menyeringai tipis. Ia mengetikkan serangkaian kode enkripsi, melacak lokasi digital pengirim pesan tersebut. "Kalian tidak sedang mengancamku," gumamnya. "Kalian sedang memberikan kunci untuk membuka gerbang kehancuran kalian sendiri." Ia menekan tombol ‘Execute’. Dalam hitungan detik, algoritma yang ia bangun mulai membocorkan data transaksi fiktif perusahaan cangkang milik Bramantyo, bersiap meruntuhkan saham mereka tepat saat pasar dibuka esok pagi. Arjuna menatap layar, menyadari bahwa perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.