Novel

Chapter 4: Bayang-Bayang di Balik Kemenangan

Arjuna mengonsolidasikan kekuasaannya di Medika Sentral dengan menekan direksi korup menggunakan bukti tender. Ia menggagalkan sabotase operasional yang dilakukan kaki tangan Bramantyo, namun menemukan koneksi masa lalu yang lebih dalam antara kehancuran kariernya dan pengkhianatan terhadap ayah Maya. Sebuah pesan misterius mengonfirmasi bahwa musuh yang lebih besar kini mengawasi gerak-geriknya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Bayang-Bayang di Balik Kemenangan

Ruang rapat Medika Sentral masih menyisakan aroma kopi dingin dan sisa-sisa kepanikan pasca-pembatalan tender. Di ujung meja mahoni, Arjuna duduk tenang, kontras dengan para direksi yang menatapnya dengan campuran benci dan gentar.

"Keputusan ini tidak bisa diterima, Maya!" Pak Hardi, direktur keuangan, menggebrak meja. "Menunjuk mantan pesuruh sebagai konsultan strategis? Ini penghinaan bagi kredibilitas rumah sakit!"

Maya berdiri, matanya tajam. "Kredibilitas kita hancur saat kalian membiarkan Bramantyo memanipulasi tender. Arjuna menyelamatkan aset ini. Keputusan saya mutlak. Siapa pun yang menolak, silakan letakkan surat pengunduran diri sekarang."

Arjuna tidak membuang waktu. Ia menggeser map kulit berisi salinan dokumen server pribadi Bramantyo ke depan Pak Hardi. "Pak Hardi, mungkin Anda lebih tertarik menjelaskan aliran dana ke rekening luar negeri ini daripada memperdebatkan posisi saya."

Wajah Hardi memucat. Dokumen itu adalah bukti nyata penjualan akses rumah sakit ke kartel Bramantyo. Satu per satu direksi menunduk, menyadari takhta lama mereka telah runtuh.

Namun, kemenangan di ruang rapat hanyalah awal. Di koridor lantai dasar, ancaman baru bermanifestasi. Dua pria berjaket kulit sedang memindahkan kotak obat vital ke truk tanpa logo. Sabotase operasional.

"Berhenti," suara Arjuna memiliki gravitasi yang membuat kedua pria itu membeku.

Salah satu pria, dengan bekas luka di pelipis, tertawa. "Jangan ikut campur, pesuruh. Ini urusan internal."

Arjuna tidak berdebat. Dengan gerakan presisi, ia memutar pergelangan tangan pria itu hingga berlutut, lalu merampas kunci gudang. "Siapa yang membayar kalian?"

"Bramantyo!" teriak pria itu. "Dia bilang rumah sakit ini tidak boleh beroperasi jika dia tidak memilikinya!"

Arjuna melepaskan pria itu setelah memastikan identitas penyandang dana. Ia sadar, Bramantyo tidak lagi bermain di ruang lelang; ia mencoba menghancurkan rumah sakit dari dalam.

Sore harinya, di ruang arsip, Arjuna dan Maya menelusuri catatan sepuluh tahun lalu. Maya menyodorkan dokumen audit yang membuktikan bahwa pengkhianatan terhadap ayahnya memiliki pola yang sama dengan kehancuran karier Arjuna. Nama Bramantyo tertera di sana, namun di bawahnya terdapat inisial yang selama ini Arjuna cari—sosok arsitek di balik kehancurannya.

Bip.

Ponsel Arjuna bergetar. Pesan terenkripsi muncul: 'Mereka tahu kau kembali.'

Arjuna menatap Maya yang masih terpaku pada dokumen. Ia menyadari perang ini baru dimulai. Dunia Arjuna kembali ke titik nol, namun kali ini, ia adalah predator yang mengintai dari balik bayang-bayang.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced