Novel

Chapter 3: Palu yang Mengguncang Kota

Arjuna menggagalkan upaya Bramantyo memenangkan tender rumah sakit dengan memaparkan bukti suap dan manipulasi data di depan publik. Kemenangan ini mengembalikan kendali aset kepada Maya, namun Arjuna menerima peringatan misterius yang menandakan bahwa musuh yang lebih kuat telah menyadari kepulangannya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Palu yang Mengguncang Kota

Pukul 07.55. Ruang lelang Hotel Grand Plaza bukan sekadar ruangan; ini adalah altar tempat nasib Medika Sentral akan diputuskan. Bau karpet mahal dan parfum desainer yang menyesakkan udara tidak mampu menutupi aroma kepanikan yang samar. Di barisan depan, Bramantyo duduk dengan punggung tegak, jemarinya mengetuk sandaran kursi dengan ritme yang angkuh. Ia sudah memenangkan tender ini sebelum lelang dimulai.

Di sudut ruangan yang remang, Arjuna berdiri. Setelan jasnya sederhana, namun ia mengenakan ketenangan yang membuat orang-orang di sekitarnya menjaga jarak. Ia tidak perlu berteriak untuk mendominasi ruang. Fokusnya tertuju pada Haryo, Direktur Keuangan yang duduk di samping Bramantyo. Haryo tampak seperti orang yang sedang menunggu vonis mati; keringat dingin membasahi pelipisnya.

"Lima puluh miliar rupiah sebagai harga pembuka," suara juru lelang bergema, memecah keheningan yang tegang. "Ada yang ingin menawar lebih tinggi?"

Bramantyo mengangkat tangan kanannya dengan santai. "Lima puluh lima miliar. Saya rasa tidak perlu membuang waktu. Reputasi saya di kota ini adalah jaminan kualitas."

Gelak tawa kecil terdengar dari para kolega Bramantyo. Mereka adalah sekutu yang sudah disuap untuk memastikan tidak ada penawar lain yang berani bersuara. Maya, yang duduk di kursi direksi, tampak pucat. Ia meremas map dokumen di pangkuannya, buku-buku jarinya memutih. Ia tahu, begitu palu diketuk, rumah sakit warisan keluarganya akan jatuh ke tangan kartel Bramantyo.

"Lima puluh lima miliar sekali..." juru lelang mulai menghitung.

Arjuna melangkah maju. Langkahnya tidak terburu-buru, namun setiap ketukan sepatunya di lantai marmer terdengar seperti lonceng peringatan. Ia tidak berhenti sampai ia berdiri tepat di depan podium.

"Tunggu," suara Arjuna rendah, namun memotong kebisingan ruangan dengan presisi pisau bedah. "Bagaimana jika penawaran itu dibangun di atas fondasi suap dan dokumen palsu?"

Bramantyo bangkit berdiri, wajahnya merah padam. "Siapa kau? Keamanan! Seret pesuruh ini keluar!"

Arjuna tidak bergeming. Ia mengeluarkan ponselnya dan menekan satu tombol. Layar raksasa di belakang podium seketika berubah. Bukti transfer ilegal dari rekening Bramantyo ke Haryo terpampang jelas, diikuti oleh salinan dokumen tender asli yang telah dimanipulasi. Seluruh ruangan mendadak sunyi. Para investor yang tadi tertawa kini saling berbisik dengan wajah tegang.

Haryo, yang tidak tahan lagi dengan tekanan, jatuh terduduk di kursinya. "Itu... itu benar. Bramantyo memaksa saya memalsukan data tender!"

Bramantyo mencoba menyangkal, namun bukti digital itu terlalu telak. Kredibilitasnya hancur dalam hitungan detik. Para investor yang merasa tertipu mulai berdiri, menuntut penjelasan dan menarik kembali dukungan mereka. Palu lelang diketuk dengan tergesa-gesa oleh panitia yang ketakutan, menyatakan tender dibatalkan dan kendali penuh atas Medika Sentral dikembalikan kepada Maya.

Di koridor luar, kekacauan pecah. Bramantyo dikepung oleh media dan tim hukum yang kini berbalik menyerangnya. Arjuna berdiri di bayang-bayang, mematikan ponselnya. Sebuah notifikasi pesan masuk: 'Mereka tahu kau kembali. Jangan mengira ini akhir dari permainan.'

Maya mendekat, napasnya tersengal. Tatapannya penuh keterkejutan saat menatap Arjuna. "Arjuna... siapa kau sebenarnya? Bukti-bukti ini... ini bukan pekerjaan orang biasa."

Arjuna tidak menoleh. Ia menatap ke arah kerumunan yang semakin riuh, menyadari bahwa kemenangan ini hanyalah pion kecil dalam permainan kelas atas yang jauh lebih kejam. Ia melangkah keluar menuju jalanan kota, meninggalkan Maya dalam kebingungan sementara ia bersiap menghadapi perang yang lebih besar.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced