Novel

Chapter 2: Perangkap di Balik Harga Penawaran

Arjuna menganalisis bukti kecurangan tender milik Bramantyo dan menemukan celah hukum yang fatal. Ia mengintervensi upaya intimidasi fisik terhadap Maya dan menekan pengkhianat di jajaran direksi untuk memberikan kesaksian. Bramantyo, yang mulai paranoid, mempercepat jadwal lelang menjadi besok pagi pukul 08.00, tanpa menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam jebakan Arjuna.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Perangkap di Balik Harga Penawaran

Cahaya neon di kafe pinggiran kota itu berkedip, memantul di atas layar laptop usang yang menampilkan dokumen tender Rumah Sakit Medika Utama. Arjuna menatap barisan angka yang dimanipulasi dengan dingin. Kunci akses yang ia curi dari saku jas Bramantyo di koridor VIP tadi siang bukan sekadar akses masuk; itu adalah bukti kejahatan terorganisir.

Bramantyo tidak hanya bermain kotor. Ia telah menyisipkan klausul akuisisi paksa yang memungkinkan perusahaannya menyita seluruh aset rumah sakit jika target laba gagal tercapai dalam satu kuartal. Sebuah jebakan yang dirancang untuk melumpuhkan Maya, membuat rumah sakit itu jatuh ke tangan kartel bisnis Bramantyo dalam hitungan bulan.

"Licik, tapi ceroboh," gumam Arjuna. Ia menemukan celah fatal: penandatanganan tender tersebut mewajibkan verifikasi ganda dari dewan direksi yang sedang bersengketa. Jika Arjuna bisa membuktikan Bramantyo menyuap salah satu anggota dewan untuk memalsukan tanda tangan, kontrak itu bukan hanya batal, tetapi akan menyeret Bramantyo ke pengadilan. Ia menutup laptop. Senjata itu sudah di tangan.

Namun, di kantor direksi, situasi memanas. Tiga pria berjaket kulit mengobrak-abrik lemari arsip Maya.

"Cari sampai ketemu, Nona Maya. Bos Bramantyo tidak suka menunggu," ujar salah satu pria, menyapu tumpukan dokumen ke lantai. Maya terpojok di dinding, wajahnya pucat namun matanya menyiratkan perlawanan.

"Kalian tidak punya hak untuk melakukan ini!" teriak Maya.

"Hukum di kota ini adalah siapa yang memegang kendali tender," sahut pria itu sambil mendekat.

Arjuna melangkah masuk, seragam pesuruhnya tampak kontras dengan aura dominasi yang ia pancarkan. Tanpa bicara, ia berdiri tepat di antara Maya dan para preman.

"Waktunya sudah habis," suara Arjuna tenang namun menggetarkan ruangan. Ia tidak berkelahi; ia hanya menatap mata pria itu dengan intensitas yang membuat sang preman mundur selangkah, merasa terintimidasi oleh sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Sebelum mereka sempat bereaksi, Arjuna mengarahkan mereka ke pintu keluar dengan gestur tangan yang absolut. Maya terpaku, menatap punggung pesuruh yang selama ini ia remehkan.

Arjuna tidak berhenti. Ia melacak Direktur Haryo, pengkhianat yang bekerja untuk Bramantyo, di ruang tunggu VIP. Haryo sedang berbisik di telepon, memerintahkan penghancuran berkas tender asli. Arjuna melangkah mendekat dan meletakkan tabletnya di meja di depan Haryo. Layar itu menampilkan bukti transfer dana ilegal dari perusahaan cangkang Bramantyo ke rekening pribadi Haryo.

Wajah Haryo memucat. "Kau… apa yang kau lakukan di sini?"

"Pilih, Haryo. Mundur dari jabatan dan berikan kesaksian besok, atau bukti ini sampai ke tangan kepolisian dalam sepuluh menit," ujar Arjuna dingin. Haryo gemetar, menyadari bahwa ia berhadapan dengan seseorang yang jauh lebih berbahaya daripada pesuruh biasa.

Di kantornya yang mewah, Bramantyo merasa ada yang salah. Paranoia menyelimutinya setelah kegagalan anak buahnya. Ia menekan tombol interkom dengan tangan gemetar. "Batalkan semua agenda. Hubungi komite lelang sekarang. Majukan jadwal tender menjadi besok pukul 08.00 pagi. Aku ingin semuanya selesai sebelum matahari benar-benar naik."

Ia mematikan sambungan, napasnya memburu. Ia tidak tahu bahwa dengan mempercepat jadwal, ia justru sedang melangkah masuk ke dalam jebakan yang telah Arjuna susun dengan presisi mematikan. Besok pagi, di ruang lelang, segalanya akan berakhir.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced