Novel

Chapter 1: Bau Disinfektan dan Penghinaan di Koridor VIP

Arjuna, yang menyamar sebagai pesuruh, dipermalukan oleh Bramantyo di koridor VIP rumah sakit. Di tengah penghinaan tersebut, Arjuna berhasil mencuri kunci akses Bramantyo, menyusup ke ruang arsip, dan mendapatkan bukti kecurangan tender. Ia meninggalkan rumah sakit tepat saat Bramantyo mengumumkan percepatan jadwal lelang menjadi besok pagi, memberikan Arjuna celah sempit untuk membalikkan keadaan.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Bau Disinfektan dan Penghinaan di Koridor VIP

Bau disinfektan tajam menusuk hidung, bercampur dengan aroma parfum mahal yang menyesakkan di koridor lantai sepuluh Rumah Sakit Medika Utama. Arjuna menunduk, mendorong alat pel dengan ritme monoton. Seragam abu-abu lusuhnya kontras dengan lantai marmer yang mengilap, simbol dari statusnya sebagai pesuruh rendahan yang tak terlihat oleh mata para elit. Di ujung lorong, suara langkah kaki sepatu pantofel yang tegas memecah keheningan. Bramantyo, pengusaha yang namanya selalu menghiasi halaman depan surat kabar bisnis, berjalan angkuh dikelilingi oleh para pengacara.

Matanya melirik Arjuna, lalu tanpa peringatan, ia dengan sengaja menyenggol bahu Arjuna dan menumpahkan sisa kopi hitam dari gelas kertasnya tepat ke sepatu pria itu. "Lihat ke mana kau berjalan, Sampah," suara Bramantyo dingin, penuh dengan nada merendahkan yang terukur. "Tempat ini untuk orang-orang yang memiliki nilai, bukan untuk orang yang bahkan tidak mampu membeli harga dirinya sendiri."

Para pengacara di belakangnya tertawa kecil—sebuah tawa yang dipaksakan untuk menyenangkan sang majikan. Arjuna tidak membalas. Ia hanya berhenti mengepel, membiarkan cairan hitam itu meresap ke serat kain sepatunya. Ketenangan Arjuna justru membuat Bramantyo merasa terganggu. Ia mendekat, mencondongkan tubuh dengan seringai predator. "Aku tahu kau masih berharap bisa kembali ke dunia lama, Arjuna. Tapi ingat, di kota ini, kau hanyalah debu di bawah sepatuku." Bramantyo pergi sambil tertawa, meninggalkan Arjuna yang memungut serpihan gelas, namun matanya terkunci pada kunci akses yang terjatuh dari saku Bramantyo saat ia menyenggol Arjuna tadi.

Arjuna bergerak cepat, menyelinap ke ruang arsip yang terletak di lantai dasar. Di sini, udara terasa basi oleh debu kertas dan keputusasaan. Dengan gerakan efisien—sisa dari disiplin militer yang tak pernah padam—ia memindai deretan lemari besi. Ia berhenti di depan lemari berlabel 'Tender Pengadaan Alat Medis 2024'. Kunci mekanisnya memang terlihat rumit, namun bagi Arjuna, struktur pengunci ini hanyalah teka-teki dasar. Dalam hitungan detik, bunyi klik halus terdengar. Pintu lemari terbuka, memperlihatkan tumpukan dokumen yang seharusnya menjadi rahasia besar bagi Bramantyo.

Matanya menangkap angka-angka yang janggal; mark-up harga hingga tiga ratus persen di atas standar pasar. Ini adalah perampokan sistematis. Tiba-tiba, derit pintu terbuka dengan kasar. Maya, direktur rumah sakit, masuk dengan wajah pucat pasi, tampak putus asa di tengah tekanan utang. Ia tidak menyadari kehadiran Arjuna yang bersembunyi di balik rak. Arjuna sengaja menjatuhkan sebuah berkas di lantai agar Maya menemukannya. Saat Maya membeku membaca isi dokumen itu, Arjuna menyelinap keluar, membawa salinan digital bukti tersebut di ponselnya.

Arjuna melangkah keluar menuju lobi utama. Ia hampir mencapai pintu keluar ketika suara tawa angkuh Bramantyo kembali memantul di dinding marmer. Bramantyo berdiri di depan lift VIP, dikelilingi oleh sekumpulan pengacara. "Pastikan semua dokumen akuisisi siap. Katakan pada Maya, aku memajukan jadwal lelang menjadi besok pagi. Jam delapan tepat. Aku ingin melihat wajahnya saat rumah sakit ini jatuh ke tanganku."

Para pengacara tertawa kecil, tidak menyadari bahwa di depan mereka, 'sampah' yang mereka rendahkan baru saja memegang kunci kehancuran mereka. Arjuna menggenggam berkas tender yang seharusnya tidak ada di tangannya, sementara Bramantyo tertawa di ujung koridor, tidak menyadari bahwa waktu yang ia percepat justru menjadi hitung mundur bagi kejatuhannya sendiri.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced