Novel

Chapter 12: Dewa Perang yang Sesungguhnya

Arjuna mengukuhkan dominasinya dengan menyita seluruh aset Bramantyo, menyerahkan kendali rumah sakit kepada Maya, dan bersiap menghadapi ancaman baru dari organisasi bayangan 'The Syndicate' yang mulai bergerak mengisi kekosongan kekuasaan.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Dewa Perang yang Sesungguhnya

Ruang lelang Plaza Kota masih menyisakan aroma parfum mahal yang bercampur dengan bau keringat dingin para investor yang baru saja kehilangan pijakan. Di tengah ruangan yang mendadak senyap, Bramantyo—pria yang kemarin masih memegang kendali atas tender rumah sakit—kini tampak seperti kerangka tanpa nyawa. Jas mahalnya kusut, dan tangannya bergetar hebat saat petugas keamanan menyeretnya keluar dari aula utama. Arjuna berdiri di dekat podium, tangannya terlipat di depan dada. Ia tidak membuang waktu dengan teriakan kemenangan. Baginya, kejatuhan Bramantyo hanyalah pembersihan debu di lantai yang harus ia pijak untuk melangkah lebih jauh.

"Lepaskan dia," suara Arjuna memecah keheningan, dingin dan mutlak. Petugas keamanan berhenti sejenak, melirik ke arah atasan mereka yang kini hanya bisa menunduk tak berdaya. "Biar dia melihat ini sebelum dia benar-benar menghilang dari kota ini." Arjuna melemparkan sebuah map tipis ke atas meja lelang di hadapan Bramantyo. Itu adalah dokumen penyitaan aset yang ditandatangani oleh otoritas tertinggi kota. Di dalamnya tertulis jelas bahwa setiap jengkal properti, saham, dan rekening Bramantyo kini berpindah tangan ke entitas anonim yang dikendalikan Arjuna. Bramantyo membelalak, napasnya tersengal saat menyadari bahwa bukan hanya hartanya yang hilang, tapi identitasnya sebagai penguasa kartel telah dicabut secara legal.

Bau disinfektan yang tajam di koridor rumah sakit kini tak lagi menusuk saraf, melainkan terasa seperti aroma pembersihan yang tuntas. Arjuna berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke arah cakrawala kota yang mulai gelap. Di belakangnya, langkah kaki Maya terdengar ragu, berhenti tepat beberapa meter di belakangnya. Tidak ada lagi ketegangan yang biasanya membungkus pertemuan mereka; yang tersisa hanyalah keheningan yang sarat akan perubahan status. "Bramantyo sudah habis," suara Maya memecah kesunyian, lebih sebagai pernyataan fakta daripada pertanyaan. "Seluruh asetnya disita, dan namanya kini menjadi bahan olok-olok di setiap rapat direksi kota. Mereka yang dulu menjilatnya kini berbalik membuang muka."

Arjuna berbalik, menatap Maya yang tampak lebih tenang, meski matanya masih menyimpan sisa kekhawatiran yang mendalam. Ia mengeluarkan sebuah map kulit tipis dan meletakkannya di meja perawat berbahan marmer di samping mereka. Di dalamnya terdapat dokumen legalitas yang secara resmi memindahkan kendali yayasan rumah sakit dari cengkeraman kartel ke tangan sebuah entitas independen yang ia lindungi. "Rumah sakit ini milikmu sekarang, Maya. Secara penuh," ujar Arjuna datar. Ia tidak menuntut rasa terima kasih. Baginya, ini adalah bagian dari strategi untuk menata ulang hierarki kota yang selama ini membusuk. Maya menatap dokumen itu, lalu beralih menatap Arjuna dengan pengakuan yang baru.

Cahaya lampu neon di ruang kerja rahasia Arjuna berpendar dingin, memantulkan bayangan tajam pada tumpukan dokumen aset yang baru saja disita dari Bramantyo. Bau disinfektan dari rumah sakit yang sempat melekat di pakaiannya kini berganti dengan aroma kertas tua dan mesin server yang menderu pelan. Di layar monitor utama, sebuah pesan terenkripsi berkedip—pemberitahuan dari Rian, agen gandanya di dalam lingkaran musuh. Arjuna membaca pesan itu sekali, matanya menyipit. Rian melaporkan bahwa Bramantyo hanyalah pion yang dikorbankan. Di balik kejatuhan sang kartel, ada entitas yang lebih besar: The Syndicate. Mereka tidak peduli pada Bramantyo yang bangkrut; mereka hanya peduli pada kekosongan kekuasaan yang kini ditinggalkan di sektor tender kota.

"Pion jatuh, pemain sebenarnya baru mulai bergerak," gumam Arjuna. Suaranya datar, namun mengandung otoritas yang membuat keheningan ruangan terasa menyesakkan. Ia mengetik balasan singkat: Tetap di posisi. Gali hierarki mereka sampai ke akarnya. Arjuna tahu, kemenangan hari ini hanyalah pembersihan permukaan. Dengan Bramantyo yang kini tidak lebih dari gelandangan sosial, akses ke aset properti utama telah berpindah tangan ke bawah kendalinya. Namun, Syndicate memiliki cara kerja yang jauh lebih sistematis. Mereka tidak bermain dengan ancaman fisik yang kasar, melainkan melalui manipulasi kebijakan dan infiltrasi birokrasi yang jauh lebih licin.

Lampu-lampu kota berkelap-kelip di bawah sana, tampak seperti hamparan permata yang dingin dari ketinggian lantai empat puluh gedung pusat investasi yang kini menjadi milik Arjuna. Bau disinfektan rumah sakit yang sebelumnya menyesakkan dada telah berganti dengan aroma kayu cendana dan udara malam yang tipis. Arjuna berdiri di balik kaca patri balkon, tangannya terlipat di depan dada. Ia tidak lagi mengenakan seragam pesuruh yang lusuh, melainkan setelan jas yang dirancang dengan presisi yang sama tajamnya dengan tatapannya. Di atas meja marmer di belakangnya, dokumen penyitaan aset Bramantyo tergeletak rapi, sebuah bukti bisu bahwa hierarki kota telah dijungkirbalikkan.

Namun, kemenangan itu terasa hambar di lidah. Arjuna tahu, di balik bayang-bayang Bramantyo, ada tangan yang lebih besar—The Syndicate. Kartel itu bukan sekadar pengusaha yang serakah; mereka adalah arsitek kekacauan yang sebenarnya. Sebuah getaran halus dari ponsel di sakunya memecah kesunyian. Layar menunjukkan pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal, sebuah tantangan yang datang tepat setelah ia merasa telah mengamankan fondasi kota. “Kejatuhan Bramantyo hanyalah pembukaan. Selamat datang di permainan yang sebenarnya, Dewa Perang. Kami telah menunggumu.” Arjuna menatap cakrawala kota, menyadari bahwa perang yang sebenarnya baru saja dimulai.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced