Pelarian dari Puncak
Gerbang Sektor 7 bergetar, memancarkan dengung frekuensi rendah yang membuat gigi Kaelen ngilu. Di balik punggungnya, arsitektur Akademi yang megah kini tampak seperti sangkar raksasa yang mulai retak. Di depan mereka, barikade Penegak telah terpasang rapat—deretan mech kelas menengah dengan senjata anti-huru-hara yang diarahkan tepat ke dada Kaelen.
"Kaelen, mereka tidak akan membiarkan kita lewat," bisik Aris. Suara pria tua itu gemetar, namun tangannya mencengkeram modul kristal yang berpendar biru pucat. "Data konspirasi itu memicu kerusuhan di distrik bawah. Mereka menganggap kita ancaman eksistensial."
Kaelen merasakan denyut nyeri hebat di pangkal lehernya, sisa dari teknik overclock yang ia gunakan saat menghancurkan Vane. Sarafnya terbakar setiap kali ia mencoba fokus. Ia tidak punya mech; Vulture telah menjadi rongsokan. Namun, ia memiliki insting.
"Aku tidak butuh mech untuk membuka gerbang itu," sahut Kaelen dingin. Ia melangkah maju, mengabaikan laser merah yang menari di seragamnya.
"Berhenti!" teriak kapten Penegak.
Kaelen menyambar modul dari tangan Aris dan menancapkannya ke terminal darurat. Ledakan elektromagnetik seketika memancar, melumpuhkan senjata Penegak di dekat gerbang. Tanpa menunggu, ia menarik Aris masuk ke dalam labirin pipa Sektor Utara.
Bau ozon dan kabel terbakar menyengat tajam. Di dalam labirin mesin pendingin yang tidak stabil, Kaelen tertatih-tatih. Tangan kanannya mati rasa, terkulai kaku—harga permanen dari teknik overclock. Suara derap kaki mekanis drone pengejar menggema di dinding logam.
"Kenapa kau tahu jalan ini, Aris?" tanya Kaelen, napasnya memburu.
Aris tidak menoleh, jemarinya lincah memutar kunci jaringan. "Karena aku yang merancang sistem ini sebelum mereka mengubahnya menjadi penjara. Jalur ini tidak ada di peta publik."
Mereka berhasil menjebak drone pengejar di area pipa uap bertekanan tinggi. Kaelen mengorbankan sisa energi modul prototipe terakhir untuk memicu kebocoran uap, menghancurkan sensor drone dalam sekejap.
Di sebuah gudang suku cadang terlarang, Kaelen membanting pintu. Ia mencampakkan kotak data kuno ke atas meja besi. Hologram cetak biru yang kompleks memproyeksikan skema Frame Generasi Berikutnya.
"Ini yang kau simpan?" Kaelen menunjuk skema tersebut dengan jemari gemetar. "Ini bukan sekadar arsip. Ini teknologi yang bisa menembus batasan sistem peringkat Akademi yang busuk itu."
Aris menyandarkan punggungnya ke rak, wajahnya pucat. "Itu adalah kunci untuk meruntuhkan hierarki mereka. Aku membiarkanmu menderita utang, membiarkanmu bertarung dengan Vulture yang nyaris hancur, agar kau menjadi pilot yang cukup gila untuk menguji batas teknik ini. Akademi tidak akan memberikan akses ini kepada orang seperti kita. Mereka ingin kita tetap menjadi pion."
Kaelen menatap skema itu. Amarahnya berubah menjadi tekad yang dingin. Ia bukan lagi sekadar buronan; ia adalah katalisator.
Mereka mencapai batas luar zona aman. Di hadapan mereka, ribuan pilot kelas bawah yang telah melihat siaran konspirasi Kaelen berkumpul, menunggu pemimpin untuk bangkit dari reruntuhan sistem. Kaelen berdiri di hadapan massa, memegang modul prototipe yang tersisa, menatap cakrawala. Tangga peringkat Akademi hanyalah permulaan. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.