Runtuhnya Konspirasi
Asap sisa pembakaran kabel menyengat hidung Kaelen saat ia merangkak keluar dari kokpit Vulture yang hancur. Di sekelilingnya, Arena Utama bukan lagi panggung kejayaan, melainkan kuburan logam. Saraf tulang belakangnya berdenyut hebat, mengirimkan sinyal nyeri yang tajam setiap kali ia bergerak—harga yang harus dibayar untuk overclocking paksa yang baru saja ia lakukan.
Di atas, layar raksasa Akademi yang biasanya memamerkan peringkat kadet elit kini menampilkan deretan data mentah: catatan transaksi suap, daftar aset ilegal, dan bukti manipulasi sistem peringkat yang selama ini menindas pilot kelas bawah. Riuh rendah penonton berubah menjadi jeritan kepanikan. Vane, yang terkapar di sisi lain arena, menatap layar dengan wajah pucat pasi. Reputasinya sebagai Enforcer tak tersentuh telah hancur dalam hitungan detik.
"Kaelen!" Suara Aris memecah kesunyian melalui transmisi darurat di telinganya. "Sistem keamanan pusat sedang melakukan reset paksa. Mereka melacak asal sinyal itu. Kau harus keluar dari sektor ini sebelum mereka mengunci seluruh akses!"
Kaelen tidak membuang waktu. Ia menyeret kakinya yang terasa berat, mengabaikan rasa panas di sarafnya. Ia memanfaatkan kekacauan di tribun untuk menyelinap ke lorong pemeliharaan. Alarm merah mulai meraung, memecah kesunyian menara yang dingin. Di dinding koridor, wajahnya kini terpampang sebagai buronan tingkat tinggi. Data yang ia unggah telah merobek topeng kesucian Akademi, memicu kekacauan massal di antara para sponsor elit yang kini menyadari investasi mereka hanyalah sebuah penipuan.
Ia mendobrak pintu ruang arsip, tempat Aris sudah menunggu dengan tas berisi drive optik. "Kau melakukan hal gila, Kaelen," desis Aris dengan tangan gemetar. "Seluruh menara dalam mode karantina. Mereka tidak akan membiarkanmu keluar hidup-hidup."
"Aku tidak punya pilihan," jawab Kaelen, napasnya tersengal. Ia menerima modul kristal yang disodorkan Aris—kunci untuk mengendalikan Jaringan Inti Akademi. "Ini bukan sekadar bukti. Ini adalah kebenaran tentang apa yang terjadi pada ayahku."
Aris menatapnya dengan mata yang meredup. "Ini adalah kunci untuk mematikan sistem penindasan mereka. Tapi ingat, begitu kau menggunakannya, kau bukan lagi sekadar pilot utang. Kau adalah musuh nomor satu mereka."
Sirine meraung semakin melengking saat mereka mencapai gerbang zona aman. Kaelen tersandung, bahunya menghantam dinding koridor. Rasa sakit dari kerusakan saraf permanen di tulang belakangnya menjalar seperti aliran listrik statis yang membakar. Di depan mereka, gerbang baja setinggi lima meter menghalangi jalan menuju kebebasan. Lampu indikator di atasnya berkedip merah—tanda penguncian total.
Di balik jeruji, bayangan para Penegak Akademi mulai muncul, siluet mereka tajam dan intimidatif, senapan elektromagnetik sudah terangkat, membidik tepat ke arah dada Kaelen. Mereka terjebak.
Kaelen menunduk menatap kotak data kuno yang ia dekap di dadanya. Perangkat itu terasa sangat panas, membakar telapak tangannya. Di layar HUD yang mulai meredup, ia melihat notifikasi: Sistem Peringkat: Status Buronan - Prioritas Utama.
"Tidak ada lagi kredit, tidak ada lagi mech," bisik Kaelen. Ia memicu kelebihan beban pada kotak data kuno, membiarkan energi mentah dari prototipe itu meledak dalam denyut elektromagnetik yang melumpuhkan sistem keamanan gerbang. Gerbang baja itu berderit terbuka, namun Kaelen terhuyung jatuh ke lantai, menyadari bahwa ia kini benar-benar sendirian di luar gerbang, dengan sistem peringkat yang sepenuhnya runtuh di belakangnya.