Novel

Chapter 9: Duel di Puncak Menara

Kaelen menggunakan teknik overclock terlarang dan modul prototipe ayahnya untuk melumpuhkan Vane dalam duel publik. Meski Vulture hancur total dan Kaelen menderita kerusakan saraf permanen, ia berhasil mengunggah data konspirasi Akademi ke layar publik, memicu kekacauan besar di menara.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Duel di Puncak Menara

Layar diagnostik di hanggar Sektor Bawah berkedip merah, memancarkan cahaya yang memantul tajam pada pelat baja Vulture yang penuh goresan. Integritas struktural mech itu terkunci di angka 32 persen. Di dalam kokpit yang sempit, aroma ozon dan kabel terbakar menusuk indra penciuman Kaelen—bau khas dari mesin yang dipaksa melampaui batas desain pabriknya. Setiap kali ia menggerakkan tuas, denyut nyeri menghantam pangkal tengkoraknya, sisa dari sinkronisasi saraf yang dipaksakan semalam.

Kaelen menatap modul prototipe curian milik ayahnya. Begitu ia mengunci modul itu ke slot inti daya, dengungan rendah yang tidak wajar merambat melalui sasis Vulture, membuat seluruh kerangka mech bergetar hebat.

"Kaelen, hentikan," suara Aris terdengar serak dari balik konsol kontrol. Pria tua itu berdiri di dekat pintu hanggar, wajahnya pucat pasi diterangi data teknis terlarang di layar. "Modul itu bukan hanya sumber energi. Itu adalah kunci yang bisa mengungkap kebusukan sistem Akademi. Jika kau memaksanya sekarang, sarafmu tidak akan bertahan. Kau akan lumpuh sebelum sempat menarik pelatuk."

Kaelen tidak menoleh. Ia menatap HUD yang kini berubah menjadi merah pekat, mengabaikan protokol keselamatan standar. "Jika aku tidak melakukan ini, kebenaran itu akan terkubur selamanya bersama utangku," jawabnya dingin. Ia menarik napas dalam, membiarkan denyut energi prototipe yang tidak stabil mengalir melalui tulang belakangnya.

*

Arena Utama Akademi dipenuhi sorak-sorai penonton yang haus akan tontonan. Di hadapan Kaelen, frame elit milik Vane berdiri tegak, sebuah mahakarya teknologi tanpa cacat.

"Kaelen, pilot kelas bawah dengan ambisi yang tidak tahu tempat," suara Vane bergema melalui kanal komunikasi publik. "Hari ini, aku akan menunjukkan perbedaan antara rongsokan dan inovasi."

Tanpa menunggu, Vane melesat. Frame elitnya bergerak dengan presisi algoritma yang sempurna, melepaskan rentetan tembakan plasma. Vulture mengerang; persendian hidroliknya menjerit. Kaelen menahan nyeri yang menusuk di kepalanya. Ia sengaja memperlambat respons Vulture, membiarkan bahu kanan mech-nya menerima hantaman telak dari meriam Vane. Logam beradu dengan suara memekakkan telinga, menciptakan celah di pertahanan lawan.

"Sekarang," bisik Kaelen.

Cahaya biru elektrik merembes dari retakan pelat dada Vulture. Kaelen merasakan sensasi dingin yang tajam menjalar di sepanjang tulang belakangnya—tanda kerusakan saraf permanen yang mulai menggerogoti tubuhnya. Ia menarik tuas aktivasi teknik terlarang. Ledakan energi prototipe menyelimuti Vulture dalam aura biru yang tidak stabil. Vane tersentak saat sistem sensornya terganggu oleh gelombang interferensi.

"Apa ini?" teriak Vane, suaranya diwarnai kepanikan. Ia menyadari Kaelen menggunakan teknologi yang seharusnya terkubur bersama ayahnya.

Integritas Vulture merosot ke angka 12%. Kaelen memfokuskan sisa kesadarannya pada modul data kuno. Dengan satu tarikan napas pendek yang menyakitkan, ia menekan tuas overclock hingga melewati batas merah. Vulture menerjang, mengunci lengan kanan frame Vane dalam posisi yang tidak memungkinkan untuk melepaskan diri.

Ledakan dahsyat terjadi saat inti daya Vulture dipaksakan hingga titik nol. Kaelen merasakan dunianya meredup saat ia menekan tombol terakhir—tombol unggah data. Di tengah kepulan asap arena dan kehancuran total Vulture, layar menara utama yang raksasa tiba-tiba berubah. Data konspirasi Akademi yang selama ini disembunyikan Vane terpampang jelas di hadapan ribuan penonton. Kekacauan meledak di tribun saat kebenaran tentang korupsi sistem tersebar ke seluruh penjuru menara, sementara Kaelen terkulai lemas di kokpit yang hancur, menatap layar yang kini menampilkan kehancuran reputasi para penguasa Akademi.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced