Beban di Pundak Pilot
Layar diagnostik Vulture berkedip merah, memancarkan cahaya yang menyakitkan di bengkel yang lembap. Integritas struktural: 32%. Angka itu bukan sekadar statistik; itu adalah vonis mati. Kaelen menekan konektor mikro ke port utama, namun tangannya bergetar hebat. Bukan karena dingin, melainkan karena sisa-sisa arus listrik yang masih menjalar di sarafnya setelah sesi overclocking terakhir.
"Stabil, Kaelen. Jangan biarkan tremor itu merusak sirkuitnya," suara Aris terdengar berat dari balik tumpukan kabel tembaga. Pria tua itu meletakkan sebuah kotak data kuno di atas meja. Permukaannya teroksidasi, namun memancarkan dengungan frekuensi rendah yang membuat gigi Kaelen ngilu.
Kaelen menarik napas panjang, mencoba mengabaikan rasa panas yang menjalar dari tulang belakangnya. "Vane tidak akan memberiku kesempatan kedua besok. Jika aku tidak bisa menstabilkan output energi, Vulture akan hancur sebelum ronde pertama berakhir."
Aris menatap Kaelen dengan sorot mata yang menyembunyikan beban sejarah. "Vulture bukan sekadar rongsokan. Ini adalah wadah prototipe teknologi yang dicuri Vane dari ayahmu. Sistem resonansi frekuensi di dalamnya bisa meruntuhkan jaringan sensor Akademi, tapi frame ini tidak dirancang untuk menahan beban tersebut. Jika kau memaksanya, kau tidak hanya membakar mech-mu, kau membakar dirimu sendiri."
Kaelen tertegun. "Kenapa baru sekarang?"
"Karena kebenaran ini adalah hukuman mati bagi siapa pun yang memegangnya," jawab Aris dingin. Ia menyambungkan kabel data dari kotak kuno ke port cadangan Vulture. "Ini akan membuka akses ke energi cadangan. Gunakan hanya jika kau siap kehilangan segalanya."
Belum sempat Kaelen menjawab, dentuman sepatu bot militer mengguncang lantai logam. Vane berdiri di ambang pintu, seragamnya tampak terlalu bersih untuk tempat kumuh ini. "Sponsor sudah melihat data pertempuranmu, Kaelen. Mereka tidak peduli pada insting. Mereka peduli pada efisiensi. Dan saat ini, kau hanyalah utang yang berjalan."
Kaelen menyembunyikan tremor tangannya di balik meja. "Kau takut, Vane. Kau datang karena kau tahu kotak data ini bisa mengungkap siapa yang sebenarnya mencuri teknologi itu dari ayahku."
Senyum Vane memudar, digantikan tatapan dingin yang mematikan. Ia berbalik pergi tanpa sepatah kata, meninggalkan ancaman yang menggantung di udara. Duel besok bukan lagi sekadar perebutan posisi, melainkan pertarungan hidup mati.
Kaelen kembali ke kokpit. Begitu tautan saraf aktif, rasa sakit yang tajam menghantam otaknya seperti tusukan ribuan jarum panas. Layar peringatan merah menyala: Ketidakstabilan Neuro-Link terdeteksi. Risiko kelumpuhan permanen meningkat. Ia tidak menarik diri. Ia mengunci sistem sarafnya ke Vulture, menerima rasa sakit itu sebagai harga untuk kemenangan di depan publik besok.