Novel

Chapter 7: Eskalasi Peringkat Musiman

Kaelen memenangkan duel pemanasan di arena dengan teknik overclock, namun ia harus membayar harga berupa kerusakan saraf permanen. Ia secara resmi menerima tantangan duel satu lawan satu dari Vane di depan para sponsor, mempertaruhkan seluruh aset dan data prototipe ayahnya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Eskalasi Peringkat Musiman

Lampu neon di bengkel bawah tanah berkedip ritmis, menyoroti rangka Vulture yang tampak seperti bangkai logam yang sekarat. Integritas struktural mech itu berada di angka 32 persen—sebuah vonis mati bagi pilot mana pun yang masih waras. Kaelen menyeka pelumas hitam dari tangannya ke celana, napasnya memburu saat ia menatap lengan kiri Vulture yang kini hanya menyisakan kabel-kabel terkelupas dan logam bengkok.

"Jika kau memaksanya masuk ke arena besok, Vulture akan hancur sebelum hitungan ketiga," suara Aris memecah kesunyian. Pria tua itu berdiri di sudut ruangan, memegang tablet usang yang memancarkan cahaya biru redup ke arah catatan teknis kuno milik keluarga mereka. "Sistem pendinginmu sudah mencapai batas kritis. Overclock yang kau lakukan di Labirin Sektor Utara telah menggerogoti sirkuit intinya."

Kaelen mengabaikan peringatan itu. Fokusnya tertuju pada kotak data kuno yang ia ambil dari inti labirin. Benda itu terasa dingin, namun saat ia mendekatkannya ke slot sistem Vulture, sebuah denyut energi aneh menjalar hingga ke telapak tangannya. Ini adalah satu-satunya jalan. Vane tidak sekadar menantangnya; Vane ingin menghapus jejak prototipe milik mendiang ayahnya yang tersembunyi di dalam Vulture. Jika Kaelen kalah, bukan hanya mech itu yang disita, tapi seluruh bukti korupsi Vane akan terkubur selamanya.

"Vane tidak akan memberiku kesempatan kedua, Aris. Dia sudah menantangku di depan para sponsor. Ini bukan lagi soal peringkat 412, ini soal siapa yang mengendalikan masa depan Akademi," ujar Kaelen tajam. Ia menarik tuas pengunci, memaksa kotak data itu masuk ke dalam slot yang tidak dirancang untuknya. Percikan api biru menyembur, dan Vulture mengerang, suara logam beradu yang terdengar seperti jeritan mekanis.

Keesokan paginya, Arena Akademi sudah penuh sesak. Sorak-sorai penonton yang haus akan kehancuran frame kelas rendah menggema. Kaelen berada di dalam kokpit, merasakan getaran halus dari inti daya yang kini dipaksa bekerja di luar batas desain. Di layar HUD-nya, peringatan integritas struktural berkedip merah terang.

"Target berikutnya: Kadet elit dari Sektor Tengah. Waktu persiapan: enam puluh detik," suara dingin sistem otomatis Akademi menginterupsi. Kaelen mencengkeram tuas kendali dengan tangan yang mulai gemetar. Ini adalah jebakan. Vane telah memanipulasi sensor arena untuk memicu panas berlebih pada Vulture, berharap mesin itu akan meledak sebelum duel utama dimulai.

Kaelen melakukan sinkronisasi paksa. Saat musuh melesat maju, ia tidak menghindar. Ia mengaktifkan 'overclock sinkron'—sebuah teknik yang ia pelajari dari data ayahnya. Untuk sepersekian detik, dunia melambat. Vulture bergerak dengan presisi yang tidak mungkin dilakukan oleh mech rongsokan, meluncur di bawah serangan musuh dan menghantam titik kritis pada sambungan bahu lawan. Brak! Mech lawan tumbang, sistemnya mati total. Kaelen menang, namun tangannya kini bergetar hebat. Rasa nyeri tajam menusuk dari ujung sarafnya, menjalar ke bahu—sebuah tanda awal kerusakan saraf permanen akibat umpan balik energi yang tak terkendali.

Saat ia keluar dari kokpit, Vane sudah menunggu di panggung utama, dikelilingi oleh para sponsor. Wajah Vane dingin, topeng disiplin yang sempurna. "Kaelen, pilot dengan utang yang melampaui kemampuan bayarnya," suara Vane bergema, memenuhi hanggar. "Kau telah membuat keributan di labirin dan arena. Sekarang, mari kita lihat apakah kau memiliki nyali untuk mempertaruhkan segalanya secara resmi di depan para penyokong dana kita."

Kaelen merasakan denyut nyeri di saraf lengannya, sebuah pengingat fisik bahwa harga untuk kemenangan ini adalah tubuhnya sendiri. "Aku menerima tantanganmu, Vane. Duel satu lawan satu. Taruhan penuh: aset, data, dan peringkat."

Senyum tipis tersungging di bibir Vane. Duel ditetapkan untuk siklus besok. Kaelen berjalan pergi, menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil kini terasa lebih berat. Sarafnya berdenyut nyeri, sebuah alarm yang tak bisa ia matikan, menyadarkannya bahwa ia baru saja mempertaruhkan segalanya di atas tangga yang semakin curam.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced