Novel

Chapter 12: Awal dari Pendakian Baru

Kaelen berhasil mengintegrasikan data prototipe ke dalam jaringan pilot kelas bawah, memicu pemberontakan terbuka saat detasemen Penegak mencoba menyerang markas mereka. Kaelen berhasil memenangkan pertempuran taktis melalui labirin Aris, sekaligus menetapkan dirinya sebagai pemimpin perlawanan di luar sistem Akademi.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Awal dari Pendakian Baru

Saraf di lengan kanan Kaelen berdenyut, mengirimkan sinyal nyeri yang tajam setiap kali ia mencoba mengepalkan jemari. Itu bukan sekadar cedera; itu adalah harga permanen dari teknik overclocking yang ia paksa masuk ke dalam inti Vulture. Di pinggiran zona industri yang berbau karat dan oli terbakar, Kaelen menatap sisa-sisa frame-nya. Vulture kini hanyalah tumpukan logam rongsokan, namun di dalam memori inti yang ia selamatkan, tersimpan cetak biru Frame Generasi Berikutnya—sebuah anomali teknis yang dicuri dari arsip terlarang Akademi.

"Jangan memaksakan saraf itu, Kaelen," suara Aris terdengar serak. Pria tua itu berdiri di depan terminal darurat, jemarinya menari di atas layar holografik yang berkedip redup. Aris bukan lagi arsiparis lemah yang dulu ia kenal; ketegasan dalam gerakannya menunjukkan seorang arsitek sistem yang tahu persis di mana titik retak fondasi Akademi berada.

Kaelen mengabaikan peringatan itu. Ia menarik napas dalam, merasakan udara dingin menyapu wajahnya yang penuh jelaga. "Jika kita tidak bisa menstabilkan inti daya ini, data ini hanya akan menjadi sampah, Aris. Akademi tidak akan membiarkan kita bernapas lebih lama lagi setelah apa yang terjadi di menara."

Aris berbalik, menatap Kaelen dengan sorot mata yang tajam. "Data itu bukan sekadar cetak biru. Itu adalah kunci akses ke jaringan inti yang menopang seluruh hierarki peringkat mereka. Jika kau bisa mengintegrasikannya, kau tidak hanya memperbaiki Rongsokan, kau akan meretas fondasi mereka secara permanen."

Di luar gudang, ribuan pilot kelas bawah berkumpul. Mereka bukan lagi kerumunan yang terfragmentasi; mereka adalah massa dengan mech-mech tambalan yang memiliki tatapan yang sama: haus akan perubahan. Kaelen melompat turun dari tumpukan logam, mendarat dengan dentuman berat. Ia berjalan menembus kerumunan, membelah barisan pilot yang terdiam. Ia berhenti di depan seorang pilot muda yang mech-nya nyaris tidak memiliki pelindung bahu.

"Kalian menunggu izin?" suara Kaelen memecah keheningan. "Vane mungkin sudah kehilangan reputasi, tapi para Penegak masih memiliki sisa pasukan. Jika kalian menunggu tangga peringkat Akademi untuk memberi kalian tempat, kalian akan mati sebagai rongsokan. Saya membawa cetak biru yang akan mengubah setiap mech tua di sini menjadi ancaman bagi menara itu."

Riuh rendah mulai terdengar. Kaelen memproyeksikan data cetak biru tersebut ke layar besar di tengah gudang. Itu adalah bukti nyata: sebuah desain yang bisa diakses siapa pun, sebuah senjata yang setara dengan frame elit Akademi. Namun, ketenangan itu pecah saat sinyal energi dari prototipe yang dibawa Kaelen terdeteksi. Detasemen Penegak bergerak dalam formasi presisi.

Suara Vane, yang kini reputasinya hancur di mata publik, terdengar lewat transmisi yang bocor. "Kaelen, kau tikus kecil. Kau pikir kau bisa menghancurkan tangga peringkat tanpa membayar harganya? Aku akan membedah pos itu dan memastikan tidak ada satu pun data yang tersisa."

Kaelen menyeringai, meski rasa sakit di tangannya kian hebat. "Aris, aktifkan labirinnya."

Saat pasukan Penegak memasuki perimeter, sistem keamanan yang dirancang Aris bekerja. Labirin logam yang dipenuhi jebakan frekuensi membuat formasi Penegak pecah. Mereka terperangkap dalam ruang sempit di mana keunggulan teknologi mereka justru menjadi bumerang. Kaelen mengarahkan para pilot untuk menyerang titik-titik lemah yang ia tunjukkan melalui data tersebut. Dalam hitungan menit, reputasi Vane hancur total saat kegagalannya disiarkan langsung oleh jaringan perlawanan.

Kaelen berdiri di puncak bukit pemukiman kumuh, menatap ribuan lampu pendar dari mech-mech tua yang kini bersiap untuk bergerak. Ia tahu, ini bukan akhir. Ia menyerahkan cetak biru tersebut kepada para pemimpin kelompok pilot untuk mulai membangun armada mandiri. Ia menatap menara Akademi yang kini tampak rapuh di kejauhan, sadar bahwa tangga peringkat yang sebenarnya baru saja dimulai di luar tembok Akademi. Ribuan pilot kelas bawah menunggunya, menanti komando untuk bangkit dan meruntuhkan hierarki yang selama ini membelenggu mereka.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced