Retakan pada Logam
Asap berbau ozon dan logam terbakar mengepul dari palka dada Vulture. Kaelen menyambar pemadam api manual, menyemprotkan busa kimia ke inti daya yang berpendar oranye terang. Cahaya itu bukan indikator normal; itu adalah peringatan kematian bagi mekanik mana pun.
"Suhu inti mencapai 880 derajat, Kaelen. Jika kau tidak mematikan sistem, kerangka Vulture akan meleleh sebelum kau menyentuh garis start Labirin Sektor Utara," suara Aris terdengar berat, memecah keheningan hangar yang pengap. Pria tua itu berdiri di balik bayangan tumpukan suku cadang bekas, tangannya gemetar saat memegang tablet data usang.
Kaelen mengabaikan peringatan itu. Ia menarik kunci pas, memaksa baut pengunci pada penutup inti daya yang memuai karena panas. Tangannya terluka, kulitnya melepuh terkena percikan cairan pendingin yang merembes keluar. "Aku tidak punya pilihan, Aris. Vane memberiku waktu kurang dari dua puluh empat jam. Jika aku tidak bisa menstabilkan overclock ini, Vulture hanya akan jadi tumpukan besi rongsokan di tengah labirin."
"Ini bukan sekadar masalah panas," Aris melangkah maju, menunjuk retakan mikroskopis pada blok mesin. "Catatan teknis yang kuberikan padamu... itu bukan untuk mesin standar Akademi. Teknik overclock itu memicu reaksi kimia ilegal pada logam inti. Kau sedang membakar masa depanmu sendiri demi satu kemenangan di tangga peringkat."
Kaelen tidak menjawab. Ia tahu risikonya, namun utang 1.250 kredit yang membebani akunnya adalah ancaman yang jauh lebih nyata daripada ledakan mesin. Ia harus ke pasar gelap.
Bau ozon dan oli terbakar menyengat tajam di Pasar Gelap Sektor Utara. Kaelen menarik kerah jaketnya, berusaha menutupi seragam Akademi yang masih menyisakan debu dari uji coba labirin beberapa jam lalu. Di depannya, seorang pria tua dengan tangan bionik yang berderit duduk di balik meja logam berkarat. Ini adalah 'Si Pengumpul', satu-satunya pedagang yang bersedia menyentuh frame kelas rongsokan.
"Inti daya Vulture-ku mulai melepaskan residu kimia," ujar Kaelen, suaranya rendah. Ia meletakkan salinan catatan teknis yang diberikan Aris di atas meja. "Aku tidak punya kredit. Tapi aku punya data sinkronisasi inti yang tidak ada di server Akademi. Ini kunci untuk menstabilkan aliran energi pada frame tua."
Mata pria itu membelalak saat ia memindai catatan tersebut. "Ini... ini catatan dari seri Aegis yang hilang. Bagaimana mungkin kau memilikinya?"
"Jangan tanya balik. Berikan aku penstabil termal itu sekarang," desak Kaelen.
Transaksi selesai, namun saat Kaelen hendak berbalik, dua pria bertubuh besar dengan seragam pemeliharaan Akademi menghadang jalannya. Bawahan Vane. Kaelen tidak membuang waktu. Ia membanting kotak suku cadang ke lantai, memicu kunci magnetik darurat, dan menghantamkan bahu ke arah pria terdekat. Benturan itu keras, mengirimkan getaran ke tulang rusuknya, namun ia berhasil membuka celah. Saat pria kedua mencoba menjegal, Kaelen menggunakan kunci pas baja untuk menghantam engsel lutut lawan sebelum melesat pergi menuju pintu Hangar 4-B.
Begitu pintu hangar tertutup rapat, Kaelen segera membongkar panel akses Vulture. Ia memasang modul pendingin ilegal yang ia dapatkan dengan harga nyawa itu. Namun, saat ia mengaktifkan kembali inti daya, suara dengungan yang seharusnya halus berubah menjadi jeritan logam bernada tinggi. Reaksi kimia antara suku cadang pasar gelap dan inti daya yang sudah rusak menciptakan getaran frekuensi tinggi yang merambat ke seluruh kerangka mech.
HUD Vulture berkedip liar, menampilkan peringatan integritas struktural yang menurun tajam ke angka 58 persen. Kaelen menatap layar dengan jantung berdegup kencang. Bukan hanya mesinnya yang sekarat; sensor medan di HUD-nya menunjukkan manipulasi curang dari Vane. Peta labirin telah diubah secara digital, menjebaknya di zona pembersihan yang penuh dengan jebakan kimia.
"Dia tidak hanya ingin aku kalah," bisik Kaelen, tangannya gemetar di atas kontrol. "Dia ingin Vulture hancur berkeping-keping di depan mata publik."
Getaran itu semakin kuat, membuat retakan pada logam pelindung dada Vulture melebar. Waktu tersisa 18 jam, dan mesinnya kini menjadi bom waktu yang siap meledak di tengah labirin.