Tangga yang Semakin Tinggi
Bunyi dengung frekuensi tinggi membelah keheningan hangar Sektor Bawah. Kaelen menahan napas, jemarinya yang berlumuran oli mengencangkan baut terakhir pada casing inti daya Vulture. Di layar HUD yang retak, indikator suhu inti berkedip merah—sebuah peringatan permanen bahwa mesin ini dipaksa melampaui limitasi pabrikan.
"Inti daya ini tidak akan bertahan lama, Kaelen," suara Aris terdengar serak dari balik tumpukan kabel usang. Pria tua itu memegang tablet data dengan tangan gemetar, matanya menatap cemas ke arah Vulture yang bergetar hebat. "Teknik overclock ini bukan sekadar peningkatan performa. Ini adalah baterai yang mengonsumsi material frame-nya sendiri. Jika kau memaksanya di labirin, Vulture bisa hancur berkeping-keping sebelum kau mencapai garis finis."
Kaelen menyeka keringat dingin di dahinya. Utang 1.250 kredit masih menggantung di atas kepalanya seperti pedang yang siap jatuh. Jika ia gagal dalam uji coba labirin yang ditetapkan Vane, Akademi akan menyita Vulture, dan ia akan didegradasi ke zona pembersihan permanen. "Kalau aku tidak mengambil risiko ini, aku sudah mati bahkan sebelum uji coba dimulai," jawab Kaelen dingin.
Dua belas jam kemudian, Kaelen berdiri di titik awal Labirin Logam. Di menara pengawas, Vane memantau dengan tatapan yang menginginkan kejatuhan Kaelen tepat di hadapan para sponsor. Saat sinyal "Mulai" berbunyi, Kaelen menginjak pedal akselerasi. Vulture melesat, namun setiap gerakannya terasa berat. Sensor laser yang menempel di dinding labirin mulai mengunci posisi mech-nya. Saat Kaelen berbelok tajam di tikungan sempit, sebuah proyektil simulasi meluncur dari balik dinding. Insting Kaelen mengambil alih. Dengan satu hentakan, ia mengaktifkan modul overclock. Bzzzt! Sistem bereaksi, memberikan lonjakan kecepatan yang mustahil bagi frame sekelas Vulture. Ia menembus labirin, memicu ledakan percikan api biru dari sambungan bahu, namun ia berhasil mencapai titik finis dengan catatan waktu yang memecahkan rekor kadet elit.
Namun, kemenangan itu terasa hambar. Saat Kaelen keluar dari arena, angka peringkatnya melonjak ke posisi 412 di layar monitor publik. Ia belum sempat menarik napas lega ketika Vane melangkah keluar dari bayang-bayang, sepatu botnya beradu dengan lantai logam dengan ritme yang mengancam.
"Kau pikir kenaikan ini membuatmu aman?" Vane berhenti tepat di depan Kaelen, wajahnya sedingin baja. "Ini hanya berarti kau sekarang cukup terlihat untuk dihancurkan secara resmi."
Vane menekan tombol di pergelangan tangannya, memproyeksikan sebuah peta holografik yang jauh lebih besar dan mematikan. "Tangga peringkat sebenarnya baru saja dimulai. Besok pagi, kau akan menghadapi Labirin Sektor Utara. Jika kau gagal, bukan hanya Vulture yang akan kusita, tapi seluruh hak aksesmu di Akademi akan dihapuskan."
Kaelen terpaku. Vane tidak memberinya celah untuk bernapas. Kembali ke hangar, Kaelen menatap Vulture yang kini mengeluarkan asap biru kehijauan dari inti daya. Ia menyadari teknik overclock telah memicu reaksi kimia yang tak terkendali. Saat ia menyentuh catatan teknis kuno milik Aris, ia melihat blueprint yang jauh lebih kompleks—sebuah rahasia yang lebih besar dari sekadar kompetisi. Vulture meraung dalam kegelapan hangar, bukan lagi sebagai rongsokan, melainkan sebagai senjata yang mulai memakan dirinya sendiri, menanti tantangan esok hari yang bisa jadi adalah akhir dari segalanya.