Novel

Chapter 2: Teknik Terlarang dan Biaya Kemenangan

Kaelen memperbaiki mech-nya dengan teknik overclock terlarang dari Aris untuk menutupi kerusakan akibat utang. Vane menghadang Kaelen di hangar dan memberikan tantangan uji coba labirin yang mustahil dalam 24 jam, mengancam penyitaan total jika Kaelen gagal.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Teknik Terlarang dan Biaya Kemenangan

Bau ozon dan kabel terbakar memenuhi bengkel Kaelen, menyesakkan dada. Di tengah ruangan, Vulture—mech kelas rongsokan miliknya—tampak seperti bangkai logam yang sedang dibedah. Lengan kanannya hancur total, menyisakan juntaian kabel hidrolik yang meneteskan oli hitam ke lantai beton. Layar HUD di dinding bengkel berkedip merah, menampilkan angka yang membuat perut Kaelen mual: 1.250 kredit utang akumulatif. Angka itu bukan sekadar statistik; itu adalah vonis mati bagi karier pilotnya.

Kaelen menendang kotak perkakas hingga denting logamnya bergema di dinding sempit. "Satu simulasi lagi, dan mereka akan menyita seluruh rangka ini," gumamnya. Ia tidak punya kredit untuk suku cadang standar, apalagi untuk aktuator kelas militer yang diminta oleh sistem pemeliharaan Akademi.

Ia bergegas menuju ruang arsip bawah tanah. Aris, pria tua yang menjaga tumpukan catatan kuno, sedang duduk di balik meja kayu yang lapuk. Tanpa basa-basi, Kaelen membanting kartu identitas pilotnya ke meja. "Aku butuh sesuatu yang bisa membuat Vulture bergerak lebih cepat dari deteksi sensor mereka, Aris. Sekarang."

Aris tidak mendongak, namun tangannya berhenti membalik halaman. Ia menarik sebuah kotak logam kecil dari balik tumpukan arsip. Saat Kaelen menyentuh catatan teknis di dalamnya, sensasi sengatan statis menjalar ke lengannya. Pendar biru tipis berdenyut dari kertas tua itu, seirama dengan detak jantung Kaelen yang memburu.

"Ini teknik overclock terlarang," bisik Aris, suaranya parau. "Ini memaksa inti daya melampaui batas termal pabrikan. Risikonya? Inti daya bisa meleleh jika sinkronisasi meleset satu milidetik saja."

Kaelen tidak ragu. Ia membawa catatan itu kembali ke bengkel. Dengan tangan gemetar, ia mulai mencabut modul pembatas daya bawaan Akademi. Setiap baut yang ia lepas adalah pertaruhan nyawa. Ia mengalirkan energi berlebih ke aktuator kaki dan pendorong belakang, menciptakan 'denyut' baru pada Vulture yang terasa tidak stabil namun bertenaga.

Keesokan paginya, Kaelen menyeret langkah ke area latihan. Vulture berdiri di sudut hangar, lengannya masih terkulai, namun sistem internalnya kini berdengung dengan frekuensi yang berbeda.

"Lihat siapa yang datang. Si pecundang dengan tumpukan besi rongsokan," suara dingin Vane membelah keributan kadet lain. Instruktur itu berdiri di tengah lintasan, seragamnya yang kaku tampak kontras dengan debu industri yang menempel di jaket Kaelen.

Kaelen berhenti, menatap lurus ke arah Vane. "Aku di sini untuk perbaikan, Instruktur. Bukan untuk mendengar pidato tentang kemurnian peringkat."

Vane tertawa pendek, melangkah maju hingga aroma oli dan logam dingin menyeruak. Ia menunjuk ke arah labirin simulasi di ujung lapangan—sebuah medan uji coba yang dirancang untuk menguji kecepatan respons di bawah tekanan tinggi.

"Besok, saat matahari tepat di atas kepala, kau akan masuk ke labirin itu," tantang Vane dengan seringai predator. "Jika dalam 24 jam kau tidak bisa menembus labirin itu tanpa menghancurkan intimu sendiri, aku sendiri yang akan memastikan frame-mu dihancurkan menjadi besi tua. Berani bertaruh, Kaelen?"

Kaelen merasakan detak jantungnya berpacu seirama dengan pendar biru dari catatan teknis yang terselip di sakunya. Ia tidak punya pilihan lain. "Aku terima tantangannya."

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced