Novel

Chapter 2: Harga Sebuah Data

Aris menemui Maya, seorang peretas, untuk memecahkan enkripsi relik okultisme yang terhubung dengan siaran kematian Kanya. Di tengah proses dekripsi, mereka menyadari bahwa relik tersebut bukanlah benda mati, melainkan pemancar frekuensi yang mulai merusak realitas digital di sekitar mereka. Aris mendapati bahwa namanya telah masuk dalam daftar target buku besar pembayaran, menandakan bahwa ia bukan lagi sekadar saksi, melainkan bagian dari skrip ritual yang sedang berjalan.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Harga Sebuah Data

Layar monitor di apartemen Aris berkedip liar, memancarkan cahaya biru pucat yang memantul di genangan air hujan di sudut meja. Di sudut kanan atas, angka digital itu—68:14:22—terasa seperti detak jantung yang tercekik. Aris mencoba menarik paksa source file siaran terakhir Kanya, namun kursornya bergetar hebat sebelum akhirnya layar berubah menjadi hitam pekat. Bau kabel terbakar menyengat, menusuk hidung.

"Sial," desis Aris. Ia mencabut paksa kabel hard drive eksternalnya. Perangkat itu panas, seolah-olah menyimpan energi yang tidak seharusnya ada di sana. Saat ia menyentuh casing ponsel Kanya yang kini tergeletak di samping laptopnya, frekuensi rendah yang tidak terdengar oleh telinga mulai menggetarkan gelas air di meja. Aris merasakan nyeri tajam di pangkal tengkorak—seolah ada sesuatu yang sedang memetakan sarafnya melalui koneksi digital yang baru saja ia paksa buka. Ia skeptis, selalu. Baginya, dunia hanya sekumpulan data yang bisa didekonstruksi. Namun, angka yang terus menyusut di ponselnya—yang kini terikat pada alamat IP pribadinya—bukanlah penipuan. Itu adalah lonceng kematian. Aris menyadari ia tidak bisa melawan relik ini sendirian.

Satu jam kemudian, Aris sudah berada di sudut paling gelap Warnet Cybernet, Glodok. Bau apek tumpukan kabel terbakar menyambutnya. Di luar, hujan deras menghantam kaca jendela seperti serangkaian tembakan, mengubah lampu neon di seberang jalan menjadi coretan warna yang meleleh di genangan air.

Maya duduk di bilik paling ujung, dikelilingi oleh tiga monitor yang menampilkan barisan kode hijau. Ia tidak menoleh saat Aris mendekat. "Kau terlambat tiga menit," desis Maya tanpa melepaskan jemarinya dari keyboard mekanik yang berisik.

"Data siaran Kanya. Aku butuh akses ke server pusat sekarang," potong Aris. Ia meletakkan lempengan logam yang ia ambil dari casing ponsel Kanya ke atas meja kayu yang lembap.

Maya tertawa sinis, namun tawanya terhenti seketika saat ia melirik lempengan itu. Tepat saat benda tersebut bersentuhan dengan meja, monitor utama di depan Maya berkedip hebat. Garis-garis statis horisontal membelah layar, dan speaker di meja mengeluarkan decitan frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga. Maya tersentak, menarik kursinya mundur. "Apa-apaan benda itu? Itu bukan komponen elektronik. Itu merusak integritas data di sistemku!"

"Aku butuh kau menembusnya," desis Aris. "Seseorang telah menghapus jejak siaran itu secara sistematis. Aku butuh tahu siapa yang membayar untuk menutupinya."

Maya menatap Aris dengan mata yang menyiratkan ketakutan murni. Ia mulai mengetik dengan brutal, jari-jarinya bergerak seperti sedang berperang. "Data asli siaran Kanya hilang, Aris. Seseorang melakukan overwriting sistematis. Ini bukan penghapusan biasa; ini adalah pembersihan skrip."

Aris mencondongkan tubuh, menatap layar yang kini hanya menampilkan sisa-sisa fragmen piksel dari wajah Kanya sesaat sebelum ajal menjemputnya. "Buka ledger pembayarannya."

"Jangan," Maya memperingatkan, namun tangannya sudah bergerak menembus lapisan enkripsi terakhir. Layar monitor memuntahkan barisan kode yang tidak masuk akal. Di luar, hujan menghantam kaca jendela dengan irama yang menekan. Aris melirik ponselnya: 60 jam, 14 menit, 22 detik. Waktu itu terasa seperti detak jantung yang semakin cepat.

"Ini bukan data video, Aris," suara Maya terdengar serak, hampir tenggelam oleh dengung frekuensi tinggi yang mulai merambat dari motherboard komputer. "Siaran Kanya hanyalah cangkang. Sesuatu di dalam relik itu menggunakan infrastruktur siaran untuk memancarkan sinyal ini."

Aris merasakan tekanan di rongga dadanya, sensasi dingin yang merayap dari ujung jari hingga ke tulang belakang. "Hentikan transmisinya. Sekarang."

"Aku tidak bisa!" Maya memekik. "Sinyal ini memakan bandwidth sistemku. Ia tidak hanya meretas server, ia sedang mencoba menulis ulang logika perangkat keras ini. Lihat!"

Aris mencondongkan tubuh. Di layar, gelombang frekuensi yang dihasilkan relik itu tidak tampak seperti data digital biasa. Bentuknya geometris, kaku, dan berdenyut dengan pola yang terasa salah—seolah-olah perangkat keras itu sedang dipaksa menjerit dalam bahasa yang tidak manusiawi. Di antara barisan kode yang kacau itu, sebuah nama muncul di daftar target buku besar pembayaran. Aris membeku. Namanya sendiri tertera di sana, tepat di bawah daftar korban yang telah 'dieksekusi' secara digital.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced