Buku Besar Dosa
Layar monitor Maya berkedip liar, memancarkan cahaya biru dingin yang memantul di genangan air hujan yang merembes masuk melalui celah jendela apartemennya. Suara denting hujan di atap seng Jakarta terdengar seperti tembakan peluru yang ritmis, namun Aris tidak lagi peduli pada kebisingan itu. Fokusnya terkunci pada lempengan logam di atas meja yang kini berdenyut, memancarkan frekuensi rendah yang membuat giginya ngilu—sebuah sinyal bahwa perangkat keras di ruangan itu sedang dipaksa tunduk pada logika yang bukan berasal dari dunia digital biasa.
"Ini bukan kode biner, Aris. Ini skrip eksekusi," ujar Maya, suaranya serak karena kurang tidur. Jari-jarinya menari di atas keyboard mekanik dengan kecepatan yang tidak wajar. "Setiap kali kita memecahkan satu lapisan, relik ini menulis ulang dirinya sendiri. Dia tahu kita sedang mengintip."
Aris berdiri tepat di belakang bahu Maya, merasakan hawa dingin yang menjalar dari lempengan tersebut ke ujung jarinya. "Berapa lama lagi?" tanyanya, suaranya parau.
"Dua puluh empat jam," jawab Maya singkat.
Aris tersentak. "Tunggu, tadi masih enam puluh jam. Bagaimana bisa waktu itu hilang begitu saja?"
"Itu penaltinya," Maya menunjuk ke sudut layar di mana hitungan mundur berkedip merah terang. "Setiap byte informasi yang kita curi adalah potongan umur yang dibayar oleh sistem ini. Kita sedang tidak sekadar meretas data, kita sedang merampok waktu milik mereka."
Maya menekan tombol Enter dengan keras. Sebuah kompartemen tersembunyi di sisi lempengan logam itu bergeser, mengeluarkan bunyi klik mekanis yang tajam. Di sana, tertanam sebuah micro-SD tua yang terbungkus kain hitam dengan pola yang tampak seperti pembuluh darah. Saat Maya memasukkan kartu itu ke pembaca data, monitor mereka langsung dipenuhi deretan nama, angka, dan logo perusahaan besar. Itu bukan sekadar daftar transaksi; itu adalah buku besar pembayaran ritual.
Aris mencondongkan tubuh, matanya memindai daftar panjang tokoh publik, pejabat, dan elit kota yang menyetor dana secara berkala ke akun anonim yang sama dengan yang mendanai siaran kematian Kanya. Namun, saat kursor Maya berhenti di baris terakhir, napas Aris tercekat.
Di sana, tertulis namanya sendiri: Aris Pratama. Di sampingnya, stempel waktu menunjukkan target eksekusi selanjutnya yang hanya berjarak hitungan jam.
"Ini tidak mungkin," bisik Aris. Tangannya gemetar saat ia menyentuh layar yang panas. "Aku baru saja memegang benda ini dua hari lalu. Bagaimana mereka bisa memasukkanku ke dalam skrip yang sudah direncanakan berbulan-bulan sebelumnya?"
"Mereka tidak merencanakanmu, Aris. Mereka mengundangmu," sahut Maya, wajahnya pucat pasi. "Kau tidak sedang menyelidiki kasus ini. Kau sedang menjadi bagian dari skrip itu sendiri."
Tiba-tiba, ponsel Aris di atas meja memanas hebat hingga casing plastiknya mulai melengkung. Layar ponsel itu tidak menampilkan notifikasi, melainkan deretan kode yang sama dengan yang ada di monitor Maya. Aris mencoba mematikannya, namun perangkat itu terkunci total.
"Mereka tahu kita melihat daftar ini," desis Aris.
Di luar, suara sirene polisi memecah kesunyian malam, namun Aris tahu itu bukan untuk mereka. Itu adalah suara dari dunia yang perlahan-lahan mulai memburu keberadaan mereka. Aris menatap Maya yang masih terpaku pada monitor yang kini menampilkan lokasi GPS real-time apartemen mereka. Musuh tidak lagi bersembunyi di balik enkripsi; mereka sudah berada di depan pintu.