Novel

Chapter 1: Siaran Kematian di Layar Kaca

Aris, seorang analis data skeptis, menyaksikan influencer Kanya tewas secara aneh saat siaran langsung. Saat ia menyelidiki casing ponsel Kanya yang mengandung relik okultisme, ponsel Aris sendiri terinfeksi oleh hitungan mundur 72 jam yang mengunci identitas digitalnya ke dalam ritual tersebut.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Siaran Kematian di Layar Kaca

Hujan Jakarta malam ini bukan sekadar cuaca; ia adalah tirai air yang memekakkan telinga, menyembunyikan sirine di kejauhan dan mengisolasi apartemen Aris dalam kepungan lembap. Di monitor 32 inci miliknya, Kanya—influencer gaya hidup dengan jutaan pengikut—tengah melakukan siaran langsung. Aris menyesap kopi dinginnya, matanya memindai baris kode metadata yang meluncur di layar kedua. Sebagai analis data yang skeptis, ia dibayar untuk memverifikasi keaslian konten viral. Sejauh ini, semuanya tampak seperti skenario pemasaran gerilya yang rapi.

"Pencahayaan yang disesuaikan, filter warna yang tajam," gumam Aris, jemarinya menari di atas keyboard. "Hanya permainan CGI."

Namun, di layar utama, Kanya berhenti bicara. Senyumnya lenyap. Kulit di sekitar leher influencer itu mulai menghitam, seolah tinta pekat meresap dari balik pori-pori. Penonton di kolom komentar mulai panik—spam stiker terkejut dan pertanyaan tak masuk akal membanjiri sisi kanan layar. Aris mencibir, namun jemarinya berhenti bergerak saat melihat Kanya mencengkeram ponselnya sendiri. Jari-jari pucat itu menekan casing bagian belakang hingga terdengar suara retakan tulang yang kering dan tajam melalui mikrofon. Mata Kanya memutih, dan napasnya berhenti tepat saat kamera menangkap sesuatu yang seharusnya tidak ada di balik casing ponsel tersebut: lempengan logam dengan ukiran kuno yang berpendar redup.

Aris tidak membuang waktu. Ia segera menghubungi Maya, peretas lepas yang menjadi satu-satunya koneksi ilegalnya di kota ini. Pertemuan mereka terjadi di ruang server bawah tanah, tempat cahaya biru monitor memantul di genangan air yang merembes dari celah dinding.

"Ini bukan CGI, Aris," ujar Maya tanpa menoleh. Jemarinya bergerak gesit di atas keyboard mekanik, memindahkan data mentah siaran itu. "Tidak ada jejak rendering. Ini adalah data mentah yang membusuk saat diproses. Aku butuh perangkat kerasnya. Casing ponsel yang kau ambil dari lokasi itu—itu bukan sampah elektronik. Benda itu memancarkan frekuensi yang tidak tercatat dalam protokol transmisi standar. Itu frekuensi yang tidak manusiawi."

Aris merogoh saku jaketnya, mengeluarkan lempengan logam dingin itu. Benda itu terasa berat, ukirannya tampak bergerak jika dipandang terlalu lama. Begitu ia meletakkan benda itu di atas meja server, ponsel Aris di dalam saku bergetar hebat.

Layar ponselnya berkedip sekali, lalu mati total. Aris mencoba menekan tombol daya, namun tidak ada respons. Perangkat itu terasa dingin, seolah menyerap panas dari kulit telapak tangannya. Saat ia meletakkannya di atas meja, layar itu menyala kembali dengan cahaya merah yang menyakitkan mata. Bukan logo merk ponsel yang muncul, melainkan deretan angka digital yang berdetak mundur: 71:59:59.

"Sial," desis Aris. Ia mencoba mematikan paksa, namun perangkat itu terkunci. Ia mencoba menghubungkan kabel data ke laptopnya, namun port USB laptop itu justru mengeluarkan percikan api kecil dan notifikasi sistem: Critical System Breach. Kernel Corrupted.

"Maya, lihat ini," suara Aris parau.

Maya menatap layar ponsel Aris, wajahnya memucat. "Itu bukan sekadar hitungan mundur, Aris. Itu adalah alamat IP-mu yang sedang dikunci ke dalam skrip ritual tersebut. Kau bukan hanya saksi sekarang. Kau adalah bagian dari babak berikutnya."

Aris menatap angka merah yang terus bergerak, memangkas sisa waktu yang ia miliki. Hujan di luar semakin deras, menghantam kaca jendela dengan ritme brutal yang seolah menghitung setiap detiknya. Ia sadar, ia tidak punya lagi waktu untuk menyangkal realitas. Skandal kematian Kanya hanyalah awal, dan kini, namanya terdaftar di dalam hitungan mundur yang tidak bisa dihentikan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced