Novel

Chapter 2: Harga Sebuah Kebenaran

Aris terjebak di ruang arsip setelah akses identitasnya dihapus oleh sistem. Ia menemukan bukti keterlibatan Kurator dalam 'Proyek Pembersihan' sebelum aksesnya diputus total. Kurator mengonfirmasi bahwa kematian saudara Aris bukan kecelakaan, melainkan konsekuensi karena melanggar 'skrip'. Bab berakhir dengan peringatan dari Maya bahwa mereka sedang diawasi.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Harga Sebuah Kebenaran

Bunyi bip panjang dari pemindai pintu arsip bukan sekadar penolakan; itu adalah vonis. Aris menempelkan kartu identitasnya untuk kelima kali, namun lampu indikator tetap menyala merah. Di balik pintu baja tebal ini, ia bukan lagi seorang pengarsip. Ia adalah objek yang sedang dikarantina.

Di dalam tas selempangnya, silinder perunggu itu berdenyut. Panasnya menembus kain tas, membakar kulit pinggangnya. Aris menarik napas pendek, mencoba mengabaikan bau ozon dan kertas busuk yang memenuhi ruangan. Ponselnya menyala. Livestream itu masih berjalan, menampilkan dirinya sendiri dari sudut pandang kamera CCTV yang tersembunyi di langit-langit ruangan ini. Aris melihat dirinya di layar, sedang memegangi kepala yang berdenyut hebat. Angka digital pada relik itu berpendar merah: 11 hari, 23 jam, 45 menit.

Ia berlari menuju terminal arsip. Jari-jarinya yang gemetar menekan tombol override. Layar monitor berkedip, lalu menampilkan satu kalimat merah yang berdenyut: AKSES DITOLAK: ID PENGGUNA TIDAK DITEMUKAN.

"Tidak mungkin," gumam Aris. Ia adalah orang yang merancang protokol keamanan arsip ini. Ia mencoba masuk melalui backdoor sistem, namun layar itu justru memunculkan barisan kode yang menghapus seluruh jejak aktivitasnya sejak pagi tadi. Log kehadiran, rekam jejak akses pintu, bahkan data biometriknya menguap. Ia bukan lagi karyawan; ia adalah hantu di dalam gedung yang dirancang untuk mengubur rahasia.

Di balik barisan kode yang terhapus, ia menangkap satu file ledger digital: daftar transaksi mencurigakan yang melibatkan nama Sang Kurator dengan label 'Proyek Pembersihan'. Aris menyalin file itu ke flashdisk pribadinya, namun saat proses transfer mencapai 90 persen, sistem memutus koneksi secara paksa. Sebuah dengungan statis memecah kesunyian. Interkom di dinding mendadak hidup.

"Aris, kau selalu menjadi pengarsip yang rajin," suara Sang Kurator terdengar jernih, tenang, dan sangat tidak pada tempatnya. "Tapi ketelitianmu kali ini mulai mengganggu alur yang sudah kami susun sejak lama."

Aris mencengkeram pinggiran meja besi. "Akses kartu saya diblokir. Itu bukan kesalahan sistem, bukan?"

"Kesalahan?" Kurator tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan amplas pada kayu tua. "Itu adalah bentuk perlindungan. Jika kau terus menggali lebih dalam, kau akan menemukan bahwa saudaramu tidak mati karena kecelakaan medis seperti yang tertulis di berkasmu. Dia mati karena dia berhenti mengikuti skrip, persis seperti yang sedang kau lakukan sekarang."

Jantung Aris berdegup kencang di tenggorokan. Ia mencoba mengirim pesan darurat kepada Maya, namun jaringan rumah sakit diputus total. Ikon loading di ponselnya berputar tanpa henti sebelum akhirnya berubah menjadi tanda seru merah. Tepat saat itu, layar terminal di depannya berubah menjadi hitam pekat, menampilkan satu kalimat pendek dengan font merah yang bergetar: AKSES DITOLAK: IDENTITAS DIBATALKAN.

Aris mundur selangkah. Ia tidak hanya kehilangan data; ia telah dihapus dari sistem rumah sakit seolah-olah ia tidak pernah ada di sana. Di tengah keheningan yang mencekam, sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Pesan dari Maya: Mereka tahu kita sedang menonton siaran ini.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced