Aliansi di Ujung Tanduk
Udara di ruang arsip bawah tanah terasa seperti logam yang berkarat. Aris menekan punggungnya ke pintu baja, napasnya memburu. Di layar ponselnya, hitung mundur relik itu berdenyut: 11 hari, 23 jam, 12 menit. Angka itu bukan sekadar waktu; itu adalah sisa usia sebelum skrip Kurator menelan sejarahnya.
Sistem ventilasi mati. Keheningan yang menyusul adalah ancaman yang lebih nyata daripada suara mesin. Aris menyambungkan kabel data dari terminal arsip yang telah ia retas ke ponselnya. Ledger 'Proyek Pembersihan' mulai terunduh—sebuah daftar panjang nama-nama yang dihapus dari realitas, termasuk nama saudaranya.
"Data ini bukan sekadar bukti, ini daftar eksekusi," bisik Aris. Jari-jarinya gemetar saat ia memetakan jalur kabel listrik di balik dinding. Jika ia tidak bisa membuka pintu secara digital, ia akan membakar sistem pengunciannya. Tiba-tiba, lampu darurat berubah merah. Sensor panas mendeteksi aktivitas ilegal. Kurator tidak hanya mengunci pintu; ia sedang menghapus jejak digital Aris dari server rumah sakit. Aris bukan lagi karyawan; ia adalah bug yang harus dibasmi. Dengan satu hentakan keras pada panel kontrol, ia memicu sistem pembuangan udara darurat. Kisi-kisi ventilasi terlepas, memberinya celah sempit untuk merangkak keluar menuju lorong gelap, meninggalkan identitasnya yang telah hangus di dalam sistem.
Satu jam kemudian, kafe 24 jam di pinggiran kota menjadi tempat persembunyian yang menyesakkan. Aris duduk di sudut paling gelap. Maya muncul, mengenakan hoodie yang menutupi wajahnya. Ia tidak memesan apa pun, hanya menarik kursi dengan kasar.
"Kau terlihat seperti mayat hidup, Aris," bisik Maya tajam.
Aris mendorong tablet yang sudah dimodifikasi ke arah Maya. "Ini salinan ledger 'Proyek Pembersihan'. Nama saudaraku ada di sana. Bersama belasan nama lain yang dicatat sebagai anomali yang harus dikoreksi."
Maya terdiam saat jemarinya menyentuh layar. Matanya membelalak. "Ini skrip, Aris. Mereka mendesain kematian agar terlihat seperti kecelakaan medis yang tragis. Jika aku mengunggah ini, kredibilitasku akan kembali. Dunia akan tahu apa yang disembunyikan Kurator."
"Jangan," potong Aris dingin. "Lihat hitung mundurnya."
Di layar ponsel Aris, angka 11 hari yang tadinya terpampang, kini berkedut liar sebelum melompat turun drastis ke angka 24:00:00. Dua puluh empat jam. Aris menatap deretan baris data tersebut. Di baris keempat, nama saudaranya muncul dengan font merah: Subjek 04 – Kematian Terkonfirmasi – Siaran 14 Agustus.
"Dia bukan korban kecelakaan. Dia adalah konten untuk siaran kutukan itu," suara Aris serak. Maya mencengkeram kemudi mobilnya yang terparkir di luar, buku jarinya memutih.
"Jika ini adalah skrip, maka eksekusinya bukan di rumah sakit. Ini disiarkan secara massal untuk mengubah narasi publik," ujar Maya. Tiba-tiba, sebuah sedan hitam berhenti lima puluh meter di belakang mereka. Lampu depannya mati, namun sensor parkir mobil Maya terus berbunyi—sebuah dengungan konstan yang menyakitkan telinga.
Ponsel Aris bergetar. Bukan panggilan, melainkan pesan teks dari Maya yang duduk di sampingnya. Aris menoleh, namun Maya hanya menatap lurus ke dasbor. Pesan itu muncul di layar: Mereka tahu kita sedang menonton siaran ini. Aris mematikan layar, namun siaran langsung itu tidak berhenti. Gambar pria dengan topeng porselen yang retak masih terpampang jelas di permukaan layar yang gelap, seolah relik itu memproyeksikan kutukannya secara paksa ke dalam realitas mereka.