Arsip Kematian yang Berdetak
Bau obat-obatan yang bercampur dengan debu kertas tua di ruang arsip RS Medika Utama selalu terasa seperti napas orang mati. Aris melirik jam dinding di atas meja kerjanya: 16.45. Lima belas menit lagi sebelum sistem keamanan otomatis mengunci seluruh akses lantai bawah tanah. Bagi Aris, itu bukan sekadar jam pulang; itu adalah batas waktu untuk tidak terjebak di dalam penjara artefak yang seharusnya sudah dimusnahkan sejak dekade lalu.
Ia menarik sebuah kotak logam berkarat dari sudut lemari besi nomor 402. Kotak itu terbungkus plastik kedap udara yang sudah menguning, namun ukiran di permukaannya masih tajam: 12 hari tersisa.
"Sampah sejarah," gumam Aris. Ia skeptis, namun tangannya gemetar saat menyentuh logam dingin itu. Ia bermaksud memasukkannya ke mesin penghancur, namun ponsel di sakunya tiba-tiba bergetar hebat. Layar menyala, menampilkan notifikasi siaran langsung dari kanal anonim. Video itu menampilkan rekaman CCTV ruang arsip ini. Aris membeku. Di layar, ia melihat dirinya sendiri—sedang memegang kotak logam yang sama, dengan ekspresi ketakutan yang belum ia rasakan detik ini.
Kamera CCTV di layar berputar sendiri, menyorot ke arah pintu keluar yang perlahan tertutup oleh bayangan hitam yang tidak terlihat oleh mata telanjang Aris. Ia mencoba menekan tombol 'tutup', namun aplikasi itu membeku. Rekaman itu berlanjut, menampilkan lorong lantai empat rumah sakit. Kamera bergerak kikuk, menangkap pantulan sosok berbaju putih yang membawa tumpukan berkas. Itu dirinya, diambil dari sudut pandang yang mustahil—seolah-olah ada mata yang menempel di langit-langit ruangan.
"Ini tidak mungkin," bisik Aris. Jantungnya menghantam tulang rusuk. Ia melempar relik itu ke atas meja kayu. Logam itu terasa panas, menyengat seolah baru keluar dari tungku. Seketika, angka di layar ponselnya berubah: 11 hari, 23 jam, 59 menit.
Detak jantungnya tersinkronisasi dengan hitung mundur tersebut. Indikator baterai ponselnya terjun dari 40 persen ke 15 persen dalam hitungan detik. Relik itu bukan sekadar artefak; itu adalah perangkat transmisi yang sedang menyedot daya hidup—dan daya baterai—untuk menyiarkan kutukan.
Di layar, versi Aris yang berada di dalam video mulai ambruk. Darah segar mengalir dari hidungnya, membasahi dokumen arsip. Aris yang asli menyentuh hidungnya. Basah. Cairan kental berwarna merah pekat menodai ujung jarinya. Bau ozon yang menyengat memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma amis darah yang nyata.
Angka di relik berubah menjadi 11 hari 23 jam. Siaran di ponselnya kini memutar kematiannya sendiri dengan akurasi yang mengerikan. Saat ia berbalik untuk lari, pintu arsip terkunci otomatis dari luar dengan bunyi klik mekanis yang final. Sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya, dingin dan tanpa ampun: Akses kartu identitas Anda telah diblokir secara permanen dari sistem rumah sakit.