Pesta Perjamuan yang Beracun
Lampu kristal di Ballroom Hotel Grand Sovereign memantulkan cahaya dingin, menyinari gaun sutra Maya yang kontras dengan kegelisahannya. Di sampingnya, Aris berdiri dengan setelan yang tampak biasa—tidak mencolok, namun pas di tubuhnya. Bagi para sosialita yang melirik sinis, Aris hanyalah parasit yang menempel pada keberhasilan Maya.
"Kau yakin kita harus di sini?" bisik Maya, suaranya bergetar. "Bram mungkin sudah hancur secara hukum, tapi dia masih punya pendukung di antara para investor ini. Mereka membencimu, Aris."
Aris tidak menoleh. Matanya memindai ruangan, memetakan setiap wajah yang pernah tertawa di atas penderitaan keluarganya. "Biarkan mereka membenci. Kebencian adalah bahan bakar yang bagus untuk sebuah kejatuhan."
Clara, seorang sosialita yang berafiliasi dengan Bram, mendekat dengan gelas sampanye di tangan. Dengan gerakan disengaja, ia menabrak bahu Aris, menumpahkan cairan kuning itu tepat di dada kemeja putih Aris. Gelak tawa kecil pecah di sekeliling mereka.
"Oh, maafkan aku, Aris," ujar Clara dengan nada yang dibuat-buat. "Sepertinya kau memang tidak cocok berada di ruangan ini. Baumu terlalu... rendah untuk acara kelas atas seperti ini."
Maya hendak memprotes, namun Aris menahan lengannya dengan satu sentuhan tenang. Aris mengusap noda di bajunya, menatap mata para penertawa dengan tatapan yang membuat mereka terdiam seketika. Keheningan yang tidak nyaman menyelimuti sudut ruangan itu.
Di bar VIP, Bram muncul dengan wajah pucat. Jasnya kusut, tanda nyata dari kepanikan yang ia tutupi dengan senyum kaku. "Kau pikir kau menang, Aris?" desis Bram, suaranya nyaris hilang di tengah denting gelas. "Kau hanya pion yang menemukan celah kecil. Investor tidak akan peduli pada tuduhan audit jika aku bisa membuktikan bahwa kau meretas sistem tender ini secara ilegal."
Maya melangkah maju, punggungnya tegak. "Bram, berhenti membodohi dirimu sendiri. Bukti audit yang keluar satu jam lalu sudah sampai ke meja para komisaris. Mereka tidak butuh rumor tentang Aris; mereka butuh alasan untuk menarik dana sebelum perusahaanmu dinyatakan pailit."
Bram tertawa sumbang, namun tawanya mati saat melihat notifikasi di ponsel para investor di sekitar mereka. Satu per satu, wajah para investor memucat. Notifikasi pembekuan aset serentak muncul di layar mereka—perintah dari otoritas keuangan tertinggi yang tidak bisa dibantah. Kepanikan yang tadinya tertahan meledak menjadi riuh rendah. Bram terhuyung mundur, menyadari fondasi kekayaannya baru saja ditarik paksa dari bawah kakinya.
"Kau... kau tidak mungkin memiliki akses ke komite audit pusat!" desis Bram, matanya membelalak penuh ketakutan. "Siapa kau sebenarnya?"
Aris melangkah maju, memangkas jarak hingga Bram merasa tercekik oleh kehadiran pria yang selama ini ia remehkan. Di sudut ballroom yang sunyi, Aris mencondongkan tubuh. Bukan dengan teriakan, melainkan dengan bisikan yang membawa beban otoritas kuno, dia menyebutkan satu nama—sebuah faksi bayangan yang mengendalikan hierarki elit kota. Nama itu membuat Bram gemetar hebat, menyadari bahwa hidupnya kini bukan lagi miliknya, melainkan mainan bagi kekuatan yang jauh lebih besar. Saat Bram hendak membuka mulut untuk membalas, ponselnya bergetar hebat: rekening utamanya baru saja dibekukan total oleh sistem perbankan nasional, tepat saat ia hendak melakukan serangan balik.