Novel

Chapter 6: Jaring yang Semakin Sempit

Aris secara sistematis menghancurkan reputasi dan akses keuangan Bram melalui pengungkapan audit publik di ballroom hotel. Bram mencoba melakukan serangan balik melalui jalur politik namun gagal total karena aksesnya telah diputus oleh Aris. Bab ini berakhir dengan Bram yang terpojok secara hukum dan finansial, sementara Maya mulai menyadari identitas asli Aris.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Jaring yang Semakin Sempit

Ballroom Hotel Nusantara tidak lagi beraroma sampanye; kini, udara di dalamnya terasa tajam, berbau logam dan kepanikan yang tertekan. Bram berdiri di tengah ruangan, jemarinya gemetar hebat saat menekan layar ponselnya yang mati total. Notifikasi 'Connection Denied' muncul berulang kali, sebuah vonis digital yang membungkam seluruh kerajaan bisnisnya dalam hitungan detik.

Di sekelilingnya, para investor yang sedetik lalu berebut menjabat tangannya kini mundur perlahan, menciptakan lingkaran kosong di sekitar Bram. Mereka tidak lagi melihat seorang taipan, melainkan bangkai yang sedang menunggu untuk dikubur.

"Keamanan! Usir sampah ini sekarang!" teriak Bram, suaranya pecah, kehilangan otoritas yang selama ini ia gunakan untuk menindas orang lain. Namun, staf hotel yang biasanya sigap justru mematung, mata mereka tertuju pada layar raksasa di dinding ballroom.

Aris berdiri di sudut ruangan, menyesap air mineralnya dengan tenang. Ia tidak perlu berteriak. Ia hanya perlu memberikan isyarat kecil pada tablet di tangannya. Seketika, logo firma hukum paling ditakuti di negara ini muncul di layar raksasa, menggantikan presentasi investasi Bram. Daftar rekening yang disita, properti yang dibekukan, hingga sanksi pencekalan meluncur deras—sebuah audit kejaksaan yang tak terbantahkan.

Bram terhuyung mundur, punggungnya menabrak meja prasmanan hingga botol-botol kristal jatuh dan pecah, suaranya nyaring memecah keheningan ballroom. Tak ada satu pun tamu yang menoleh untuk menolongnya. Mereka sibuk menjauh, takut jika bayang-bayang kejatuhan Bram akan ikut menyeret mereka.

Di lobi hotel, Maya mencegat Aris. Napasnya memburu, matanya memancarkan campuran antara kebingungan dan ketakutan yang baru tumbuh. "Apa yang sebenarnya terjadi, Aris? Bram kehilangan segalanya dalam sekejap. Bagaimana kamu bisa memegang akses ke audit rahasia itu? Kamu hanya seorang pria biasa, kan?"

Aris tidak lagi menunduk. Ia menatap Maya dengan ketenangan yang dingin, menanggalkan topeng menantu yang tidak berguna. Tanpa sepatah kata pun, ia menyodorkan tablet tipis ke tangan istrinya. Layar itu menampilkan bukti autentik tender medis yang hilang—dokumen yang selama ini menjadi kunci bagi perusahaan Maya. "Aku tidak pernah menjadi pria biasa, Maya. Aku hanya memilih untuk tidak memainkannya sampai mereka mengancam apa yang menjadi milikku."

Maya terpaku. Ia melihat Aris bukan lagi sebagai beban, melainkan sebagai arsitek dari keruntuhan Bram. Ketakutan itu berubah menjadi kesadaran baru: suaminya adalah kekuatan yang selama ini ia remehkan.

Sementara itu, di kantornya yang berada di lantai empat puluh, Bram mencoba melakukan serangan balik terakhir. Ia menekan tombol speaker pada telepon satelitnya, berusaha menghubungi politisi senior yang selama ini menjadi pelindung bisnisnya. "Angkat, sialan!" desisnya. Namun, yang terdengar hanyalah nada sambung monoton, diikuti suara operator otomatis yang menyatakan nomor tersebut tidak aktif. Bram membanting teleponnya ke meja marmer. Di layar monitor, portal berita utama baru saja merilis laporan investigasi mendalam tentang pencucian uang yang menghubungkan perusahaannya dengan proyek-proyek mangkrak.

Layar monitor itu tiba-tiba berubah menjadi hitam pekat, lalu sebuah kode hijau muncul, diikuti wajah Aris yang tenang. "Permainanmu bukan hanya sudah berakhir, Bram," suara Aris terdengar jernih melalui speaker kantor, dingin dan mutlak. "Ini baru permulaan dari utang yang harus kau bayar."

Bram mencoba melarikan diri melalui pintu belakang gedung, namun saat mencapai gang sempit, langkahnya terhenti. Dua petugas kepolisian telah menunggu di sana. Jalan keluar telah dikunci. Di seberang jalan, Aris berdiri di bawah bayang-bayang pilar beton, mengamati dengan tatapan predator. Bram berlutut di atas aspal basah, menyadari dengan ngeri bahwa rekening pribadinya telah dibekukan tepat saat ia hendak menyuap pihak ketiga untuk serangan balik. Jaring itu telah menutup sempurna, dan Aris adalah satu-satunya orang yang memegang kendali atas napas terakhir bisnisnya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced