Novel

Chapter 4: Bayangan Sang Raja

Aris menghancurkan reputasi Bram di balai lelang melalui pengungkapan bukti korupsi tender, memicu audit hukum terhadap perusahaan Bram. Di luar balai lelang, Aris menghadapi ancaman dari faksi yang lebih besar, namun ia berhasil memukul mundur mereka dengan satu bisikan nama legendaris. Maya mulai menyadari identitas asli Aris di tengah perjamuan elit.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Bayangan Sang Raja

Layar raksasa di ruang lelang utama masih memancarkan cahaya biru dingin, menampilkan deretan data audit yang seharusnya terkunci rapat di server pribadi Bram. Suara dengung rendah dari sistem pendingin ruangan seolah menjadi latar belakang bagi keheningan yang mencekam. Ratusan pasang mata investor tertuju pada Bram yang berdiri mematung di podium, wajahnya yang biasanya angkuh kini sepucat kertas.

Aris berdiri lima meter di belakangnya, sosoknya samar di balik pilar marmer, namun auranya memancarkan ketenangan yang mematikan. Ia tidak perlu berteriak. Ia hanya perlu menatap.

"Ini sabotase!" teriak Bram, suaranya parau, memecah keheningan. "Seseorang meretas jaringan internal! Aris, kau... kau yang melakukan ini, bukan?"

Aris melangkah maju. Tanpa sepatah kata pun, ia mengirim perintah singkat dari ponselnya. Detik berikutnya, notifikasi masuk ke perangkat setiap investor di ruangan itu—sebuah file PDF terenkripsi yang merinci aliran dana ilegal Bram ke rekening staf lelang yang ia suap.

"Bram," suara Aris memotong riuh rendah ruangan seperti bilah pedang. "Data itu bukan peretasan. Itu adalah kebenaran yang kau coba kubur. Audit tahunan perusahaanmu tidak akan berakhir dengan kontrak, melainkan dengan surat panggilan dari kejaksaan."

Maya, yang berdiri di barisan depan, menatap suaminya dengan mata membelalak. Pria yang selama ini ia anggap sebagai beban, kini berdiri sebagai arsitek kehancuran musuh terbesarnya. Aris bukan lagi pria biasa; ia adalah seseorang yang memegang kendali atas struktur kekuasaan yang selama ini Maya takuti.

Aris meninggalkan balai lelang tanpa menoleh. Namun, di parkiran VIP, udara terasa berat, berbau sisa knalpot mobil mewah dan kepanikan yang tertahan. Tiga pria berjas gelap dengan potongan rambut militer menghalangi jalannya. Mereka bukan petugas keamanan biasa; gerak-gerik mereka terlatih dan mematikan.

"Anda terlalu jauh melangkah, Aris," ujar pria di tengah, seorang pria dengan bekas luka tipis di alisnya. "Bram mungkin pion yang bodoh, tapi dia adalah pion kami. Kamu telah merusak investasi bernilai miliaran."

Aris berhenti tepat dua meter di depan mereka. Ia tidak menoleh ke belakang, meski ia tahu Maya sedang berjalan keluar dari pintu utama, menatapnya dengan campuran rasa takut dan kebingungan. Aris tidak berniat melibatkan istrinya dalam pertumpahan darah.

"Katakan pada majikan kalian," suara Aris rendah, dingin, dan tidak sedikit pun bergetar, "bahwa jika mereka ingin mengaudit hidup orang lain, mereka harus memastikan catatan mereka sendiri bersih dari noda darah dan penipuan tender. Jika kalian ingin mengambil langkah selanjutnya, pastikan kalian siap menghadapi konsekuensi yang tidak bisa kalian bayar dengan uang."

Pria berbekas luka itu terdiam. Aris menyebut satu nama—sebuah nama legendaris dari hierarki paling atas yang seharusnya tidak diketahui oleh orang biasa. Wajah pria itu memucat seketika, nyalinya runtuh hanya dengan satu bisikan. Aris melangkah melewati mereka seolah mereka hanyalah debu di jalanan.

Malam itu, di Grand Ballroom Hotel Adipura, perjamuan elit diadakan untuk merayakan tender yang akhirnya jatuh ke tangan perusahaan Maya. Aris berdiri di sudut ruangan, mengenakan setelan jas sederhana yang tampak kontras dengan kemewahan di sekelilingnya. Tidak ada lagi tatapan meremehkan. Para elit kota kini menatapnya dengan rasa waspada yang mencekam.

"Siapa kau sebenarnya, Aris?" bisik Maya, suaranya nyaris tenggelam oleh alunan musik orkestra. "Keluarga besar mulai bertanya-tanya. Mereka tidak percaya kau bisa mendapatkan akses ke sistem lelang itu tanpa... bantuan dari pihak luar."

Aris tidak menjawab. Ia justru memperhatikan Bram yang berdiri di seberang ruangan. Sang antagonis tampak berantakan, dasinya longgar, dan ia sedang berdebat sengit dengan beberapa pengacara di sudut yang gelap. Bram tidak lagi memancarkan karisma sang pengusaha dermawan; ia hanyalah pria yang sedang menghitung detik menuju kejatuhan total. Aris menyesap minumannya, menyadari bahwa Bram hanyalah pion kecil. Musuh-musuh yang sesungguhnya kini sedang mengamati dari balik tirai, menyadari bahwa mereka tidak sedang melawan pria biasa, melainkan bayangan dari sesuatu yang jauh lebih besar dan berbahaya yang telah kembali ke kota ini.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced