Novel

Chapter 2: Berkas yang Hilang di Balik Meja Rapat

Liang Artha berhasil menembus birokrasi kantor pengadaan dengan memanfaatkan pengetahuan rahasia tentang berkas valuasi ayahnya. Setelah melumpuhkan preman suruhan Bima Laksana di parkiran, ia memperoleh kartu akses digital yang krusial. Bab ini ditutup dengan Tania Wulandari yang menyadari bahwa bukti yang dibawa Liang dapat menghancurkan Bima, menyiapkan panggung untuk pembalikan status di lelang mendatang.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Berkas yang Hilang di Balik Meja Rapat

Kantor Pengadaan Kota adalah labirin marmer dan kaca yang dirancang untuk membuat orang kecil merasa tidak terlihat. Liang Artha berdiri di lobi, map berisi dokumen asli dari gudang arsip terselip di balik jaketnya. Di depannya, satpam berseragam kaku menatap sandal jepit Liang dengan tatapan yang lebih tajam daripada pisau dapur mana pun.

"Nama Anda tidak ada di daftar, dan kami tidak menerima tamu tanpa janji temu," ujar satpam itu, suaranya bergema di lobi yang dingin. "Kembalilah saat Anda sudah punya urusan yang pantas."

Liang tidak berdebat. Ia hanya menatap lurus ke arah Tania Wulandari yang sedang berjalan terburu-buru di balik meja resepsionis, memegang tumpukan berkas tender. Liang tahu, dalam permainan ini, posisi adalah segalanya. Ia tidak butuh izin; ia butuh akses.

"Tania," panggil Liang. Suaranya tenang, namun memiliki frekuensi yang membuat Tania berhenti melangkah. "Ayah saya pernah berkata, berkas valuasi yang hilang tidak akan pernah benar-benar musnah. Mereka hanya menunggu orang yang tahu cara membacanya."

Tania menoleh. Wajahnya yang profesional dan dingin sedikit retak. Ia mengenal nama keluarga Artha, dan ia tahu apa yang seharusnya sudah terkubur bersama kebangkrutan restoran itu. Ia memberi isyarat singkat pada satpam untuk mundur, lalu membawa Liang ke ruang arsip yang tersembunyi di balik dinding kaca.

Begitu pintu tertutup, Liang meletakkan map di atas meja. "Bima Laksana memalsukan angka valuasi untuk menyita tanah kami. Ini buktinya."

Tania membuka map itu. Tangannya gemetar saat melihat cap resmi yang seharusnya sudah dimusnahkan tiga tahun lalu. Dokumen itu bukan sekadar kertas; itu adalah surat kematian bagi reputasi Bima Laksana.

Namun, ancaman tidak menunggu di dalam gedung. Saat Liang melangkah keluar menuju parkiran, tiga pria berjas hitam menghadang langkahnya. Mereka bukan sekadar preman; mereka adalah anjing penjaga Bima.

"Bos ingin bicara soal ketertarikanmu pada arsip lama," ujar pria di tengah, tangannya meraba balik jas.

Liang tidak membuang waktu dengan kata-kata. Ia bergerak lebih cepat dari antisipasi mereka. Satu sentakan pada pergelangan tangan, satu dorongan pada titik saraf, dan pria itu tersungkur tanpa suara. Liang mengambil kartu akses yang terjatuh dari saku pria itu—kunci menuju gudang data digital Bima. Ia tidak hanya mendapatkan bukti fisik; ia mendapatkan akses ke pusat saraf operasional lawannya.

Kembali ke restoran, Liang membentangkan berkas tersebut di depan Nyonya Sari yang pucat pasi. "Ibu, kita tidak akan kehilangan tempat ini. Kita akan menggunakannya untuk menuntut balik."

Saat Tania datang memenuhi panggilan Liang malam itu, ia tidak lagi datang sebagai pejabat yang angkuh. Ia datang sebagai saksi yang ketakutan. Saat Liang menunjukkan berkas asli yang seharusnya sudah musnah, Tania gemetar. Ia tahu, jika dokumen ini sampai ke tangan publik, bukan hanya tender yang akan batal—seluruh jaringan Bima akan runtuh. Liang menatapnya, matanya dingin dan penuh perhitungan. Perang telah dimulai, dan palu lelang dua hari lagi akan menjadi panggung eksekusi bagi mereka yang selama ini merasa berkuasa.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced