Novel

Chapter 3: Palun Lelang dan Kebenaran yang Terungkap

Liang Artha membongkar manipulasi tender Bima Laksana di depan publik dengan bukti valuasi asli dan jejak digital. Bima dipaksa berlutut di depan para investor, sementara Liang menyadari bahwa kemenangannya telah memicu perhatian dari kekuatan yang lebih besar.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Palun Lelang dan Kebenaran yang Terungkap

Ruang Lelang Utama Balai Kota terasa sesak, bukan karena jumlah orang, melainkan karena tekanan udara yang sengaja diciptakan oleh Bima Laksana. Pria itu duduk di baris depan, jas abu-abu mahalnya tampak seperti baju zirah. Di sampingnya, map merah berisi dokumen tender yang sudah ia manipulasi tergeletak dengan angkuh.

Liang Artha duduk di baris belakang, di kursi tamu cadangan yang hampir tak terlihat. Ia tidak membawa pengawal, hanya sebuah map lusuh berisi berkas valuasi asli yang ia restorasi dari catatan dapur ayahnya. Baginya, setiap angka di kertas itu adalah saksi bisu atas pengkhianatan yang dilakukan Bima terhadap warisan keluarganya.

Bima menoleh, senyumnya tipis dan merendahkan. "Kau masih nekat datang, Liang? Restoranmu sudah di ambang sita. Jangan buat dirimu terlihat lebih menyedihkan di depan para investor."

"Aku datang untuk memastikan lelang ini tidak berakhir dengan penipuan," jawab Liang tenang. Suaranya tidak bergetar, justru memotong kebisingan ruangan.

Bima tertawa kecil, melirik ke arah Tania Wulandari yang berdiri kaku di meja panitia. "Tania, segera mulai. Jangan buang waktu dengan orang dapur yang tidak terdaftar."

Tania menatap Liang. Di balik ketenangannya, ia memegang bukti fisik manipulasi yang Liang berikan dua jam lalu. Tangannya gemetar di bawah meja. Ia tahu, jika ia berpihak pada Liang, kariernya tamat. Jika ia diam, ia menjadi kaki tangan penjahat.

Pembawa acara mengetuk palu. "Tender katering kota, penawaran terakhir..."

Liang berdiri. Gerakannya lambat, namun setiap langkahnya membuat orang-orang di sekitarnya menoleh. Ia berjalan ke podium, mengabaikan tatapan tajam Bima.

"Tunggu," suara Liang menggema. "Ada dokumen yang belum diverifikasi."

Bima bangkit, wajahnya memerah karena marah. "Kau tidak punya hak!"

Liang tidak membalas Bima. Ia menatap langsung ke mata Tania. "Tania, tunjukkan berkas valuasi asli yang tersimpan di gudang data internal. Bandingkan dengan map merah di tangan Bima."

Ruangan hening. Bima mencoba merebut map dari tangan panitia, namun Liang lebih cepat. Ia mengeluarkan salinan akses digital gudang data Bima—jejak waktu yang tak bisa dibantah. "Kartu aksesmu sudah tidak ada, Bima. Dan jejak digital ini membuktikan kau mengubah angka valuasi setelah batas waktu registrasi."

Bima mematung. Senyumnya lenyap. Tania, dengan napas yang tertahan, akhirnya membuka map biru di tangannya. "Saya menyatakan secara resmi, angka valuasi yang digunakan Bima Laksana tidak sesuai dengan dokumen asli. Ada manipulasi administratif."

Investor di baris depan mulai berbisik. Seorang pria tua berkacamata, pemilik modal terbesar, berdiri dan menatap Bima dengan dingin. "Tuan Bima, berdirilah di samping. Proses ini dihentikan sementara untuk audit."

Bima mencoba membela diri, namun tidak ada yang mendengarkan. Petugas keamanan mendekat, mengarahkan Bima untuk berlutut di lantai agar dokumen bisa diperiksa. Pria yang tadi tampak seperti penguasa kota kini hanyalah pesakitan di depan umum.

Liang berdiri di samping, menyaksikan papan kekuasaan berubah. Ia tidak merayakan. Ia hanya menunggu. Saat ia melangkah keluar ruangan, ponselnya bergetar.

Pesan anonim muncul di layar: Raja Naga, mereka sudah tahu kau kembali.

Liang menatap layar itu dengan tatapan tajam. Permainan baru saja dimulai.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced