Aroma Arang dan Penghinaan di Restoran Tua
Liang Artha baru saja mengangkat wajan besar dari bara ketika suara hak sepatu menggores ubin ruang makan depan. Suara itu terlalu bersih, terlalu yakin, dan terlalu mahal untuk restoran tua yang hampir mati ini. Ia tidak menoleh. Tangannya bergerak dengan presisi yang sudah mendarah daging: jelaga diseka, pisau disusun sejajar, api arang dirapikan. Di dapur keluarga Artha, bara yang dijaga lebih lama selalu lebih berguna daripada nyala yang meledak sebentar.
Aroma arang kelapa dan lengkuas yang menempel di dinding kusam adalah sisa kejayaan yang kini hanya menjadi saksi tagihan listrik yang menunggak. Liang tetap bekerja, karena berhenti berarti mengakui bahwa restoran ini tinggal menunggu hari untuk disegel.
Dari celah pintu geser, Bima Laksana masuk. Setelan mahalnya memantulkan cahaya lampu kuning, dan senyumnya seperti potongan logam tipis—ramah di permukaan, tajam di bawah. Di belakangnya, dua staf administrasi lelang kota membawa map kulit dan tablet. Mereka tidak datang sebagai tamu; mereka datang sebagai eksekutor.
Pelanggan yang tersisa menurunkan suara. Nama Bima adalah hukum di kota pesisir ini—tender, proyek, dan orang-orang yang kehilangan suara setelah rapat tertutup. Nyonya Sari Artha muncul dari pintu samping, wajahnya keras namun matanya menyimpan kecemasan yang dalam. Di tangannya, surat peringatan utang yang kusut menjadi bukti bahwa mereka sudah di ujung tanduk.
“Ini terakhir kalinya saya datang baik-baik,” kata Bima, suaranya cukup keras untuk didengar seluruh ruangan. “Restoran ini bisa selamat kalau kalian berhenti keras kepala. Kalau tidak, proses sita berjalan. Cepat. Bersih. Tidak ada drama.”
Kakang Darsa, yang sedang membersihkan baki di sudut, membeku. Tangannya gemetar di balik kain lap. Nyonya Sari mengangkat surat itu, suaranya bergetar. “Utang kami tidak sebesar itu. Angkanya sudah dimanipulasi.”
Bima tersenyum, sebuah gestur yang lebih buruk dari kemarahan: keyakinan mutlak. “Di kota ini, angka yang dimanipulasi itulah yang akhirnya jadi resmi, Nyonya. Anda tahu aturan mainnya.” Ia melangkah masuk, membuat pelanggan terdekat mundur. “Bangunannya lelah, manajemennya lemah. Yang dipertahankan cuma nama lama.”
Tatapan Bima beralih ke Liang. “Dan pegawai dapur biasanya paling keras bicara soal warisan. Padahal ujung-ujungnya cuma tahu angkat wajan.”
Liang tidak meledak. Ia tidak membanting sesuatu. Ia hanya menatap Bima dengan wajah datar—seperti permukaan pisau yang baru diasah. “Kalau memang prosesnya bersih,” suara Liang memecah keheningan, “kenapa Anda membawa dua staf lelang ke restoran kecil kami?”
Staf administrasi itu menegakkan punggung. Bima tidak kehilangan senyumnya, namun ia mendekat ke meja kasir. “Saya suka menutup urusan dengan rapi. Tiga hari lagi, tender pasokan katering lelang kota ditutup. Perusahaan saya akan menang. Kalau kalian tidak ikut campur, utang ini lunas. Kalian tetap punya muka.”
Liang melangkah ke meja depan, menempatkan tubuhnya sebagai penghalang yang tenang. “Surat peringatan itu,” katanya, menunjuk stempel merah di kertas yang dipegang ibunya. “Format cap basahnya salah. Hurufnya bukan standar dinas. Urutan lampirannya terbalik. Dan nomor registrasinya tidak cocok dengan format minggu ini.”
Staf itu membeku. Tablet di tangannya mendadak terasa berat. Bima menatap Liang, rahangnya mengeras sesaat sebelum ia kembali tenang. “Kau tahu apa soal format dinas?”
“Cukup untuk membaca kapan orang mencoba memalsukan dokumen resmi.”
Bima tertawa kecil, tapi matanya tidak lagi ramah. “Kau pintar untuk orang dapur. Tapi jangan sok tahu. Tiga hari. Menangkan tender itu, atau restoran ini selesai.”
Bima berbalik dan pergi, meninggalkan surat sita yang menempel di meja kasir seperti cap kekuasaan. Restoran kembali sunyi, namun suasananya telah berubah. Nyonya Sari duduk, tangannya gemetar. “Kau seharusnya tidak menantangnya, Liang.”
“Kalau saya diam, kita mati pelan-pelan,” jawab Liang. Ia menatap Kakang Darsa. “Darsa, kunci lemari arsip belakang.”
Di lorong belakang yang berbau kertas tua, Liang menekan panel kayu di laci bawah lemari jati. Sebuah kompartemen tersembunyi terbuka, menyingkap map biru tua yang tertutup debu. Liang membalik halamannya—tanda valuasi, nomor pengadaan, dan bukti pembelian paksa yang seharusnya sudah musnah.
Kakang Darsa memucat. “Itu berkas yang seharusnya tidak ada.”
Liang menutup map itu. Ia tidak lagi melihat surat sita sebagai ancaman, melainkan sebagai kesalahan fatal Bima. Ia menatap surat itu, lalu tersenyum tipis. “Bima, kau baru saja menandatangani surat kematian bisnismu sendiri.”