Novel

Chapter 5: Chapter 5

Arga dan Bu Ratna memverifikasi lembar pembayaran pelabuhan yang membuktikan jalur bayangan tender. Arga menemukan alamat penerima di luar sistem yang terkait dengan keluarga Maya, memperluas perang ke ranah rumah tangga. Hendra mulai menutup audit, tetapi Arga sudah mengamankan salinan bukti yang lebih tua dari pernikahan yang dipakai untuk menekannya. Di ruang tunggu administrasi pelabuhan, Arga menaruh salinan berkas pembayaran di depan Maya dan membuktikan nama keluarganya sudah terseret ke jalur dana bayangan. Hendra mencoba mengecilkan perkara sebagai administrasi dan memindahkan tekanan balik ke rumah tangga, tetapi Arga membuka map kedua berisi cap tua, ledger, dan lampiran valuasi yang disembunyikan. Julianto melihat uang rekayasa tender mengalir ke alamat rumah yang tak semestinya muncul di sistem. Hendra memaksa audit ditutup, namun Maya tidak lagi membela Hendra; ia meminta Arga jangan menutup semua pintu, menandai hubungan mereka masuk fase yang lebih rawan. Di ruang rapat tender, Hendra mencoba menutup audit dengan prosedur, tetapi Arga membaliknya lewat cap asli, file valuasi, dan berkas pembayaran pelabuhan. Nama keluarga Maya terseret sebagai penerima manfaat, Julianto menghentikan proses tender, dan Hendra kehilangan kendali saat jalur dana ke alamat luar sistem terbuka. Arga menahan penutupan audit Hendra di koridor arsip pelabuhan dan memperoleh salinan berkas pembayaran yang lebih tua dari pernikahan yang dipakai untuk menekannya. Bukti itu mengarahkan selisih tender ke alamat luar sistem, memperdalam perang dari soal nama dan status menjadi jalur uang, rumah tangga, dan legitimasi.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 5

Chapter 5 - Lembar yang Tidak Seharusnya Ada

Arga baru saja menutup map kulit itu ketika Bu Ratna menyodorkan tangan, bukan untuk menerima, melainkan untuk menahan. Di lorong belakang ruang simpan ledger yang sempit dan lembap, staf arsip muda yang dipasang Hendra berdiri di ambang pintu dengan wajah kaku, seolah ruangan ini milik mereka dan Arga hanya penyusup yang harus menunggu izin.

“Berkas itu masih harus diverifikasi atasan,” kata si staf. Suaranya dibuat datar, tapi matanya tidak datar sama sekali. Ia sengaja memandang jam dinding, lalu tangan Arga, seolah ingin memastikan siapa yang tak punya kuasa di sini.

Bu Ratna menggeser tubuhnya sedikit, menutup meja dari pandangan luar. Di atas kayu tua yang mengilap oleh usia dan garam, ada satu lembar pembayaran pelabuhan yang baru ditemukan, pinggirnya masih kaku seperti baru ditarik dari map tersegel. Kertas itu tidak seharusnya ada di ruang arsip harian. Lebih tidak seharusnya lagi: capnya memakai format lama, yang sudah lama dicabut dari sistem resmi.

Arga menahan napas, bukan karena terkejut. Karena ia tahu jenis kertas seperti itu biasanya bukan bukti biasa; itu paku yang bisa menahan seluruh bangunan tipu daya.

“Dia sudah tahu kita masuk ke jalurnya,” bisik Bu Ratna. Jari-jarinya gemetar sedikit, tapi suaranya tetap rendah. “Ada orang di dalam kantor yang menahan lampiran. Kalau Hendra sempat menutup audit, berkas ini hilang.”

Staf itu maju setengah langkah. “Ibu, serahkan saja. Nanti kami kirim ke meja kepala.”

Arga menatapnya sekali, tenang, dan justru karena tenang itulah lelaki muda itu mundur sepersekian detik. Arga mengambil lembar itu lebih dulu, tidak dengan tergesa, melainkan dengan cara orang yang sudah tahu urutan cap, urutan paraf, dan urutan kebohongan. Ia membalik bagian bawahnya ke cahaya lampu arsip.

Satu cap lingkaran tua muncul lebih tegas dari yang lain. Nomor registrasi pada kolom tengah bukan nomor biasa; itu nomor yang seharusnya hanya dipakai untuk pemindahan nilai aset, bukan pembayaran barang. Di sisi kanan, ada pola garis tipis yang menandai pengesahan lampiran—dan tanda itu cocok dengan jejak di ledger pelabuhan yang mereka buka kemarin.

Bu Ratna menghela napas pendek. Itu bukan lega. Itu takut yang berubah menjadi pengakuan.

“Benar,” kata Arga pelan. “Ini jalur bayangan.”

Ia menatap ulang deret angka yang dicetak setengah pudar. Bukan nominal yang pertama kali menarik perhatiannya, melainkan kolom alamat penerima. Di sana tertera alamat yang tidak pernah seharusnya hidup di sistem resmi: sebuah rumah lama di pinggir kawasan gudang, alamat yang dilekatkan pada nama keluarga yang terlalu dekat dengan Maya.

Nama itu menyeret udara di ruangan menjadi lebih dingin.

“Jangan keras-keras,” kata Bu Ratna, kini lebih pucat dari kertas. “Kalau staf ini dengar…”

Arga tidak mengangkat suara. Justru itu yang membuatnya berbahaya.

“Siapa yang kasih file ini ke kamu?” tanyanya pada staf arsip.

Lelaki itu menoleh ke arah pintu, mencari dukungan yang tidak ada. “Saya cuma disuruh jaga. Hendra bilang tidak ada yang boleh fotokopi. Tidak ada yang boleh keluar sebelum audit ditutup.”

Maya.

Nama itu datang ke kepala Arga seperti jarum dingin. Jadi bukan hanya reputasi yang diserang. Rumahnya sudah disentuh. Keluarganya sudah dimasukkan ke dalam daftar penerima manfaat, entah sebagai tameng, entah sebagai umpan, atau keduanya.

Arga melipat lembar itu sekali, lalu dua kali, cukup kecil untuk masuk ke saku dalam jasnya. Tidak ada gerakan dramatis. Tidak ada kata marah. Tapi Bu Ratna melihat perubahan kecil itu dan langsung paham: Arga sudah memilih perang yang lebih besar.

Di luar lorong, ponsel Arga bergetar. Nama Maya muncul di layar. Ia tidak langsung menjawab. Ketika akhirnya menekan terima, suara istrinya terdengar pelan, tertahan oleh suara orang lain di belakangnya.

“Arga… keluarga tanya kenapa nama kita ada di daftar manfaat tender pelabuhan. Ibu bilang itu salah cetak, tapi… ada cap yang sama.”

Arga menutup mata sesaat. Jadi Hendra bukan sekadar menekan lewat kantor. Ia sudah masuk ke rumah, memutar malu menjadi urusan keluarga.

“Aku tahu,” katanya singkat. “Jangan tanda tangani apa pun. Jangan beri mereka satu pun salinan.”

Panggilan itu terputus sebelum ada waktu untuk pertanyaan lain.

Bu Ratna menatap pintu, lalu Arga. “Kamu harus keluar dari sini sekarang. Mereka akan menutup audit sebelum siang.”

“Biarkan mereka coba.”

Kalimat itu keluar pelan, nyaris tanpa suara, tapi menempati ruang lebih besar dari teriakan mana pun.

Arga memasukkan salinan yang baru difoto ke folder tipis di dalam tasnya. Satu lembar pembayaran pelabuhan itu kini sudah cukup untuk memindahkan permainan dari sekadar nama ke aliran uang. Jika alamat itu benar, maka hasil rekayasa tender tidak hanya dipindahkan dari nilai aset—ia dialirkan ke rumah yang dipakai untuk menekan istrinya.

Di ujung lorong, staf arsip muda itu sudah mengangkat telepon. Arga tidak menahan dia. Tidak perlu. Ia sudah punya apa yang lebih berbahaya daripada izin: jalur dana.

Saat ia melangkah keluar, Bu Ratna menahan ujung lengan bajunya sekali, sangat singkat. “Kalau Hendra paksa audit ditutup…”

“Dia akan mencoba,” kata Arga.

Bu Ratna memandangnya seperti orang yang baru sadar ledgers tua tidak hanya menyimpan sejarah; mereka juga menyimpan hak untuk membalas.

Arga pergi dengan lembar pembayaran yang dicap lebih tua dari pernikahan yang sedang dipakai untuk menekannya.

Chapter 5 - Nama Maya di Kolom Penerima

Kursi plastik di ruang tunggu administrasi pelabuhan berderit saat Maya dipaksa duduk di depan loket cap. Dua kerabat Pradipta—paman dan sepupu yang sejak pagi sudah lebih dulu menerima kabar dari Hendra—menjaga sisi kanan kirinya seperti penjaga warisan. Di meja, selembar formulir diputar ke arah Maya. Kolom penerima manfaat sudah terisi nama keluarga mereka, seolah-olah rumah tangganya tinggal tanda tangan terakhir.

Arga datang tanpa suara tinggi, hanya dengan map cokelat yang sudutnya mulai lembap oleh udara asin kantor. Ia tidak langsung bicara pada Hendra, yang berdiri dekat loket dengan setelan rapi dan wajah tenang seperti orang yang sedang mengurus hal biasa. Arga justru meletakkan satu salinan berkas pembayaran pelabuhan di atas meja, tepat di depan Maya.

“Lihat baris ini,” katanya datar.

Maya menunduk. Di sana ada nomor transaksi, cap lama, lalu nama keluarganya muncul sebagai salah satu penerima manfaat dalam jalur yang tidak pernah ia tahu ada. Nama itu kecil, tapi cukup untuk membuat telinganya panas. Kerabatnya saling pandang. Paman yang sejak tadi menggurui langsung menutup mulutnya.

Hendra tersenyum tipis. “Itu hanya penyebutan administratif. Jangan dibesar-besarkan.”

Arga tetap tenang. “Kalau hanya administratif, kenapa alamatnya bukan alamat kantor? Kenapa masuk ke rumah yang bahkan tidak tercatat sebagai pihak proyek?”

Tidak ada bentakan. Yang ada hanya keheningan yang menempel lebih kuat daripada teriakan. Notaris yang tadi masih bersiap meneruskan verifikasi ikut menahan pena. Julianto, yang datang belakangan untuk melihat sisa situasi setelah tender sempat dihentikan, membaca satu halaman itu sekali, lalu dua kali. Wajahnya tidak berubah banyak, tapi jarinya berhenti di atas meja. Itu cukup. Di ruangan seperti ini, jeda lebih mahal daripada emosi.

Maya merasakan tekanan keluarga bergeser. Tadi pagi mereka memintanya menjaga nama baik dan jangan menambah malu Pradipta. Sekarang nama baik itu justru tertulis di jalur uang. Jika ia berdiri di sisi keluarga, ia ikut menutup mata terhadap aliran dana yang membawa nama mereka ke dalam rekayasa. Jika ia mengikuti Arga, ia menolak narasi aman yang sudah dipaketkan untuknya sejak pagi.

Hendra bergerak satu langkah ke depan, tetap sopan, tetap rapi. “Arga, kamu belum paham konteks. Audit internal sedang berjalan. Tidak perlu membuat istri kamu panik.”

Kalimat itu sengaja ditaruh seperti jarum. Maya menangkapnya: bukan untuk menjawab Arga, tetapi untuk menempatkannya kembali sebagai beban rumah tangga. Kerabatnya langsung mengambil napas, siap menganggap sumber masalah adalah Arga, bukan dokumen.

Namun Arga tidak terpancing. Ia hanya membuka map kedua, yang sejak awal disimpannya di bawah lipatan kertas lain. Di dalamnya ada salinan cap yang lebih tua dari pernikahan mereka, bukti dari ledger pelabuhan, dan lampiran valuasi yang pernah disembunyikan agar angka aset tampak lebih rendah. Semua itu ia susun tanpa tergesa, seolah menata barang di meja kerja, bukan menyerang orang.

Bu Ratna tidak muncul di ruangan, tetapi jejak tangannya terasa di setiap nomor arsip. Itulah yang membuat Hendra kehilangan kecepatan sesaat. Ia sadar file yang ia kira sudah terkunci ternyata sudah berpindah tangan lebih dari sekali.

Julianto mengangkat kepala. “Ini bukan lagi soal penyesuaian nilai,” katanya pelan. “Ada alamat luar sistem di sini.”

Arga membiarkan kalimat itu jatuh. Satu berkas pembayaran pelabuhan terbuka di tengah meja, dan di halaman belakangnya tertera aliran uang hasil rekayasa tender menuju alamat yang seharusnya tak pernah muncul di sistem. Bukan kantor, bukan vendor resmi, bukan rekening proyek. Alamat rumah.

Maya membaca alamat itu dan merasakan sesuatu di dadanya runtuh, lalu mengeras. Ia tidak lagi sedang memilih antara suami dan keluarga; ia sedang melihat siapa yang sudah lebih dulu menjual nama keluarganya.

Hendra melihat perubahan itu. Senyumnya tidak hilang, tetapi matanya menajam. “Audit ini ditutup sekarang,” katanya ke notaris, nada suaranya tetap halus, tetapi sudah memerintah. “Kita lanjutkan setelah verifikasi ulang.”

“Tidak,” kata Arga.

Satu kata. Dingin. Cukup.

Ia menepuk map cokelat itu sekali, ringan saja, lalu menatap Maya. “Aku belum menutup semua pintu. Tapi aku juga tidak akan membiarkan mereka pakai rumahmu untuk menyembunyikan uang.”

Maya tidak membela Hendra. Itu perubahan yang terlihat, lebih mahal daripada perdebatan apa pun. Ia menekan bibirnya, lalu berkata kepada Arga, suaranya rendah dan rawan, “Jangan tutup semua pintu dulu. Kalau kamu paksa semua sekarang, mereka akan hancurkan sisanya juga.”

Di ruangan cap yang berbau tinta tua dan garam, Arga paham: istrinya baru saja keluar dari barisan keluarga, tapi belum sepenuhnya masuk ke sisinya. Itu lebih berbahaya, dan lebih berharga.

Chapter 5 - Rapat yang Tidak Bisa Ditutup Rapi

Begitu pintu ruang rapat tender ditutup, Hendra sudah lebih dulu menutup wajah orang lain dengan prosedur. Di meja kaca tua itu, notaris duduk tegak dengan map biru, dua staf tender menahan pena, dan Julianto Wibowo menatap seolah Arga datang untuk diminta mengucap maaf. Aroma garam dari pelabuhan masuk lewat AC yang lemah, bercampur tinta stempel dan kertas lama.

“Rapat ini hanya audit administratif,” kata Hendra tenang, seperti seorang pria yang sedang membacakan cuaca. “Kita tidak akan membahas spekulasi di luar dokumen resmi.”

Arga tidak duduk segera. Ia meletakkan map cokelat di meja, lalu baru menarik kursi. Gerakannya pelan, tapi cukup untuk membuat semua mata berhenti pada tangannya. Di luar, koridor kantor sudah penuh orang yang sengaja pura-pura lewat.

“Itu bagus,” ujar Arga. “Karena saya juga tidak datang membawa spekulasi.”

Hendra tersenyum tipis. “Kalau begitu, Anda tidak keberatan proses ini ditutup hari ini. Bukti Anda sudah kami catat. Sisanya akan diperiksa sesuai jadwal.”

Julianto menggeser kacamata. “Kalau cap dan nomor arsip cocok, saya lanjut. Kalau tidak, saya pergi.”

Itu ancaman paling sopan di ruangan itu.

Arga membuka map cokelat. Bukan dengan tergesa, melainkan dengan ketelitian orang yang tahu satu lipatan salah bisa dipakai untuk meragukan seluruh isi. Di atas meja, ia keluarkan fotokopi salinan ledger, lembar valuasi, dan satu berkas pembayaran pelabuhan yang masih menyimpan bekas cap basah di pojok kanan.

“Yang Anda coba tutup bukan soal prosedur,” kata Arga. “Ini soal jalur dana.”

Hendra menatap lembar paling atas, lalu mengangkat alis. “Lembar fotokopi bisa dibuat siapa saja.”

“Betul.” Arga mengangguk. “Karena itu saya bawa yang dicap asli.”

Ia mendorong satu salinan lain ke tengah meja. Di sudutnya, cap lingkaran berkuasa lama masih tajam, lebih tua dari pernikahan Hendra dengan Maya yang dipakai keluarga untuk menekan Arga. Itu bukan simbol kosong; itu jejak struktur lama pelabuhan yang hanya dimiliki orang-orang yang dulu bisa membuka gudang, memindahkan kapal, dan menutup mulut pejabat tanpa harus mengangkat suara.

Notaris mencondongkan badan. Jarinya menyapu nomor arsip, lalu berhenti.

“Cap ini aktif pada periode yang sama dengan ledger lama,” katanya datar. “Dan nomor lampiran ini berpasangan dengan file valuasi yang sebelumnya dinyatakan hilang.”

Dua staf tender saling pandang.

Arga membuka lembar berikutnya. Pada kolom penerima manfaat, nama keluarga Maya muncul jelas. Bukan sebagai kebetulan, bukan sebagai tanda tangan pinjaman. Ada rangkaian transfer kecil yang rapi, menyebar dari pembulatan nilai aset yang sengaja diturunkan.

Rahang Maya—yang sejak tadi berdiri di ambang pintu, dipanggil masuk tanpa suara oleh sekretaris—mengencang begitu namanya sendiri terseret. Di samping nama itu, ada nama keluarganya. Wajahnya tidak meledak. Justru itu yang membuat ruangan mendadak dingin; ia tahu aib semacam ini tidak butuh teriakan untuk mematahkan rumah tangga.

“Arga,” ucapnya pelan, nyaris tak terdengar.

Hendra memiringkan kepala. “Ini jelas bukan tempat untuk drama keluarga.”

“Bukan drama,” jawab Arga. “Ini bukti orang di rumah Anda sudah dibeli lebih dulu.”

Julianto menatap satu per satu halaman yang disusun Arga. Satu per satu angka di sana menggeser warna wajahnya dari skeptis menjadi waspada. Ia tidak menyukai kejutan, tetapi ia lebih tidak suka menjadi pihak terakhir yang diberi tahu.

“Berhenti,” katanya kepada notaris.

Notaris mengangkat kepala.

“Jangan lanjutkan proses tender ini sebelum sumber dana dijelaskan.” Suara Julianto tenang, tetapi keputusan itu jatuh seperti pintu besi. “Saya tidak menandatangani apa pun dengan lampiran yang bergerak seperti ini.”

Ruang rapat tidak langsung ramai. Justru karena semua orang menahan napas, kehancuran kecil itu terdengar jelas: pena staf tender berhenti, map biru Hendra tidak lagi terlihat resmi, dan Hendra untuk pertama kalinya kehilangan ritme. Ia masih duduk tegak, tapi kendali yang biasa melekat di suaranya terlepas satu nada.

“Pak Julianto,” katanya, “kita bisa selesaikan ini secara tertutup.”

“Kalau tertutup, kenapa ada nama yang tidak seharusnya ada di sistem?” Julianto menekan lembar pembayaran itu dengan satu jari. “Dan kenapa uang hasil rekayasa ini mengalir ke alamat yang tidak pernah tercatat dalam daftar resmi pelabuhan?”

Arga melihat arah tatapan Julianto jatuh pada baris paling bawah. Satu alamat luar sistem. Satu pintu yang seharusnya tidak pernah muncul di arsip mana pun. Itu bukan lagi dugaan; itu jalur uang, jalur lemah yang akhirnya bicara.

Hendra menatap Arga seperti baru sadar bahwa pria yang selama ini ia perlakukan sebagai pegawai biasa bukan sekadar menyimpan dokumen. Ia menyimpan waktu.

“Rapat ini selesai,” ujar Hendra, mencoba merebut kembali ujung meja. “Audit ditutup sekarang.”

Arga tidak bergeser. Tangannya sudah memegang salinan lain—capnya lebih tua dari pernikahan yang sedang dipakai untuk menekannya. Dan di dalam map itu, masih ada satu lembar pembayaran yang menunjukkan uang rekayasa tender mengalir ke alamat yang seharusnya tak pernah muncul di sistem.

Chapter 5 - Alamat yang Tidak Pernah Tertulis

Arga baru menutup pintu ruang fotokopi arsip ketika staf administrasi itu menyelip masuk lagi, napasnya pendek, wajahnya pucat karena diburu perintah Hendra. "Pak, berkas pembayaran yang tadi... disuruh ambil semua. Yang ada lampiran alamatnya juga." Ia tidak menunggu jawab; tangannya sudah meraih map abu-abu di meja, seolah takut kertas itu sendiri bisa ditangkap.

Bu Ratna berdiri di ujung koridor belakang, dekat lemari besi yang catnya mengelupas. Ledgers tua masih tergeletak di atas troli, bau garam dan tinta arsip menempel di udara. "Jangan kasih mereka salinan asli," katanya datar, matanya tidak lepas dari ujung koridor tempat langkah sepatu Hendra mulai terdengar. "Kalau audit ditutup, jejak uangnya akan dikubur di bawah alasan administrasi."

Arga tidak bergerak cepat. Ia justru mengambil satu lembar, menahan tepinya dengan dua jari, membaca nomor register, cap, lalu lampiran alamat yang ditulis di kolom paling bawah. Angka-angkanya tidak besar, tetapi cukup untuk membuat jalur bayangan itu terlihat: selisih valuasi, pembayaran ke vendor fiktif, dan satu alamat luar sistem yang seharusnya tidak mungkin lolos dari kontrol pelabuhan.

Di ujung koridor, Hendra muncul dengan dua staf di belakangnya. Rapi seperti biasa, suara tenangnya justru lebih tajam dari teriakan. "Semuanya kembali ke meja. Audit internal ditutup sampai ada instruksi baru." Ia menatap Arga seolah sedang menegur pegawai yang salah tempat. "Pak Arga, Anda sudah cukup jauh dari batas wewenang."

Arga mengangkat pandangannya sedikit saja. "Kalau ini ditutup, yang hilang bukan wewenang saya. Yang hilang uangnya." Kalimat itu tidak tinggi, tapi cukup keras untuk membuat staf administrasi berhenti di tengah langkah.

Hendra tersenyum tipis, namun telinganya langsung menangkap bahaya. "Anda tidak mengerti mekanisme tender."

"Saya justru mengerti siapa yang memalsukannya," jawab Arga.

Bu Ratna bergerak satu langkah, menempelkan map lain ke lengan Arga. "Ini salinan yang lebih tua dari pernikahan yang kalian pakai untuk menekan dia," katanya, suaranya kering. "Capnya dari seri yang sudah tidak dipakai sejak struktur lama pelabuhan masih hidup. Kalau kalian mau menutup audit, silakan. Tapi salinan ini sudah punya tanggal, nomor arsip, dan lampiran alamat yang sama."

Wajah Hendra tidak pecah, hanya mengeras. Di belakangnya, staf administrasi yang tadi hendak menarik berkas mendadak menurunkan mata. Arga menangkap itu: orang itu sudah melihat nama yang tidak seharusnya muncul. Nama Maya. Nama keluarga Pradipta. Tertera di daftar penerima manfaat, berdampingan dengan pos-pos pembayaran yang dipindah lewat jalur bayangan.

Itu cukup untuk mengubah permainan. Bukan lagi sekadar tender, bukan lagi sekadar nama Arga yang dipermalukan di ruang lelang. Ini masuk ke rumah. Ke meja makan. Ke harga diri Maya.

Hendra maju setengah langkah, nada suaranya tetap halus, tetapi sekarang ada tekanan kantor yang biasa dipakai untuk mematahkan orang tanpa suara. "Arga, serahkan berkas itu. Jangan paksa saya memanggil keamanan."

"Keamanan akan terlambat," kata Arga. Ia membuka halaman kedua, lalu menggeser lembar itu ke arah Bu Ratna. "Nomor arsip ini mengarah ke file valuasi yang disembunyikan. Yang ini bukan sekadar potongan. Ini jalur uang."

Bu Ratna membaca cepat, lalu menarik napas pendek—satu-satunya tanda bahwa ia benar-benar terkejut. "Alamat ini... bukan alamat gudang," gumamnya. "Ini alamat rumah tua di luar sistem. Tak ada yang pernah mendaftarkannya ke daftar resmi."

Hendra memandang kertas itu, lalu stafnya, lalu Arga. Untuk pertama kalinya, ia tidak sedang mengatur ruangan; ia sedang menilai seberapa cepat runtuhnya bisa ditahan. "Semua berkas harus dikumpulkan," katanya, lebih pelan dari sebelumnya. "Audit ditutup sekarang."

Arga memasukkan salinan itu ke dalam map tipis yang sudah ia siapkan dari awal, gerakannya bersih, dingin, seperti orang yang sudah tahu kapan lawan akan panik. Ia tidak menantang lebih jauh. Ia tidak perlu.

Karena dari lembar itu, ia sudah melihat hal yang lebih penting daripada tuduhan: uang hasil rekayasa tender mengalir ke alamat yang seharusnya tak pernah muncul di sistem. Dan saat Hendra memaksa audit ditutup, Arga justru sudah memegang salinan yang dicap lebih tua dari pernikahan yang sedang dipakai untuk menekannya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced