Chapter 4
Pagi belum benar-benar naik ketika Arga sudah berdiri di depan meja administrasi pelabuhan, di ruang arsip tua yang lembap dan sempit itu, dengan tiga orang menatapnya seolah ia tersangkut di tempat yang bukan miliknya. Yang paling depan adalah notaris tender, kaku dalam kemeja abu-abu, map hitam di pangkuan. Di belakangnya dua staf administrasi menahan napas, siap mengiyakan apa pun yang sudah ditulis lebih dulu. Dan di samping lemari besi, Hendra Salim bersandar santai, lengan terlipat, wajahnya tenang seperti orang yang sudah menutup semua pintu.
“Karena Saudara Arga masih berupaya mengganggu proses,” kata notaris itu datar, “kami bacakan penangguhan hak atas daftar penerima manfaat dan evaluasi tender yang sedang berjalan.”
Arga tidak langsung menjawab. Matanya turun ke sudut map hitam itu. Cap merah di sana—lingkaran tua yang pinggirnya sedikit retak—membuat rahangnya mengencang. Cap itu bukan cap baru. Ia pernah melihatnya di ledger pelabuhan malam sebelumnya, tertutup debu dan bau garam yang menempel pada kertas lama.
Hendra menangkap gerakan mata itu dan tersenyum tipis. “Agar tidak salah paham di depan saksi, lebih baik Saudara menerima saja penangguhan ini. Kita tunggu verifikasi ulang. Semua akan kembali sesuai tempatnya.”
“Tempatnya?” Arga menatapnya pendek. Suaranya rendah, nyaris tanpa warna. “Kalau tempatnya benar, tidak perlu disembunyikan di map orang lain.”
Notaris membuka map, menggeser selembar surat ke tengah meja. “Secara formal, Saudara tidak lagi memiliki posisi bicara dalam sesi tender hari ini.”
Arga mengambil kertas itu, bukan untuk membaca isinya, melainkan untuk memeriksa tepi cap dan nomor arsip di bawah tanda tangan. Tangannya tenang. Jarinya berhenti tepat di sana, lalu ia mengangkat surat itu sedikit ke arah cahaya dari jendela sempit. Ada ketidaksamaan kecil pada nomor registrasi: satu digit yang tidak nyambung dengan urutan arsip yang biasa dipakai pelabuhan.
“Nomor ini keluar dari jalur masuk-keluar hari ini,” katanya.
Salah satu staf administrasi langsung gelisah. “Itu… prosedur internal.”
“Bukan.” Arga menurunkan surat itu. “Kalau internal, tidak akan menyalin format surat lama yang sudah dipakai sejak folder kepelabuhanan masih ditulis tangan.”
Ruangan mendadak sunyi. Bu Ratna, yang sejak tadi berdiri setengah tertutup rak besi, mengangkat wajah. Ia tidak bicara, tetapi matanya bergerak cepat ke nomor arsip yang baru saja disebut Arga. Ada ketegangan kecil di rahangnya—orang yang sedang memutuskan apakah akan terus diam atau akhirnya melangkah.
Hendra menyandarkan kepala ke lemari besi, seolah tidak ada yang penting. “Saudara terlalu jauh masuk ke urusan yang tidak Saudara pahami. Jangan mengganggu administrasi pelabuhan dengan sok tahu.”
Arga memandangnya sekali lagi, lalu menoleh ke Bu Ratna. “Ledger asli masih ada?”
Pertanyaan itu tidak ditujukan kepada Hendra. Justru karena itu, semua mata beralih ke Bu Ratna. Perempuan tua itu sempat menahan napas. Ada rasa takut yang nyata di sana—takut yang lahir dari pengalaman, bukan drama.
“Masih,” jawabnya akhirnya, pendek.
Hendra mendengus kecil. “Kalau Anda menaruh ledgers tua di atas penangguhan resmi, kita makin cepat selesai. Silakan, kalau mau mempermalukan diri sendiri.”
Arga menutup surat itu, menyerahkannya kembali ke meja, lalu berkata pelan, “Saya memang mau melihat yang asli.”
Kalimat itu cukup untuk membuat notaris menoleh, lalu menatap Hendra seakan meminta izin. Hendra memberi anggukan kecil, terlalu ringan untuk disebut setuju, terlalu lambat untuk disebut menolak. Maka Bu Ratna bergerak.
Ia mengeluarkan kunci dari saku apron tua, membuka pintu besi sempit di belakang rak, dan mempersilakan Arga masuk tanpa satu kata pun. Koridor di belakang ruang administrasi lebih dingin, penuh bau kertas basah, debu arsip, dan karat. Dua staf keamanan yang berjaga di ujung lorong langsung menegakkan badan ketika melihat Arga lewat. Salah satunya hendak menutup akses, tetapi Bu Ratna sudah lebih dulu menunjukkan kartu arsip yang jarang dipakai.
“Dia masuk dengan izin saya,” katanya.
Kalimat itu tipis, tapi cukup. Di pelabuhan, izin kecil kadang lebih tajam daripada ancaman besar.
Ruang arsip di belakang kantor itu sempit seperti perut kapal. Lemari besi berjajar dengan pintu yang mulai melengkung, meja kopi tua berada di tengah, dan di atasnya dua ledger besar terbaring seperti benda yang terlalu berat untuk disebut dokumen biasa. Satu sampulnya retak di pinggir. Satu lagi penuh bekas jari dan debu yang menebal di sela lipatan. Bu Ratna menyentuh yang paling tua dengan ujung jarinya, pelan, hampir hormat.
“Yang ini jangan dibaca keras-keras,” katanya. “Banyak nama di dalamnya masih punya gigi.”
Arga membuka map tipis dari nomor arsip yang diberikan Bu Ratna sebelumnya. Di dalamnya ada salinan valuasi yang sempat disembunyikan dari berkas utama. Ia meletakkan salinan itu di samping ledger, lalu mulai mencocokkan angka tanpa banyak gerak. Tidak ada ledakan, tidak ada teriakan. Hanya tatapan yang makin dalam.
Bu Ratna berdiri di dekat pintu, seakan siap menutupnya jika seseorang datang. “Kalau saya salah bantu kamu, saya yang dihabisi duluan,” ujarnya rendah.
“Kalau kamu tidak bantu, mereka tetap akan pakai arsip ini untuk menghabisi orang lain,” jawab Arga.
Ia membalik halaman pertama. Lalu halaman kedua. Kemudian berhenti.
Ada pola yang terlalu rapi untuk disebut kelalaian. Nilai aset diturunkan pada satu kolom, dinaikkan di kolom lain, lalu dipindahkan ke lampiran yang tidak pernah masuk daftar utama. Angka-angka itu sengaja dibuat menyilang, seolah seseorang ingin menyamarkan arah uang dengan kebingungan administratif. Bukan manipulasi kasar. Lebih berbahaya: manipulasi yang tahu cara membuat orang sibuk memperdebatkan format sambil kehilangan isi.
Jari Arga berhenti di satu baris. “Ini bukan salah input.”
Bu Ratna mengangguk pelan, wajahnya makin suram.
“Nilai blok timur diturunkan tiga belas persen,” lanjut Arga, “lalu selisihnya dialihkan ke penawaran yang dipakai Hendra. Tapi lihat di sini—nomor lampiran ini tidak pernah masuk ke berkas tender terbuka.”
Ia menggeser salinan valuasi ke depan Bu Ratna. Perempuan itu membaca cepat, lalu menarik napas singkat. “Itu file yang saya curigai hilang sejak minggu lalu.”
“Tidak hilang,” kata Arga. “Disembunyikan.”
Ia membuka halaman berikutnya dan menemukan sesuatu yang membuat matanya tidak berkedip. Di pojok bawah ada cap lingkaran tua yang sama seperti di surat penangguhan. Di bawahnya, di antara daftar struktur lama pelabuhan, masih ada nama Arga Pradipta. Bukan sebagai petugas biasa. Bukan sebagai orang pinggiran. Namanya tercatat di bawah garis struktur yang lebih tua, seolah pernah punya tempat yang sekarang sengaja dihapus dari wajah publiknya.
Bu Ratna melihat arah pandang Arga dan langsung paham. Wajahnya menegang.
“Cap itu…” katanya lirih.
“Masih hidup,” ujar Arga.
Di luar ruang arsip, langkah sepatu terdengar mendekat. Satu, dua, lalu berhenti. Hendra tidak masuk, tetapi suaranya menembus dinding tipis dengan tenang yang lebih jahat daripada bentakan.
“Bu Ratna,” katanya dari koridor, “jangan beri akses yang tidak tercatat. Kita punya penanggung jawab di atas Anda.”
Bu Ratna tidak menjawab.
Arga menutup ledger setengah, lalu memeriksa baris yang menautkan valuasi ke nomor pembayaran. Di situ ada satu alamat yang tidak semestinya muncul di sistem. Bukan alamat kantor. Bukan alamat gudang. Bukan alamat yang bisa dibenarkan dengan alasan teknis.
Ia menyalin nomor itu cepat ke selembar catatan kecil.
“Ini jalurnya,” katanya.
Bu Ratna menatapnya, lalu—untuk pertama kalinya sejak Arga masuk—memilih berdiri lebih dekat ke meja. Sekutunya masih hati-hati, tapi tidak lagi ragu. “Kalau nomor ini diserahkan ke ruang lelang, Hendra tidak bisa bilang ini cuma selisih administrasi.”
Arga mengangguk. “Dia juga tidak akan sempat menutup semuanya kalau kita bergerak sekarang.”
Mereka keluar dari ruang arsip dengan cepat, bukan berlari, tapi juga tidak berjalan santai. Di lorong, dua staf keamanan menatap mereka lewat sebelum sengaja memalingkan wajah. Bu Ratna membawa ledger kecil di bawah lengan, sementara Arga membawa salinan valuasi dan catatan nomor alamat itu seperti senjata yang belum ditembakkan.
Ketika mereka kembali ke ruang lelang pelabuhan, suasana sudah mulai mengeras. Investor duduk dengan wajah-wajah tertutup, notaris menumpuk berkas, dan Julianto Wibowo berdiri di dekat meja panjang, satu tangan di saku, pandangan dingin menunggu alasan untuk pergi. Hendra ada di sisi kanan meja, tetap rapi, tetapi garis mulutnya sedikit lebih kaku daripada tadi.
Arga masuk dan ruangan langsung tahu ada sesuatu yang berubah.
Bukan karena suaranya keras. Justru karena tidak keras.
“Proses tadi boleh ditunda,” katanya kepada notaris, “tapi penangguhan yang dipakai untuk menutup akses saya sahnya dipotong dari surat yang cacat.”
Hendra menoleh tipis. “Saudara memaksa ruang ini jadi panggung karena tidak suka hasil lelang.”
Arga menaruh salinan valuasi di atas meja, tepat di depan notaris. “Saya tidak perlu panggung. Saya perlu angka yang benar.”
Notaris membuka lembar pertama, lalu membaca nomor arsip yang ditandai Bu Ratna. Wajahnya berubah sedikit. Ia membaca lagi, lebih pelan. “Ini… lampiran yang tidak masuk paket resmi.”
Julianto mengangkat alis, tanda pertama minatnya berubah dari dingin menjadi tajam.
Arga menunggu satu detik, lalu melanjutkan, “Nilai blok timur diturunkan untuk membuka ruang mark-up di jalur pembayaran. Uang selisihnya tidak berhenti di tender. Masuk ke rekening bayangan yang diikat pada alamat di luar sistem.”
Hendra tersenyum kecil, masih mencoba mempertahankan wajah sopan. “Semua itu tuduhan yang indah. Tapi Anda datang dengan fotokopi.”
Arga menatapnya langsung. “Dan Anda datang dengan surat penangguhan palsu.”
Notaris mengangkat cap merah dari dokumen, memeriksa ketidaksesuaian format yang tadi sudah dilihat Arga. Telapak tangannya berhenti bergerak. Ruangan itu menyusut, seolah semua orang di sana memegang napas yang sama.
Julianto menggeser kursinya sedikit ke depan. “Kalau cap dan nomor arsipnya tidak cocok, saya tidak akan lanjutkan sesi hari ini.”
Hendra langsung mengubah nada. “Pak Julianto, jangan tergesa. Ini masih bisa dijelaskan di jalur internal.”
“Tidak,” kata Arga.
Satu kata itu cukup menutup jalur lama.
Ia membuka halaman berikutnya, lalu menunjuk satu nama di daftar penerima manfaat. Maya Pradipta.
Di awalnya, Maya hanya berdiri di sisi belakang ruang lelang, tangan memegang map kecil yang dibawa seorang staf keluarga. Arga belum melihatnya masuk. Entah sejak kapan ia ada di sana, mungkin karena kabar penangguhan sudah sampai lebih dulu ke rumah, mungkin karena seseorang sengaja memanggilnya untuk menyaksikan semua ini. Wajahnya tetap tenang, tapi ketenangan itu retak saat matanya turun ke baris yang ditunjuk Arga.
Nama keluarganya ikut terseret.
Bukan nama suaminya saja. Bukan nama kerjaan, bukan nama pinjaman. Nama keluarganya, yang jelas-jelas ditarik ke dalam daftar penerima manfaat dari rekayasa yang sedang dibongkar itu.
Maya memucat. Tangannya mengencang pada map sampai ujung kertasnya melengkung.
Arga membaca perubahan itu lebih cepat daripada orang lain. Di wajah Maya, bukan hanya terkejut. Ada pengenalan yang pahit—seolah ia baru sadar ada sesuatu di rumah yang sudah lebih dulu dibeli sebelum perang ini sampai ke pintu mereka.
Hendra melihat momen itu dan segera memanfaatkannya. “Itu keterlibatan keluarga, bukan bukti,” katanya cepat. “Jangan putar semua jadi fitnah rumah tangga.”
Arga tidak menoleh ke Hendra. Matanya tetap pada daftar itu, lalu pada Maya.
“Kalau nama keluargamu muncul di sini,” katanya pelan, cukup untuk didengar orang terdekat, “berarti ada orang di rumah yang sudah lebih dulu dijangkau.”
Maya menelan ludah. Ia ingin menyangkal, tetapi tidak menemukan kata yang kuat.
Notaris menatap daftar itu, lalu angka di lembar pembayaran yang menyertainya. Wajahnya mengeras. “Ada tanda transfer yang saya tidak lihat di berkas utama.”
Arga menggeser halaman berikutnya ke tengah meja. Satu berkas pembayaran pelabuhan. Di dalamnya, jalur uang hasil rekayasa tender bergerak ke alamat yang tidak semestinya ada di sistem. Alamat yang sama seperti yang tadi ia catat dari ruang arsip.
Ruangan itu diam.
Bukan diam kosong. Diam yang membuat semua orang paham: ini sudah bukan soal kesalahan administrasi. Ini perang uang, perang keluarga, perang nama.
Julianto menatap angka itu beberapa detik lebih lama daripada yang lain. Lalu ia bersandar sedikit ke belakang, mata tetap di atas meja. “Sesi ini dihentikan sampai verifikasi lengkap dilakukan.”
Hendra membuka mulut, tetapi kali ini tidak ada kalimat yang cukup cepat untuk menyelamatkannya.
Arga melihatnya gagal mengambil papan kendali, lalu kembali ke Maya. Nama keluarga itu masih terbaring di atas kertas seperti noda yang tak bisa dihapus cepat. Dan di situ Arga mengerti: orang rumah bukan sekadar terdampak. Ada yang sudah dibeli lebih dulu, cukup lama untuk menaruh nama mereka di daftar yang salah.
Di balik dingin ruang lelang, kemarahan Arga tidak meledak. Ia malah menjadi lebih tenang.
Karena sekarang ia tahu arah berikutnya.