Jebakan yang Menjadi Senjata
Bau melati sintetis di ruang direksi Siska terasa mencekik, beradu dengan aroma kopi hitam yang dingin. Siska menatap layar monitor, di mana kurva tender Rumah Sakit Medika Utama bergerak naik. Baginya, angka-angka itu bukan sekadar data; itu adalah tangga untuk memanjat hierarki elit kota.
"Singkirkan Arjuna sebelum makan siang," perintah Siska tanpa menoleh. Suaranya datar, seolah sedang membuang sampah. "Dia sudah tidak berguna. Kehadirannya hanya mencemari citra keluarga kita di mata para investor."
Siska merasa aman. Arjuna hanyalah pion yang patah, menantu pecundang yang ia gunakan sebagai tumbal administratif. Namun, ketenangan itu retak saat ponsel di atas meja mahoninya bergetar. Sebuah notifikasi pesan anonim muncul: 'Audit internal tidak akan melihat detail ini, tapi pihak berwenang pasti akan menyukainya.'
Siska mendengus, menganggapnya lelucon. Namun, saat ia membuka lampiran pesan tersebut, napasnya tertahan. Itu bukan surat kaleng. Itu adalah salinan digital buku besar rahasia perusahaannya—dokumen yang seharusnya terkunci di server pusat—yang merinci setiap aliran dana dari perusahaan cangkang untuk pencucian uang tender. Tangannya gemetar. Siapa yang berani? Siapa yang memiliki akses ke data yang bahkan tidak diketahui oleh auditor pribadinya?
Di parkir bawah tanah, Arjuna berdiri di samping pilar beton, menatap layar ponselnya yang menampilkan data transaksi yang sama. Langkah kaki berat menggema—Handoko, auditor internal yang disuap Siska, muncul dengan wajah merah padam. Dua pria berbadan tegap mengikuti di belakangnya.
"Serahkan ponsel itu, Arjuna," suara Handoko berat, mencoba menutupi kegugupan.
Arjuna tidak bergeming. "Kau pikir memecatku akan menghapus jejak pencucian uang ini?" tanya Arjuna tenang. Suaranya kontras dengan dengung lampu neon yang berkedip.
Handoko tertawa sinis, meski matanya melirik gelisah. "Kau hanya administrasi rendahan. Siska tidak akan segan melenyapkanmu."
Arjuna memutar ponselnya, memperlihatkan catatan pajak yang telah dimanipulasi oleh Handoko sendiri. "Aku tahu kau menggelapkan tiga miliar rupiah untuk menutupi hutang judimu. Jika file ini kuserahkan ke pihak berwajib, bukan hanya Siska yang tumbang. Kau akan menjadi orang pertama yang membusuk di penjara."
Handoko terdiam, kakinya lemas hingga ia berlutut di atas lantai beton yang lembap, memohon agar namanya dihapus dari daftar saksi korupsi. Arjuna menatapnya dengan dingin, otoritas yang tak terbantahkan terpancar dari matanya. Ini bukan lagi tentang administrasi; ini tentang siapa yang memegang kendali atas rantai makanan.
Di ruang kontrol rahasia, Pak Darma mengamati adegan itu melalui layar monitor. Ia meletakkan cangkir tehnya dengan denting pelan. "Biarkan saja," gumamnya. "Jika dia ingin mengambil kembali takhtanya, dia harus membakar jembatannya sendiri. Biarkan Siska berpikir dia masih memiliki kendali, sampai saat palu lelang jatuh."
Lobi Balai Lelang Metropolis kini menjadi saksi bisu ketegangan yang memuncak. Arjuna melangkah masuk dengan setelan jas sederhana yang tajam, membiarkan tatapannya mengunci Siska yang berdiri di sudut ruangan. Siska, yang masih gemetar karena pesan anonim tersebut, tersentak saat melihat kehadiran Arjuna. Baginya, pria itu bukan lagi menantu pecundang, melainkan ancaman nyata yang siap meruntuhkan seluruh status sosialnya di depan para elit kota. Arjuna tidak lagi bersembunyi; dia datang untuk menagih hutang martabat.