Novel

Chapter 1: Bau Antiseptik dan Penghinaan di Koridor

Arjuna, yang selama ini dianggap menantu tidak berguna, berhasil mencuri bukti korupsi tender rumah sakit dari Siska. Dengan bantuan Pak Darma, ia menyadari bahwa ia telah dijebak sebagai tumbal pencucian uang. Arjuna kini memegang kendali atas kehancuran Siska.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Bau Antiseptik dan Penghinaan di Koridor

Bau antiseptik di Rumah Sakit Medika Utama selalu terasa seperti logam berkarat di lidah—tajam, dingin, dan memuakkan. Arjuna berdiri di sudut koridor VIP, mematung di antara deretan pot tanaman hias yang harganya setara dengan gaji tahunannya selama dua tahun. Di depannya, Siska berdiri dengan dagu terangkat, mengenakan setelan blazer putih yang tampak terlalu bersih untuk tempat yang penuh dengan penderitaan ini.

"Kau lihat jam berapa sekarang, Arjuna?" Siska mendesis, suaranya tajam seperti silet, sengaja dikeraskan agar beberapa klien VIP yang sedang berjalan di koridor bisa mendengar. "Tender renovasi sayap rumah sakit ini adalah hidup dan mati bagi keluarga kita. Sementara kau? Kau hanya berdiri di sana seperti pajangan tak berguna."

Arjuna menunduk, membiarkan bahunya merosot—sebuah gestur kepatuhan yang sudah ia latih selama tiga tahun terakhir. Di matanya, yang terlihat bukan sekadar kemarahan Siska, melainkan bayangan hitam dari dokumen palsu yang ia tahu disembunyikan di balik map biru yang kini dipegang Siska dengan angkuh.

"Aku sudah memeriksa administrasinya, Siska. Ada ketidaksesuaian pada klausul pembiayaan," suara Arjuna tenang, nyaris datar. Itu adalah peringatan, upaya terakhirnya untuk memberi Siska celah agar bisa mundur sebelum semuanya meledak.

Siska tertawa, suara yang terdengar seperti pecahan kaca. "Ketidaksesuaian? Kau menuduhku? Kau, menantu yang bahkan untuk makan saja harus menadahkan tangan, berani mengajari Direktur Utama?"

Di tengah hiruk-pikuk kepanikan para staf rumah sakit yang sedang mempersiapkan kedatangan investor besar, seorang staf administrasi yang tampak pucat pasi berlari tergesa-gesa. Ia tersandung di dekat meja resepsionis, menjatuhkan tumpukan map. Siska terlalu sibuk memaki Arjuna untuk menyadari apa yang terjadi, namun mata Arjuna menangkapnya dengan presisi seorang predator. Di antara dokumen yang berserakan, sebuah map berwarna biru tua—map yang seharusnya menjadi kunci kemenangan tender—terjatuh terbuka. Arjuna melihatnya: tanda tangan palsu dan stempel perusahaan cangkang yang familiar.

Dengan gerakan yang nyaris tak terlihat, Arjuna berlutut—bukan karena kalah, melainkan untuk berpura-pura membantu memungut dokumen. Dalam sekejap, map itu berpindah tangan, terselip aman di balik jaketnya.

Ia bergegas menjauh dari kerumunan, melangkah masuk ke ruang tunggu VIP yang kosong. Langkahnya tenang, namun rahangnya mengeras. Tanpa basa-basi, ia membuka map itu. Matanya memindai angka-angka yang tertera. Ini bukan sekadar dokumen tender. Ini adalah bukti rekayasa harga, aliran dana ganda, dan nama-nama perusahaan cangkang yang dikendalikan langsung oleh keluarga Siska.

"Mereka tidak hanya ingin memenangkan tender ini," gumam Arjuna pelan. "Mereka ingin menjadikan rumah sakit ini sebagai mesin pencuci uang, dan aku... aku hanyalah tumbal yang akan diserahkan ke polisi saat audit dilakukan minggu depan."

"Kau baru saja menyadari betapa dalam lubang yang mereka gali untukmu, Nak?"

Arjuna menoleh. Pak Darma, pria tua dengan setelan jas abu-abu yang tampak sederhana namun memiliki aura otoritas yang tak terbantahkan, berdiri di ambang pintu.

"Anda tahu tentang ini?" tanya Arjuna.

"Aku tahu segalanya yang terjadi di kota ini," jawab Pak Darma dengan nada dingin. "Siska menganggapmu tidak berguna karena dia tidak tahu siapa yang sebenarnya berdiri di hadapannya. Tapi ingat, Arjuna, sebuah kartu hanya berharga jika dimainkan di waktu yang tepat. Apakah kau siap untuk kembali ke takhtamu, atau kau lebih suka terus berlutut?"

Arjuna tidak menjawab. Ia menyimpan bukti tender itu di balik jaketnya, merasakan beban yang kini bergeser dari pundaknya ke pundak keluarga Siska. Permainan yang mereka rancang untuk menghancurkannya kini justru menjadi belati yang siap menghujam jantung bisnis mereka.

Arjuna kembali ke lobi utama. Siska masih di sana, merayakan kemenangannya dengan tawa angkuh. Saat Arjuna mendekat, Siska menatapnya dengan jijik. "Apa yang masih kau lakukan di sini? Kau sudah menandatangani surat pengunduran diri dari proyek ini, bukan? Pergilah ke parkiran dan tunggu di dalam mobil. Jangan sampai klienku melihatmu."

Arjuna tidak beranjak. Ia menatap Siska dengan ketenangan yang membuat wanita itu tertegun sejenak. "Siska," suara Arjuna tenang, nyaris datar, namun memiliki resonansi yang membuat udara di sekitar mereka terasa berat. "Bukan aku yang seharusnya merasa malu hari ini."

Siska tertawa sinis, namun tawanya terputus saat ponselnya bergetar hebat. Sebuah pesan anonim masuk, berisi detail rahasia terdalam mengenai rekening luar negeri yang ia gunakan untuk pencucian uang. Wajah Siska memucat seketika. Arjuna berbalik dan berjalan keluar dari rumah sakit, memegang bukti tender yang bisa menghancurkan seluruh struktur kekuasaan keluarga Siska dalam satu malam.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced