Novel

Chapter 10: Wajah Baru Perusahaan

Aris mengukuhkan posisinya sebagai CEO dengan membersihkan sisa-sisa pengaruh Bram melalui audit forensik dan pembatalan kontrak ilegal dengan Vanguard Alliance. Ia menetapkan visi baru perusahaan yang transparan, namun menyadari bahwa ancaman dari Vanguard Alliance masih membayangi.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Wajah Baru Perusahaan

Ruang rapat utama itu kini terasa asing. Aroma kayu mahoni yang biasanya menyengat dengan wibawa Bram, kini digantikan oleh ketegangan yang lebih tajam—aroma kopi hitam dan sisa-sisa kepanikan yang tertinggal di udara. Aris berdiri di ujung meja, jemarinya mengetuk permukaan meja dengan ritme yang tenang namun mematikan. Di hadapannya, para direktur yang tersisa menunduk, menghindari tatapan Aris. Mereka adalah orang-orang yang dulu memuja Bram, namun kini, mereka adalah pion yang harus Aris susun ulang.

Aris menekan tombol pada konsol kendali. Layar raksasa di belakangnya menyala, menampilkan grafik arus kas yang telah dibersihkan dari manipulasi Bram. "Era di mana perusahaan ini dijalankan dengan utang pribadi dan suap medis telah berakhir," suara Aris memecah keheningan, dingin dan presisi. "Mulai hari ini, setiap sen yang keluar dari kas perusahaan harus memiliki justifikasi operasional yang bisa diaudit."

Citra, yang berdiri di sampingnya dengan map kulit hitam, membuka dokumen tersebut. "Audit forensik telah mengonfirmasi penggelapan dana selama satu dekade terakhir. Semua bukti telah diserahkan kepada pihak berwenang. Bram tidak hanya dipecat; dia sedang dalam proses hukum."

Salah satu direktur, seorang pria tua dengan kacamata tebal, mencoba bersuara, "Tapi, Aris... bagaimana dengan Vanguard Alliance? Mereka memegang hutang perusahaan. Jika mereka menarik fasilitas kreditnya sekarang, kita akan kolaps sebelum audit tahunan selesai."

Aris menatap pria itu, matanya tidak berkedip. "Vanguard Alliance membeli utang itu karena mereka mengira perusahaan ini adalah kapal yang bocor. Mereka ingin mencaplok kita dari dalam. Tapi mereka lupa satu hal: mereka membeli utang, bukan kendali atas aset strategis kita." Aris memberi isyarat pada Citra. "Tunjukkan pada mereka klausul ketujuh dalam kontrak penjaminan yang Bram tandatangani secara ilegal."

Citra memproyeksikan dokumen tersebut ke layar. "Klausul ini menyatakan bahwa penjaminan aset perusahaan untuk utang pribadi tidak sah secara hukum tanpa persetujuan pemegang modal mayoritas. Dan karena Aris adalah pemegang modal mayoritas, Vanguard Alliance tidak memiliki hak atas aset kita. Kita akan membatalkan kontrak tersebut di pengadilan besok pagi."

Keheningan kembali menyelimuti ruangan, namun kali ini bukan karena takut, melainkan karena keterkejutan. Aris telah membalikkan posisi tawar mereka dalam hitungan menit.

Satu jam kemudian, Aris berdiri di lobi utama, menatap keluar jendela ke arah cakrawala Jakarta. Karyawan berlalu-lalang, namun mereka kini menatapnya dengan rasa hormat yang baru. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor anonim: Vanguard Alliance menuntut pertemuan tertutup dalam dua jam. Hutang perusahaan yang kami beli adalah kunci.

Aris mematikan notifikasi itu. Ia tahu ini baru permulaan. Di luar sana, musuh yang lebih besar sedang mengamati, namun Aris bukan lagi pria yang bisa diinjak. Ia adalah pemilik papan catur ini, dan ia baru saja mulai menggerakkan bidak-bidaknya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced