Novel

Chapter 9: Di Ambang Kehancuran

Aris membersihkan sisa-sisa loyalis Bram di dewan direksi dan mengusir Bram secara permanen dari perusahaan. Setelah mengamankan posisi CEO, Aris menemukan bukti bahwa Bram hanyalah pion dari entitas asing bernama 'Vanguard Alliance' yang kini memegang hutang perusahaan.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Di Ambang Kehancuran

Ruang rapat utama lantai 45 tidak lagi berbau aroma kopi mahal dan kepura-puraan. Hari ini, udara di sana terasa tajam, membawa aroma ozon dari sistem pendingin yang dipaksa bekerja maksimal. Aris duduk di kursi kepala—posisi yang selama lima tahun menjadi singgasana Bram untuk memamerkan arogansinya. Di hadapannya, tiga direktur senior yang tersisa—Hardi, Maya, dan Wijaya—duduk dengan bahu merosot, seperti pesakitan yang menunggu vonis hakim.

Pak Hardi, pria yang dulu paling lantang mendukung setiap kebijakan Bram, mencoba menatap Aris. Tangannya gemetar saat ia menunjuk tumpukan dokumen audit di atas meja mahoni.

"Ini kudeta yang tidak sah, Aris!" seru Hardi, suaranya parau. "Pemecatan Bram tidak melalui prosedur dewan yang semestinya. Kami tidak akan mengakui kepemimpinanmu!"

Aris tidak beranjak. Ia bahkan tidak membalas tatapan penuh kebencian itu. Ia hanya menggeser map kulit hitam yang disodorkan Citra. Di dalamnya bukan sekadar audit, melainkan bukti transaksi yang lebih dalam: aliran dana dari perusahaan cangkang luar negeri yang mendanai suap Bram kepada dokter kepala untuk membius sang Kakek.

"Prosedur?" suara Aris memecah keheningan, dingin dan presisi. "Kalian bicara tentang prosedur saat sepuluh tahun penggelapan dana ada di depan mata kalian? Pak Hardi, Anda menandatangani laporan fiktif ini pada kuartal ketiga tahun lalu. Dan Bu Maya, bonus Anda masuk tepat setelah proyek properti gagal itu ditutup. Jika kalian ingin membahas prosedur, saya sarankan kita memulainya di kantor polisi atau di hadapan para pemegang saham yang kehilangan aset mereka karena kerakusan kalian."

Keheningan yang menyusul terasa seperti lonceng kematian. Ketiganya tertunduk, menyadari bahwa setiap lembar kertas di meja itu adalah surat kematian karier mereka. Aris menatap mereka satu per satu, memastikan setiap individu merasakan beratnya pengkhianatan mereka sendiri.

"Keluar," perintah Aris singkat. "Dan pastikan kartu akses kalian sudah dinonaktifkan sebelum kalian sampai di lobi."

Saat Aris melangkah keluar menuju lorong eksekutif, ia berpapasan dengan Bram. Pria itu tampak berantakan, dasinya longgar, dan matanya menyiratkan keputusasaan yang liar. Di belakangnya, dua pria berjas hitam—sisa pengawalnya—masih mencoba menutupi langkahnya yang terburu-buru, meski pintu akses telah dikunci secara digital untuk Bram.

"Ini belum berakhir, Aris!" raung Bram saat langkahnya terhenti tepat lima meter di depan Aris. "Kau pikir kau bisa mengusirku hanya dengan kertas-kertas sampah itu? Aku membangun perusahaan ini dari nol sementara kau hanya duduk menunggu warisan jatuh!"

Aris berdiri tenang, tangannya masuk ke saku celana. Ia tidak membalas dengan teriakan, melainkan dengan tatapan yang meremehkan setiap inci ego Bram. "Kau membangunnya dengan dana pinjaman pribadi yang dijaminkan pada aset perusahaan, Bram. Audit ini bukan sampah, ini adalah vonis. Kau tidak sedang diusir dari warisan, kau diusir dari tempat yang kau curi."

Bram hendak menerjang, namun Aris memberi isyarat kecil pada tim keamanan. Dalam hitungan detik, Bram diseret paksa meninggalkan lorong, menyisakan noda kehancuran yang tak terhapuskan di depan para karyawan yang mengintip dari balik kubikel.

Kembali ke ruang kerja CEO, Aris dan Citra meninjau bukti transaksi pihak ketiga yang mendanai suap tersebut. Citra menggeser tablet yang menampilkan grafik arus kas yang rumit. "Bram hanyalah pion, Aris," suara Citra dingin. "Kami melacak aliran dana suap medis itu kembali ke rekening cangkang di Kepulauan Cayman. Pola enkripsi dalam transaksinya merujuk pada 'Vanguard Alliance'. Mereka memantau perusahaan ini sejak kakekmu jatuh sakit. Bram hanyalah alat untuk melumpuhkan struktur internal kita agar mereka bisa masuk dengan harga murah."

Aris merasakan hawa dingin merayap di tengkuknya. Kemenangan atas Bram ternyata hanyalah babak pembuka. Bram mungkin telah hancur, namun ia hanya pion yang dikorbankan untuk membuka pintu bagi predator yang jauh lebih besar.

Sore harinya, Aris berdiri di atas podium aula utama, menatap ratusan pasang mata staf yang dulunya tunduk pada Bram. "Mulai hari ini, era kronisme berakhir," suaranya tegas. "Setiap posisi yang didapatkan melalui suap atau koneksi keluarga tanpa kompetensi akan ditinjau ulang. Perusahaan ini tidak lagi dijalankan dengan rasa takut, melainkan dengan efisiensi dan transparansi."

Ia berjalan menuju ruang kerja CEO, namun langkahnya terhenti saat melihat sebuah paket cokelat tebal tergeletak tanpa nama pengirim di atas mejanya. Citra mendekat, sigap memeriksa segel paket tersebut. Di dalamnya terdapat dokumen yang menunjukkan bahwa konglomerat misterius itu baru saja membeli seluruh hutang perusahaan yang pernah dijaminkan Bram. Ancaman baru telah tiba, dan kali ini, musuhnya tidak lagi berada di dalam gedung.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced