Novel

Chapter 11: Pembalasan Terakhir

Aris berhasil memastikan vonis hukuman bagi Bram di pengadilan melalui bukti audit forensik dan klausul ketujuh. Setelah menolak permohonan pengampunan Bram, Aris bersiap menghadapi tantangan dari Vanguard Alliance yang menuntut pertemuan tertutup.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Pembalasan Terakhir

Ruang sidang Pengadilan Niaga Jakarta tidak berbau keadilan; ia berbau debu tua dan keputusasaan yang dipaksakan. Di kursi terdakwa, Bram duduk dengan bahu yang merosot. Setelan jas mahalnya, yang dulu menjadi zirah keangkuhan di ruang rapat, kini tampak seperti kain yang kebesaran. Matanya, yang biasanya memancarkan perintah, kini hanya menatap lantai marmer dengan tatapan kosong.

Aris berdiri di sisi penggugat, memegang map biru berisi audit forensik yang telah melucuti seluruh kekuasaan Bram. Tidak ada sorak-sorai, tidak ada drama. Hanya keheningan yang menekan, seberat beban saham yang kini berpindah tangan.

"Saudara Bram, apakah Anda menyangkal telah menjaminkan aset perusahaan untuk menutupi kerugian spekulasi pribadi Anda?" tanya Hakim. Suaranya datar, namun bagi Bram, itu adalah lonceng kematian.

Bram mendongak. Ia mencoba memaksakan senyum sinis yang dulu sering ia gunakan untuk merendahkan Aris. "Itu... itu langkah strategis. Aris hanyalah pion yang tidak mengerti cara kerja perusahaan. Dia tidak punya kapasitas untuk memimpin!"

Aris tidak bergeming. Ia tidak membalas dengan kata-kata kasar. Ia hanya menaruh dokumen asli di atas meja hakim—kontrak penjaminan yang mencantumkan klausul ketujuh. "Klausul ini adalah bukti bahwa terdakwa telah melanggar batas kewenangan secara sadar," ujar Aris tenang. "Dia tidak sedang menyelamatkan perusahaan. Dia sedang menggadaikan masa depan karyawan demi menutupi lubang judi pribadinya."

Hakim memeriksa dokumen itu dengan teliti. Keheningan di ruangan itu begitu pekat hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti palu yang menghantam meja. Bram terdiam, menyadari bahwa semua pintu keluar hukum telah tertutup. Vonis hukuman dijatuhkan tak lama kemudian; Bram akan menghabiskan tahun-tahun terbaiknya di balik jeruji besi.

Saat sidang diskors, Bram mencegat Aris di koridor. Ia menarik lengan Aris, wajahnya pucat pasi. "Aris, dengar. Kita keluarga. Tarik laporan itu. Aku akan menyerahkan posisi direktur operasional padamu. Kita bisa kembali seperti dulu."

Aris menatap tangan Bram yang mencengkeram jasnya, lalu melepaskannya dengan gerakan tenang, seolah menepis debu. "Keluarga tidak menggunakan aset perusahaan sebagai jaminan untuk keserakahan pribadi, Bram. Dan keluarga tidak menjual integritas kepada Vanguard Alliance." Aris berbalik, meninggalkan Bram yang kini tak lagi memiliki daya tawar apa pun.

Di parkiran VIP, Citra sudah menunggu. "Perwakilan Vanguard Alliance sudah di kantor, Aris. Mereka menuntut pertemuan tertutup. Mereka mengklaim pembatalan kontrak kita cacat hukum."

Aris masuk ke mobilnya, menatap gedung pengadilan melalui kaca jendela. "Mereka pikir mereka bisa menekan saya seperti mereka menekan Bram?" Aris tersenyum tipis. "Biarkan mereka menunggu. Saya akan menemui mereka setelah saya memastikan Bram tidak akan pernah bisa kembali ke dunia korporasi."

Sore harinya, dari lantai 45, Aris menatap cakrawala Jakarta yang mulai menyala oleh lampu-lampu kota. Ia telah memutus urat nadi yang menghubungkan Vanguard Alliance dengan aset keluarganya. Citra masuk membawa dokumen restrukturisasi final. "Bram tidak memiliki celah untuk banding. Aset pribadinya sudah disita untuk menutupi kerugian perusahaan."

Aris mengangguk, menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Kejatuhan Bram hanyalah langkah pertama. Kerajaan bisnis yang sebenarnya baru saja dimulai.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced