Novel

Chapter 6: Malam Penentuan

Aris memutus akses likuiditas Bram secara total, memaksa Bram ke dalam posisi terjepit sebelum gala amal. Di depan para elit bisnis, Aris mengungkap identitasnya sebagai pemilik modal utama, menghancurkan legitimasi Bram secara publik dan mengakhiri dominasinya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Malam Penentuan

Langkah sepatu Aris di atas marmer lobi kantor pusat terdengar seperti dentuman palu hakim. Tidak ada lagi sapaan basa-basi dari staf resepsionis; mereka menunduk dalam, punggung mereka kaku, seolah menyadari bahwa angin kekuasaan telah berpindah arah secara permanen.

Citra melangkah di sisi Aris, tablet di tangannya menampilkan grafik merah yang menunjukkan keruntuhan likuiditas perusahaan. "Semua akses kredit Bram telah diputus total, Aris," bisiknya, suaranya dingin dan presisi. "Bank Sentral telah membekukan rekening operasional. Dalam satu jam, dia tidak akan bisa membayar gaji staf atau bahkan tagihan listrik gedung ini. Dia terisolasi."

Aris berhenti di depan lift privat. Ia menatap pantulan dirinya di pintu logam yang mengilap. Hari ini, ia bukan lagi pria yang dianggap beban keluarga. Ia adalah pemilik sah dari setiap inci marmer ini. Citra menyerahkan sebuah map tipis. "Ini bukti suap dokter kakekmu. Mereka memalsukan kondisi kesehatannya agar Bram bisa mengambil alih kuasa penuh. Ini kartu as untuk menghancurkannya secara emosional di depan keluarga besar nanti."

Di lantai empat puluh, ruang kerja Bram terasa seperti peti mati kayu mahoni. Bram mencengkeram gagang telepon dengan buku jari memutih. Di seberang sana, investor asing yang ia gadang-gadang sebagai penyelamat baru saja menutup telepon. Ia tidak tahu bahwa investor itu adalah mitra rahasia Aris.

"Pak Bram?" Sekretarisnya berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat. "Pihak bank mengirim notifikasi final. Seluruh fasilitas kredit ditarik permanen. Efektif hari ini."

Bram melemparkan telepon ke meja. "Ditarik? Aku memimpin perusahaan ini sepuluh tahun!"

"Audit internal yang diserahkan ke otoritas pusat mengungkap ketidaksesuaian, Pak," jawab sekretaris itu gemetar. Bram menyandarkan tubuhnya, napasnya memburu. Ia menyadari gala amal malam ini adalah satu-satunya panggung tersisa untuk menyelamatkan reputasinya.

Ballroom Hotel Grand Nusantara berpendar dingin. Bram berdiri tegak dengan setelan jas seharga mobil mewah, namun matanya yang gelisah berkhianat. Ia menyebarkan rumor bahwa Aris adalah parasit yang akan segera didepak. "Aris hanyalah beban yang menumpang nama besar keluarga," suara Bram bergema di antara para pemegang saham. "Dalam hitungan jam, dia tidak akan punya akses apa pun."

Aris berdiri tak jauh dari sana, menyesap air mineral. Ia membiarkan Bram terus menumpuk kebohongan. Setiap kata yang keluar dari mulut Bram adalah jerat yang ia buat sendiri. Saat Aris melangkah ke panggung utama, bisik-bisik mereda. Bram yang merasa terganggu melangkah maju dengan wajah merah padam. "Apa yang kamu lakukan di sini? Ini bukan tempat untuk parasit!"

Aris mengabaikan teriakan itu. Ia berdiri di balik podium, merapikan manset kemejanya. "Saudara-saudara sekalian," suaranya membelah keheningan, rendah namun memiliki bobot yang memaksa setiap pasang mata beralih padanya. "Kalian bertanya-tanya siapa yang sebenarnya memegang kendali atas meja rapat ini selama lima tahun terakhir. Siapa yang menutupi lubang likuiditas saat perusahaan hampir karam, dan siapa yang diam-diam membiayai ekspansi yang kalian banggakan hari ini."

Bram mencoba melangkah maju, tangannya gemetar. "Aris, hentikan omong kosong ini!"

Aris tidak menoleh. Ia memberikan isyarat kepada Citra. Layar besar di belakang panggung menyala, menampilkan struktur kepemilikan modal yang tak terbantahkan. Nama perusahaan cangkang yang selama ini dianggap sebagai penyelamat perusahaan kini terhubung langsung dengan tanda tangan Aris. Di depan para elit bisnis yang terperangah, Aris menatap Bram dengan dingin, "Akulah pemilik modal utama yang selama ini kalian cari. Dan hari ini, masa jabatan Bram berakhir."

Aris mematikan mikrofon, meninggalkan Bram yang berdiri mematung di tengah sorotan lampu, dikelilingi oleh tatapan dingin para investor yang kini menyadari bahwa mereka telah mendukung pihak yang salah.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced