Novel

Chapter 5: Perangkap Likuiditas

Aris menjebak Bram dalam krisis likuiditas total dengan membekukan akses keuangan perusahaan melalui bukti penipuan perbankan. Bram terisolasi secara finansial setelah bank menarik seluruh fasilitas kreditnya, sementara Aris bersiap untuk pengungkapan identitasnya di depan dewan direksi.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Perangkap Likuiditas

Kantor CEO itu tidak lagi terasa seperti singgasana. Bagi Bram, ruangan dengan pemandangan cakrawala Jakarta yang megah itu kini berubah menjadi kotak kaca yang menyesakkan. Ia berdiri mematung di depan jendela, jemarinya yang berkeringat mencengkeram ponsel hingga buku jarinya memutih. Untuk kesekian kalinya, panggilan ke direktur bank sentral berakhir di kotak suara.

Di balik meja mahoni yang luas, Aris duduk dengan tenang. Ia tidak menatap Bram; fokusnya tertuju pada tumpukan dokumen audit yang baru saja diserahkan Citra. Suara gesekan kertas yang ia balik terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur sisa waktu Bram di perusahaan ini.

"Vendor pelabuhan menghentikan pengiriman material," suara Bram parau, memecah keheningan. "Sistem keuangan terkunci. Aris, buka aksesnya sekarang. Ini sabotase."

Aris menutup map itu dengan bunyi dentuman pelan yang presisi. Ia menatap Bram—bukan dengan amarah, melainkan dengan tatapan dingin seorang dokter yang sedang mengamati pasien dengan penyakit terminal. "Bukan sabotase, Bram. Ini adalah konsekuensi dari audit yang kau paksakan sendiri. Kau ingin membuktikan aku tidak berguna? Selamat, kau berhasil mengungkap bahwa aset yang kau jaminkan untuk pinjaman pribadimu adalah aset perusahaan yang sudah disita secara hukum."

Bram terhuyung mundur. "Itu... itu hanya masalah administratif!"

"Itu adalah penipuan perbankan," potong Aris tajam. "Citra sudah menyerahkan bukti transaksi tersebut ke otoritas terkait. Dan investor asing yang kau hubungi untuk dana darurat? Mereka adalah perusahaan cangkang di bawah kendaliku. Mereka tidak akan memberikan satu sen pun untuk menyelamatkan kapal yang sudah karam."

Aris berdiri, merapikan setelan jasnya tanpa terburu-buru. Ia berjalan melewati Bram, meninggalkan aroma parfum maskulin yang tajam dan aura dominasi yang tak terbantahkan. "Nikmati sisa waktumu di ruangan ini, Bram. Besok, dewan direksi akan memilih pemimpin baru. Dan mereka sudah tahu siapa pemilik modal yang sebenarnya."

Saat Aris melangkah keluar, ponsel di meja Bram berdering nyaring. Bram menyambar gagang telepon itu dengan tangan gemetar.

"Bram, kami dari Divisi Kepatuhan Bank Sentral," suara di seberang terdengar mekanis. "Berdasarkan audit atas jaminan aset pribadi Anda, kami menarik seluruh fasilitas kredit korporasi. Efektif detik ini, rekening perusahaan dibekukan."

Klik. Sambungan terputus.

Bram jatuh terduduk di kursinya. Di luar pintu, Aris berjalan menyusuri koridor marmer dengan langkah mantap. Ia tahu, di depan para elit bisnis yang akan berkumpul besok, ia tidak lagi perlu bersembunyi. Ia akan berdiri di sana, bukan sebagai beban keluarga, melainkan sebagai pemilik sah dari setiap inci meja yang selama ini mereka gunakan untuk merendahkannya. Permainan telah berakhir; saatnya penyerahan kekuasaan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced