Novel

Chapter 7: Kepanikan di Koridor

Aris menggagalkan upaya Bram untuk memanipulasi Kakek di rumah sakit dengan mengungkap konspirasi medis. Bram diusir, namun Aris menemukan bukti adanya pihak ketiga yang lebih besar di balik tindakan Bram.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Kepanikan di Koridor

Aroma antiseptik di lantai lima Rumah Sakit Medika Utama bukan sekadar bau obat; itu adalah aroma kepanikan yang terbungkus marmer mahal. Aris melangkah melewati koridor VIP dengan ritme yang tenang, setiap ketukan sepatunya di atas lantai granit terdengar seperti detak jam yang menghitung sisa napas kekuasaan Bram.

Di depan pintu ruang VVIP, Bram berdiri dengan bahu yang merosot, namun tangannya mencengkeram map kulit hitam dengan kekuatan yang membuat buku jarinya memutih. Di dalam sana, Kakek terbaring, terjebak dalam ketidaksadaran yang dipaksakan.

"Tanda tangani, Kek," bisik Bram, suaranya serak oleh keputusasaan. "Hanya ini cara agar perusahaan tetap di tangan kita. Aris sudah menghancurkan segalanya. Dia bukan lagi beban keluarga, dia adalah bencana."

Aris berhenti tepat di belakangnya. "Dia tidak akan menandatanganinya, Bram. Karena dia tidak bisa, dan karena kau tidak berhak memintanya."

Bram tersentak, berbalik dengan mata merah. "Kau? Setelah apa yang kau lakukan di gala amal semalam? Kau menghancurkan reputasiku di depan seluruh elit bisnis!"

Aris tidak membalas dengan kemarahan. Ia justru merapikan manset kemejanya, sebuah gestur yang menunjukkan dominasi mutlak. "Reputasimu hancur karena kau membangunnya di atas fondasi utang yang kau sembunyikan. Menggunakan aset perusahaan sebagai jaminan pinjaman pribadi adalah tindakan bunuh diri korporasi. Dan mencoba memanipulasi orang yang sedang sekarat? Itu bukan lagi strategi bisnis, itu kriminalitas."

Bram tertawa getir, meski kakinya goyah. "Kau pikir kau menang? Aku masih keluarga!"

"Keluarga adalah institusi bisnis, dan kau baru saja melanggar klausul loyalitas yang paling mendasar," potong Aris. Ia memberi isyarat kepada Citra, yang segera menyodorkan dokumen audit medis independen. "Kakek tidak dalam kondisi sadar. Dan kami memiliki bukti bahwa kondisi ini bukan penyakit alami, melainkan hasil rekayasa medis yang kau bayar dengan uang perusahaan yang kau gelapkan."

Dokter Kepala, yang sedari tadi berdiri di sudut ruangan, mencoba melangkah maju dengan wajah pucat. "Tuan Aris, ini privasi pasien—"

"Diam," potong Aris, matanya menghujam tajam. "Bukti transfer dana dari rekening pribadi Bram ke rekening luar negeri Anda sudah ada di tangan otoritas. Jika Anda ingin menyelamatkan sisa karier Anda, akui sekarang siapa yang memerintahkan Anda untuk membius Kakek selama tiga minggu terakhir."

Dokter itu terdiam, keringat dingin bercucuran. Ia menatap Bram, lalu menatap Aris yang memegang kendali penuh atas nasibnya. Dengan suara parau, dokter itu mengangguk pelan, mengakui konspirasi medis yang dirancang Bram untuk menahan Kakek dalam ketidaksadaran demi memuluskan pengalihan aset.

Bram terhuyung mundur. Dunianya runtuh seketika. Dua petugas keamanan rumah sakit, yang telah disiapkan Aris, segera mendekat. Aris menatap Bram dengan tatapan yang tidak lagi mengandung amarah, hanya rasa kasihan yang dingin.

"Bawa dia keluar," perintah Aris datar. "Pastikan dia tidak pernah mendekati pintu ini lagi."

Saat Bram diseret keluar, Aris masuk ke ruang ICU. Ia mendekati ranjang Kakek, menatap monitor detak jantung yang kini tampak lebih stabil. Namun, di saku jas dokter yang baru saja digiring pergi, Aris menemukan sebuah catatan kecil—bukti transaksi yang melibatkan pihak ketiga yang jauh lebih besar dari sekadar Bram. Seseorang di luar sana telah mendanai suap ini sejak awal, menggunakan Bram hanya sebagai pion untuk melumpuhkan Kakek. Aris menyadari bahwa musuh yang sebenarnya belum muncul, dan perang ini baru saja memasuki babak yang jauh lebih berbahaya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced