Klausul yang Terkubur
Udara di ruang rapat utama kantor pusat terasa tipis, seolah oksigen telah habis disedot oleh ketegangan yang membeku. Aroma antiseptik yang dibawa Bram dari rumah sakit—bau tajam yang mengingatkan pada kelemahan dan kematian—kini bercampur dengan aroma kopi mahal dan kepanikan yang tertahan di balik pendingin ruangan yang berdesis dingin.
Bram berdiri di ujung meja kayu ek, setelan jasnya yang seharga mobil mewah tampak sedikit kusut di bagian bahu. Tangannya memegang pena perak, ujungnya gemetar tepat di atas tumpukan dokumen pengusiran Aris.
"Tanda tangani, Aris," suara Bram parau, sebuah upaya putus asa untuk mempertahankan otoritas yang mulai retak. "Dewan sudah muak dengan ketidakmampuanmu. Perusahaan ini tidak butuh beban yang hanya tahu cara menghabiskan dividen tanpa kontribusi."
Aris tidak beranjak. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap Bram dengan ketenangan yang lebih menakutkan daripada kemarahan. Di hadapannya, terhampar dokumen audit yang ia susun selama tiga tahun dalam bayang-bayang—sebuah bom waktu yang kini siap diledakkan.
"Sebelum tintamu menyentuh kertas itu, Bram," ucap Aris datar, suaranya memotong keheningan ruangan seperti pisau bedah. "Coba baca kembali Klausul Ketujuh dalam kontrak pendanaan awal kita. Halaman empat, paragraf kedua."
Bram mencemooh, meski tangannya membeku di udara. "Klausul usang? Jangan bercanda. Kamu pikir aku tidak tahu isi kontrak yang aku tandatangani sendiri?"
"Tentu saja kamu tahu, tapi kamu lupa satu detail kecil," Aris menggeser dokumen audit itu ke tengah meja, tepat di bawah sorotan lampu gantung kristal. "Klausul itu menyatakan bahwa setiap keputusan dewan mengenai restrukturisasi kepemilikan atau pengusiran direktur tidak sah tanpa persetujuan tertulis dari pemegang modal mayoritas. Dan secara hukum, saya memegang kendali atas dana operasional meja yang sedang kita gunakan ini."
Dewan direksi mulai membolak-balik dokumen yang dibawa Aris. Ketegangan meningkat drastis saat mereka menyadari implikasinya: operasional perusahaan selama ini disokong oleh dana pribadi Aris melalui perusahaan cangkang yang tidak pernah mereka lacak. Tepat saat itu, Citra masuk ke ruangan, meletakkan bukti tambahan mengenai pinjaman pribadi Bram yang menjaminkan aset perusahaan tanpa izin dewan.
Wajah para direktur berubah pucat. Mereka mulai berbisik, memutus kontak mata dengan Bram. Posisi tawar Bram runtuh seketika.
Bram kehilangan kendali. Ia menggebrak meja, kursinya berderit kasar di atas lantai marmer. "Ini lelucon! Kamu hanya parasit yang hidup dari sisa warisan keluarga! Satpam! Bawa dia keluar!"
Tidak ada yang bergerak. Keheningan yang menyambut perintahnya adalah bukti bahwa kekuasaan telah berpindah tangan. Aris bangkit dengan tenang, menatap mata Bram yang kini dipenuhi ketakutan akan kebangkrutan yang tak terelakkan.
"Darah dan keringat, Bram? Atau pinjaman berbunga tinggi yang kamu cairkan atas nama perusahaan? Setiap langkah yang kamu ambil untuk menyingkirkanku justru memperkuat posisiku sebagai kreditor utamamu," ujar Aris dingin.
Pena di tangan Bram terhenti di udara, tepat beberapa milimeter di atas lembar pemecatan. Ia menyadari bahwa ia bukan lagi pengambil keputusan di ruangan ini. Namun, tepat saat Aris hendak menutup rapat dengan pengambilalihan kursi utama, pintu ruang rapat terbuka lebar. Seorang pria dengan setelan necis dan aura konglomerat misterius melangkah masuk, mengabaikan Bram sepenuhnya dan menatap lurus ke arah Aris.
"Tuan Aris," pria itu berkata dengan nada hormat yang membuat seisi ruangan membeku. "Saya mencari pemilik asli modal perusahaan ini. Ada banyak hal yang perlu kita diskusikan mengenai masa depan aset yang Anda pegang."
Aris menyadari, kemenangan atas Bram hanyalah awal dari pertempuran yang jauh lebih besar.