Novel

Chapter 3: Runtuhnya Hierarki

Aris berhasil memojokkan Bram di depan dewan direksi dengan mengungkap bukti pinjaman pribadi yang menjaminkan aset perusahaan. Saat Bram kehilangan legitimasi, seorang konglomerat misterius muncul, menandakan bahwa kemenangan Aris justru menarik perhatian predator yang lebih besar.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Runtuhnya Hierarki

Ruang rapat utama itu bukan sekadar ruangan; itu adalah altar bagi kekuasaan yang kini sedang runtuh. Aroma kopi arabika yang tersaji di meja marmer hitam terasa hambar, tertutup oleh bau keringat dingin yang menguar dari balik setelan jas sutra milik Bram. Pria yang biasanya berdiri tegak dengan arogansi seorang raja itu kini tampak kecil, terjepit di antara kursi kepemimpinannya dan tatapan tajam sepuluh anggota dewan direksi yang menanti vonis.

Aris duduk dengan punggung tegak, jemarinya yang tenang mengetuk permukaan dokumen audit di depannya. Tidak ada teriakan. Tidak ada drama berlebihan. Hanya keheningan yang mematikan, yang lebih tajam daripada silet bagi siapa pun yang mencoba memutarbalikkan fakta.

"Ini bohong," desis Bram, suaranya parau, nyaris pecah. Ia melirik ke sekeliling meja, mencari dukungan yang tidak lagi ia temukan. "Aris hanya mencoba mengacaukan stabilitas perusahaan dengan dokumen palsu. Audit ini tidak sah!"

Aris tidak beranjak. Ia hanya menggeser sebuah tablet tipis ke tengah meja. Layar itu menampilkan dasbor sistem internal perusahaan yang terhubung langsung dengan aliran dana perusahaan cangkang. "Klausul ketujuh dalam dokumen audit ini bukan sekadar tinta di atas kertas, Bram. Ini adalah kunci akses likuiditas yang secara teknis, saat ini, berada di bawah kendali penuh saya. Kalian bisa memverifikasi kode otorisasi di layar itu sekarang juga. Apakah kalian ingin mempertaruhkan sisa aset perusahaan untuk menutupi pinjaman pribadi Bram yang sudah jatuh tempo hari ini?"

Ketegangan di ruangan itu mencapai titik didih. Seorang direktur senior, yang selama ini menjadi pendukung setia Bram, memberanikan diri mencondongkan tubuh ke depan. Ia menatap layar tablet tersebut, jemarinya gemetar saat memverifikasi angka-angka yang tertera. Detik berikutnya, wajahnya memucat. Ia menatap Aris, lalu menatap Bram dengan pandangan yang kini penuh penghinaan.

"Bram," suara direktur itu dingin, "kau menjaminkan aset perusahaan untuk pinjaman pribadimu?"

Bram terdiam. Lidahnya kelu. Aris tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia menatap mata setiap anggota dewan satu per satu, memastikan ketakutan mereka terbaca dengan jelas. "Dua puluh empat jam, Bram. Itu batas waktumu untuk menutup lubang likuiditas yang kau buat. Tanpa menyentuh aset perusahaan, tanpa menjual saham lebih lanjut, dan tentu saja, tanpa menggunakan dana cadangan yang sudah kubekukan."

Bram tertawa getir, sebuah upaya putus asa untuk mempertahankan sisa-sisa wibawanya. "Kau gila, Aris. Kau pikir kau siapa? Kau hanya pion yang kebetulan memegang kontrak tua yang berdebu."

"Pion tidak memegang kunci likuiditas, Bram. Kamu yang memegang utang, dan aku yang memegang kendali atas aset yang kamu jaminkan," balas Aris datar. "Pilihanmu hanya dua: mengundurkan diri dengan hormat hari ini, atau membiarkan audit ini menyeretmu ke ranah pidana sebelum matahari terbenam."

Saat Bram berdiri terhuyung, harga dirinya hancur berkeping-keping di depan para direktur yang kini mengalihkan pandangan darinya, pintu ruang rapat terbuka lebar tanpa ketukan. Citra melangkah masuk, wajahnya sedingin es, membawa map kulit hitam yang tampak berat dengan rahasia.

Ia tidak mempedulikan Bram yang menatapnya dengan benci. Citra langsung berdiri di samping Aris dan membisikkan sesuatu yang membuat Aris mengerutkan kening. "Ada tamu di luar, Aris. Seseorang yang sejak tadi memantau pergerakan saham kita. Dia dari konglomerat luar kota, dan dia mencari pemilik modal asli yang baru saja terungkap hari ini."

Aris menatap pintu yang terbuka. Di sana, seorang pria paruh baya dengan setelan yang jauh lebih mahal daripada milik siapa pun di ruangan itu berdiri menatapnya dengan senyum yang tidak mencapai mata. Pria itu tidak mencari Bram. Ia mencari Aris.

"Jadi," gumam pria itu saat melangkah masuk, matanya terkunci pada Aris, "ternyata meja ini memang memiliki pemilik yang sebenarnya. Saya ingin bicara tentang masa depan perusahaan ini, Tuan Muda."

Aris merasakan tekanan baru yang lebih besar dari sekadar urusan keluarga. Perang ini baru saja naik kelas. Ia menatap Bram yang kini tampak seperti pecundang yang tidak relevan, lalu kembali menatap tamu misterius itu. Aris tahu, posisi pemilik modal yang ia pegang kini menarik perhatian predator yang lebih besar. Ia tidak lagi hanya melawan Bram; ia sedang dipaksa masuk ke medan perang korporasi tingkat tinggi.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced