Novel

Chapter 1: Aroma Antiseptik di Ruang Rapat

Aris menghadapi upaya pengusiran paksa oleh Bram di ruang rapat keluarga. Dengan memanfaatkan aroma rumah sakit sebagai simbol kelemahan keluarga, Aris membalikkan situasi dengan mengungkap dokumen audit rahasia yang membuktikan bahwa Bram tidak memiliki kendali finansial atas kursi jabatannya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Aroma Antiseptik di Ruang Rapat

Aroma antiseptik yang tajam—sisa dari lorong rumah sakit tempat kakeknya terbaring kritis—masih menempel di jas Aris. Di dalam ruang rapat utama yang dingin oleh AC dan marmer Italia, bau itu terasa seperti noda penghinaan. Di sini, di lantai empat puluh gedung pusat keluarga, kelemahan adalah komoditas yang paling cepat didevaluasi.

"Duduklah, Aris. Atau lebih baik, berdiri saja. Kursi itu bukan lagi hakmu," suara Bram memecah keheningan. Bram berdiri di ujung meja, jemarinya mengetuk permukaan marmer dengan ritme yang angkuh. Di sekeliling meja oval itu, para direktur menunduk, menghindari tatapan Aris seolah dia adalah penyakit menular yang akan merusak portofolio mereka.

Aris tidak bergeming. Ia menarik kursi kayu jati yang berat itu dan duduk dengan tenang. Gerakannya lambat, terkontrol, dan sama sekali tidak menunjukkan kegugupan yang diharapkan Bram. Ia menatap lurus ke mata pria itu, membiarkan keheningan menggantung hingga detak jam dinding terdengar seperti suara palu hakim.

"Perusahaan sedang dalam masa transisi darurat," lanjut Bram, suaranya kini lebih keras, berusaha menutupi rasa risih yang mulai merayap di wajahnya. "Kondisi Kakek tidak memungkinkan lagi untuk memimpin, dan ketidakmampuanmu dalam menangani divisi logistik bulan lalu telah membuat kita kehilangan tiga poin persentase di pasar. Dewan sudah sepakat. Surat pengunduran diri ada di depanmu. Tanda tangani, dan kau bisa pergi dengan sisa martabat yang kau punya."

Bram mendorong sebuah map kulit hitam ke hadapan Aris. Di dalamnya, selembar surat pengunduran diri dengan kop surat perusahaan sudah terisi, menunggu satu goresan pena. "Jika tidak, dewan akan melakukan pemungutan suara paksa. Kau akan diusir tanpa sepeser pun, dan namamu akan tercemar di seluruh jaringan bisnis Jakarta."

Aris merasakan tatapan Citra dari ujung meja—sebuah anggukan kecil, sinyal bahwa segalanya sudah siap. Aris tidak berniat menjadi tumbal dalam sandiwara kekuasaan Bram. Ia menatap map itu, lalu beralih ke wajah-wajah yang kini menanti kejatuhannya.

"Martabat?" Aris akhirnya bersuara. Suaranya tenang, namun cukup tajam untuk menghentikan gumaman di ruangan itu. "Apakah martabat perusahaan ini diukur dari seberapa cepat kalian membuang orang yang dianggap beban, atau dari seberapa besar kalian berbohong tentang kondisi keuangan yang sebenarnya?"

Bram tertawa sinis, tubuhnya bersandar ke belakang. "Kau tidak punya posisi tawar, Aris. Kau hanyalah nama di atas kertas yang tidak memberikan kontribusi apa pun selain hutang."

"Hutang?" Aris tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang membuat Bram merasa terganggu. Aris kemudian membuka map kosong yang ia bawa sejak tadi. Di dalamnya bukan surat pengunduran diri, melainkan satu dokumen audit dengan segel hukum yang sah. Ia meletakkan dokumen itu di atas meja marmer, tepat di bawah jemari Bram yang masih memegang pulpen emas.

"Baca klausul ketujuh di halaman terakhir, Bram," ucap Aris datar. "Itu adalah audit trail yang menyatakan siapa sebenarnya yang membiayai operasional perusahaan ini selama tiga tahun terakhir. Ternyata, kursi yang kau duduki itu tidak dibeli dengan modal perusahaan, melainkan dengan pinjaman pribadi yang jatuh temponya hari ini."

Wajah Bram memucat seketika. Tanda tangan yang hampir ia goreskan di surat pengunduran diri Aris terhenti di udara. Suasana ruangan berubah drastis; para direktur yang tadinya menunduk kini menatap dokumen di atas meja dengan ketakutan yang nyata. Aris bukan lagi target. Dia adalah satu-satunya orang yang memegang kunci kelangsungan hidup mereka.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced