Novel

Chapter 10: Chapter 10

Andika Pratama menghadapi tekanan terbuka di ruang direksi kaca lantai 20 saat Rachmat Wijaya melancarkan serangan frontal untuk mengusirnya dari proyek redevelopment pesisir. Namun, dukungan tak terduga dari Maya Sari dan pengkhianatan Pak Harun mengubah arah pertempuran, melemahkan posisi Rachmat. Saat voting pengusiran gagal total, keluarga Wijaya yang dulu merendahkan Andika kini mengirim utusan resmi yang mengakui kekuatannya, mempersiapkan babak baru konflik yang lebih besar.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 10

Andika Pratama melangkah pasti memasuki ruang direksi lantai 20, di mana dinding kaca besar memantulkan wajah-wajah penuh kecemasan dan cemoohan. Suara tawa dingin dan bisik-bisik tajam menyambutnya; seolah ruang itu bukan tempat diskusi strategis, tapi arena pembantaian sosial yang terorganisir rapi.

"Andika, kau benar-benar beban yang tak berguna!" bentak Rachmat Wijaya, suaranya bergaung kuat, memecah keheningan. "Proyek ini sudah terlalu lama disandera oleh keberadaanmu! Sudah saatnya kau angkat kaki dari dewan, biar perusahaan ini bisa bernafas tanpa beban."

Anggota dewan lain mengangguk, wajah mereka dipenuhi rasa jijik yang terbuka. Pak Harun dari keluarga Wijaya menatap Andika dengan mata dingin, sementara Maya Sari berdiri di sisi lain ruangan, matanya tajam mengamati setiap gerak-gerik Rachmat.

Andika mengangkat bahu, tak menunjukkan sedikit pun tanda tertekan. Dia tahu ini bukan serangan biasa; ini adalah upaya sistematis untuk mengusirnya dari sumber pengaruh utama sekaligus menghapus jejak modal tersembunyi yang selama ini diam-diam dikelolanya.

"Rachmat," suara Andika tenang namun berisi, "kalau aku beban, coba jelaskan mengapa kontrak rahasia 2022 yang kalian semua takutkan itu tetap berdiri kokoh? Klausul pasal tujuh yang mengikat seluruh dana proyek pada penyandang modal awal tidak bisa kau hapus hanya dengan cemoohan dan pemungutan suara."

Rachmat mengepal tangan, matanya menyipit. Namun sebelum ia bisa membalas, Maya Sari melangkah maju dengan langkah pasti, membawa berkas audit lengkap yang selama ini disimpan rapat-rapat.

"Dewan yang saya hormati," suaranya lantang namun terkontrol, "audit internal kami telah mengungkap aliran dana besar dari rekening pribadi Andika Pratama melalui PT Nusantara Capital. Ini bukan klaim kosong atau tuduhan tanpa dasar. Data ini mengikat dan tak terbantahkan."

Kejutan melanda ruangan. Bisik-bisik berubah menjadi bisik kagum dan keraguan mulai merayapi wajah-wajah keras kepala. Pak Harun, yang selama ini berdiri di sisi Rachmat, tiba-tiba melangkah ke depan. Senyum dinginnya menghilang, berganti tatapan tajam dan penuh keputusan.

"Saya sudah mendengar dan menelaah ringkasan audit yang disampaikan Maya Sari," katanya dengan suara berat, "dan saya tidak bisa lagi berpihak pada keputusan yang mengancam kelangsungan proyek ini."

Rachmat membeku, matanya membelalak tak percaya. "Pak Harun, Anda tidak serius? Setelah semua yang kami perjuangkan?"

Namun suara itu terdengar kosong, tanpa lagi kekuatan yang dulu ia miliki. Pak Harun membalikkan badan dan duduk di sisi Andika, jelas menunjukkan pengkhianatan yang mengguncang internal keluarga Wijaya.

Maya Sari kembali membuka berkasnya, menambahkan, "Kami siap menyerahkan dokumen lengkap dan bukti tambahan dalam rapat darurat malam ini. Ini bukan hanya soal dana, tapi tentang legitimasi dan masa depan proyek ini."

Rachmat mencoba menghubungi keluarga besar melalui speakerphone, berharap mendapat dukungan. Namun respons yang datang dingin dan penuh keraguan. Suara-suara yang dulu menguatkannya kini berbisik ragu, menyadari bahwa kendali dana dan kekuasaan perlahan bergeser ke Andika.

Suasana ruang direksi berubah drastis. Hinaan dan cemoohan yang mengisi awal pertemuan kini berganti menjadi perhitungan strategis yang penuh ketegangan. Andika berdiri tegap, senyum tipis menghiasi bibirnya, menandai kemenangan pertama dalam perang yang belum usai.

Dua jam setelah voting pengusiran yang kacau itu, ruang direksi menjadi sunyi. Cahaya senja mengintip lewat dinding kaca yang menghadap pelabuhan Tanjung Priok, menggambar bayangan panjang pada meja rapat yang kini kosong, kecuali Andika Pratama yang duduk tegak, matanya menatap jauh ke cakrawala namun penuh kewaspadaan.

Pintu terbuka perlahan. Dua pria berpakaian rapi masuk, membawa aura kewenangan yang tak bisa diabaikan. Mereka adalah utusan keluarga besar Wijaya—mereka yang dulu mengejek, merendahkan, dan hampir mengusir Andika dari ruang kekuasaan ini.

"Pak Andika," suara rendah dan terukur dari salah satu pria itu memecah keheningan, "kami datang atas perintah keluarga besar Wijaya. Proyek pesisir ini—yang selama ini menjadi sumber kontroversi dan ketegangan—kini bergantung sepenuhnya pada keputusan Anda."

Andika mengalihkan pandangan dari pelabuhan ke mereka, matanya yang tenang menyimpan ribuan pertarungan yang baru saja ia menangkan. "Saya mendengar voting pengusiran gagal total. Saya juga tahu Pak Harun sudah berbalik arah. Anda datang untuk apa?"

Pria itu tersenyum tipis, setengah mengakui kekalahan tapi penuh dengan kepentingan lain yang tersembunyi. "Keluarga kami memang salah menilai Anda selama ini, Pak. Kami ingin mengajukan permintaan maaf atas perlakuan sebelumnya. Dan—"

Belum sempat ia melanjutkan, Maya Sari masuk dari lorong kaca yang berhadapan, membawa berkas tambahan yang siap dibuka pada rapat darurat malam ini. Tatapan Maya dan Andika bertemu, sebuah sinyal bahwa babak baru sudah di depan mata.

Proyek pesisir yang hampir jatuh kini bergantung sepenuhnya pada Andika. Keluarga yang dulu menghinanya kini datang dengan permintaan pertemuan pribadi—bukan sebagai musuh, melainkan sebagai pihak yang menyadari kekuatan baru yang harus mereka akui. Namun, di balik permintaan itu, tersimpan ancaman dan tekanan hierarki yang lebih tinggi, yang siap menguji kesabaran dan strategi Andika lebih jauh.

Dan di saat yang sama, sebuah pertanyaan menggantung di udara: siapa yang sebenarnya memegang kendali terakhir atas masa depan proyek ini? Saat malam menjelang, Andika tahu, permainan yang lebih besar baru saja dimulai.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced