Chapter 11
Dua jam setelah voting pengusiran dibuka, ruang direksi lantai 20 di gedung Wijaya Coastal Development tetap memancarkan ketegangan yang hampir bisa diraba. Andika Pratama berdiri tegap di ujung meja panjang yang berlapis kaca, tatapannya seolah menantang setiap pandangan penuh cemooh dari para anggota dewan yang duduk mengitari ruangan. Di hadapannya, Rachmat Wijaya dengan nada dingin dan tajam melontarkan serangan verbal yang tak kenal ampun. "Andika, kamu sudah jelas beban bagi proyek ini. Sudah waktunya kamu angkat kaki," katanya, suaranya bergema di antara dinding kaca yang memantulkan tatapan penuh kebencian dari anggota dewan lainnya. Semua menunggu kapan Andika akan menyerah, namun ia tetap tenang, membalas dengan senyum tipis yang penuh arti. Di tangannya, sebuah map berisi dokumen rahasia yang selama ini disimpan rapat-rapat: Kontrak Rahasia 2022, dengan klausul pasal tujuh yang mengikat seluruh alokasi dana proyek redevelopment pesisir pada penyandang modal awal—Andika sendiri.
Ketegangan memuncak saat Maya Sari berdiri dari tempat duduknya. Wajahnya yang biasanya netral kini memancarkan tekad yang tak tergoyahkan. "Pak Rachmat, izinkan saya membacakan ringkasan audit internal terbaru," ujarnya dengan suara tegas dan jelas. Ia membuka berkas tambahan yang selama ini tersembunyi dari pandangan dewan. "Audit ini mengungkap manipulasi dana yang dilakukan selama ini, yang jelas merugikan proyek dan mengancam keberlangsungan investasi." Ruang itu mendadak hening, semua mata tertuju pada Maya dan dokumen di tangannya. Pak Harun, sosok tua dari keluarga Wijaya yang selama ini diam, tiba-tiba berdiri. "Setelah mendengar ini, saya memilih berdiri bersama Andika," ucapnya dengan suara berat, tanda pengkhianatan internal yang membuka celah besar bagi Andika.
Suasana ruang direksi berubah drastis. Rachmat yang sebelumnya percaya diri, kini menggenggam telepon genggamnya dengan tangan gemetar. Ia mencoba menghubungi keluarga besar melalui speakerphone, berharap mendapat dukungan yang bisa menyelamatkan posisinya. Namun, yang terdengar hanyalah nada sibuk dan penolakan dingin. "Ini bukan saatnya bermain-main, Rachmat," suara seorang investor asing terdengar jelas, "kami mempertimbangkan opsi lain." Andika duduk tenang, matanya berbinar melihat kejatuhan lawannya. Maya mencondongkan badan, menahan senyum kecil yang penuh arti. "Mungkin saatnya kita ambil alih, Pak Andika," bisiknya lembut.
Wajah Rachmat berubah pucat, telepon di tangannya terasa seperti beban berat yang menariknya ke jurang kegagalan. Panggilan demi panggilan berakhir dengan nada dingin yang sama—dukungan menguap, kekuasaan bergeser. Ruang itu terasa semakin sempit, dan Rachmat tahu titik balik telah tiba. Dalam keputusasaannya, ia mencoba menghubungi ibunya, berharap mendapat restu keluarga besar. Namun balasan yang ia dapatkan hanya suara berat yang penuh penolakan, "Rachmat, ini bukan waktunya bertindak sendiri. Kami sedang mempertimbangkan opsi lain."
Malam itu, rapat darurat dijadwalkan. Di ruang rapat yang remang dengan pantulan lampu temaram, Maya Sari berdiri di depan meja panjang. Ia mengeluarkan berkas tebal dari tas kulitnya, wajahnya menyiratkan ketegasan. "Ini adalah audit tambahan yang belum pernah diajukan sebelumnya," katanya, suara tak tergoyahkan. Semua mata tertuju pada dokumen itu, terutama pada Rachmat yang tampak gemetar saat menerima berkas tersebut. Ia mencoba membantah, "Ini tidak sah! Klausul itu—itu kontrak lama yang sudah dibatalkan!" Namun protesnya tenggelam di antara bisik-bisik yang mulai menguat di ruangan.
Maya menunjuk halaman tertentu. "Perhatikan pasal 7 ayat 3," katanya, "Dana proyek berada di bawah pengawasan penuh Andika Pratama hingga penyelesaian akhir." Bukti legal ini mengikat kendali atas dana proyek pada Andika, bukan Rachmat. Pandangan semua orang tertuju pada Rachmat yang kini tertunduk, wajahnya memerah dan gemetar. Andika mencondongkan badan, senyum tipis mengembang. "Sepertinya Anda kehabisan alasan, Pak Rachmat," katanya tenang. Tekanan berubah menjadi pertempuran kekuasaan terbuka, dan suara Rachmat yang biasanya percaya diri mulai bergetar. "Hak suara saya sebagai pemegang saham mayoritas masih berlaku," ujarnya, namun ragu.
Maya menatap tajam, "Hak suara tidak mengubah fakta hukum yang terikat kontrak. Ini bukan sekadar opini, tapi kewajiban yang harus dipatuhi." Suasana berubah. Voting pengusiran yang awalnya tampak pasti kini berbalik total. Usulan pemotongan dana 40 persen gagal, dan posisi Andika semakin kokoh. Kemenangan terbuka ini mulai menggeser keseimbangan kekuasaan dalam dewan dan keluarga.
Dinding kaca ruang direksi memantulkan wajah-wajah yang tegang dan berkeringat dingin saat babak baru dimulai. Pak Harun membuka pintu, di belakangnya dua pria berpakaian rapi membawa aura otoritas yang sulit diabaikan. Utusan hierarki dari keluarga besar dan investor utama mengumumkan bahwa mereka kini mengakui kekuatan Andika sebagai penyandang modal utama dan pengendali sah proyek redevelopment pesisir. Rachmat, yang duduk tak jauh dari Andika, wajahnya berubah pucat, tangannya gemetar saat mencoba menghubungi keluarga besar melalui speakerphone. Namun, jawaban yang diterimanya dingin dan terputus-putus, jauh dari dukungan yang biasa ia dapatkan.
Investor luar yang selama ini menjadi tumpuan Rachmat mulai mengalihkan perhatian, mempertanyakan perubahan kendali dana yang kini berada di tangan Andika. Maya Sari berdiri di samping Andika, membawa berkas audit tambahan yang telah diajukan. Tatapannya tajam, siap menghadapi segala bentuk sabotase. Suaranya memecah keheningan, "Kami siap melawan setiap upaya untuk merusak integritas proyek ini."
Andika duduk di ujung meja panjang, wajahnya tenang namun penuh kemenangan. Ia bukan lagi pria yang diusir, melainkan pemilik sebenarnya. Di balik kaca yang memantulkan wajah-wajah yang kini tunduk, permainan yang lebih besar baru saja dimulai.
---
Apa isi dokumen tambahan di saku Andika? Bagaimana Rachmat akan melancarkan serangan balik setelah pengkhianatan Pak Harun? Bagaimana reaksi lengkap keluarga Wijaya dan mitra besar terhadap bukti audit serta perubahan kendali dana proyek? Semua pertanyaan ini menggantung, menanti bab terakhir yang akan menentukan nasib proyek dan kekuasaan di baliknya.