Chapter 9
Dua jam setelah voting pengusiran Andika dimulai, ruang direksi lantai 20 di gedung Wijaya Coastal Development masih bergemuruh dengan ketegangan. Dinding kaca besar membingkai pelabuhan Tanjung Priok yang dingin, seolah menjadi saksi bisu perseteruan yang terus memuncak. Andika Pratama berdiri tegak, wajahnya tenang namun matanya menyimpan waspada tajam terhadap setiap gerak-gerik di ruangan. Tekanan yang selama ini menindasnya belum juga mereda; kini bahkan bertambah berat dengan serangan balik yang tengah dipersiapkan Rachmat Wijaya.
Rachmat, yang wajahnya memucat namun penuh api semangat membara, melangkah maju ke tengah ruangan. Dengan suara lantang yang ditujukan bukan hanya untuk Andika, tapi seluruh anggota dewan, ia mengeluarkan sebuah map tebal dari bawah meja kaca bening. "Ini," katanya, meletakkan map itu dengan kasar di atas meja, "dokumen audit terbaru yang membuktikan klaim Andika hanyalah ilusi."
Suara itu menggema, mencoba menggoyahkan fondasi yang mulai dibangun Andika. Sejumlah tawa kecil pecah dari sudut ruangan, disusul bisik-bisik skeptis yang berusaha meruntuhkan kredibilitas pria yang selama ini dianggap beban. Namun, Maya Sari tidak tinggal diam. Perlahan ia maju, wajahnya dingin dan penuh ketegasan. Dengan tangan mantap, ia mengambil dokumen yang dilemparkan Rachmat. "Dokumen ini sudah saya periksa secara menyeluruh," ujarnya, suara yang terukur namun penuh kekuatan. "Banyak halaman telah dimanipulasi. Saya memiliki versi asli dan bukti rekam jejak audit yang tak terbantahkan."
Kejadian itu membuat ruangan sejenak terdiam. Di sisi lain meja, Pak Harun dari keluarga Wijaya, yang selama ini lebih banyak diam di balik bayang-bayang, kini menatap dengan tajam. Pandangannya menembus ke arah Rachmat, seolah menuntut jawaban yang selama ini tak kunjung muncul.
Maya mengangkat berkas audit tambahan yang selama ini disembunyikan, tangannya sedikit bergetar namun suaranya tetap lantang. "Ini bukan sekadar dugaan," katanya, "audit ini menunjukkan aliran dana yang selama ini tersembunyi dari pengawasan dewan—langsung ke rekening pribadi Anda, Pak Rachmat."
Ruangan berubah hening, hanya suara detak jam yang terdengar menggema. Rachmat meremas gagang kursinya, wajahnya memerah namun tak mampu membantah. Pak Harun menatap berkas di tangan Maya dengan serius. "Fakta-fakta ini tidak bisa diabaikan," katanya pelan namun tegas. "Saya tidak ingin berpihak, tapi kebenaran harus diutamakan."
Ketegangan meningkat, dan perseteruan yang selama ini tersembunyi mulai terbuka. Pak Harun melangkah ke depan, berdiri tepat di hadapan Rachmat yang mulai kehilangan pijakan. "Saya sudah cukup mendengar," ucapnya dengan suara yang bergema di ruangan mewah itu. "Audit Maya bukan sekadar angka kosong, ini adalah kebenaran yang kalian coba tutupi."
Rachmat terpaku, sorot matanya yang biasanya penuh dominasi berubah menjadi retakan ketidakpercayaan. "Pak Harun, Anda tidak paham situasinya," jawabnya dengan suara bergetar. "Ini proyek keluarga, dan saya yang mengatur agar semuanya tetap berjalan."
Maya melangkah maju, mengangkat berkas audit lebih tinggi ke atas meja kaca. "Pak Harun benar," katanya dengan tegas. "Dana awal sebesar 150 miliar berasal dari rekening pribadi Andika Pratama melalui PT Nusantara Capital, sesuai dengan Kontrak Rahasia 2022 yang mengikat seluruh alokasi dana proyek."
Andika menyunggingkan senyum tipis, menegaskan posisinya yang kini mulai kokoh. Gelombang perpecahan dalam keluarga besar Wijaya mulai tampak jelas, dan Rachmat mulai kehilangan dukungan internal yang selama ini menjadi benteng terakhirnya.
Namun, Rachmat belum menyerah. Dengan wajah yang memerah dan napas tersengal, ia mengeluarkan serangan terakhirnya. "Lihat ini!" ujarnya sambil menjatuhkan setumpuk dokumen di atas meja konferensi. "Ini bukti nyata, bukan gosip murahan! Andika Pratama sedang merancang penguasaan ilegal atas saham perusahaan kita."
Pandangan semua tertuju pada tumpukan kertas yang tampak resmi, lengkap dengan tanda tangan dan angka-angka yang mengintimidasi. Namun, Andika menatap dingin, matanya menyipit penuh arti. "Dokumen palsu itu? Terlalu mudah dibuat, Rachmat. Aku punya saksi yang akan membongkar kebohonganmu."
Pintu ruangan terbuka dengan tiba-tiba. Seorang wanita muda melangkah masuk, langkahnya mantap dan penuh keberanian. "Saya Maya Sari, mantan staf administrasi Rachmat," ucapnya lantang. "Semua dokumen yang dia tunjukkan adalah hasil rekayasa."
Rachmat terpaku, darahnya seakan membeku. Kerumunan mulai berbisik, mendukung Andika yang perlahan menguasai momentum. Maya menatap tajam ke arah Rachmat. "Saya memiliki salinan asli dokumen yang telah Anda modifikasi," tegasnya.
Andika mengambil napas dalam, menatap Rachmat dengan mata yang penuh waspada namun tak tergoyahkan. "Ini bukan hanya tentang dokumen, Rachmat. Ini soal kepercayaan yang sudah kau hancurkan."
Sorak sorai kecil mulai terdengar, menggema di antara dinding kaca yang memantulkan bayangan mereka. Rachmat tahu, permainan ini baru saja memasuki babak yang lebih berbahaya — dan untuk kali ini, meja kekuasaan benar-benar mulai berbalik.
Malam itu, meski ancaman Rachmat masih terasa mengintai di udara, Andika berdiri sebagai sosok yang kini memegang kendali. Proyek pesisir yang hampir jatuh kini bergantung sepenuhnya padanya. Keluarga yang dulu menghinanya mulai menghitung langkah baru, dan permintaan pertemuan pribadi yang tak terduga menggantung sebagai tanda awal babak baru dalam permainan kekuasaan yang belum selesai.
Di balik kaca tebal ruang direksi, ombak pelabuhan Tanjung Priok terus bergulung, membawa gelombang perubahan yang tak terhindarkan.