Chapter 8
Dua jam lebih berlalu sejak voting pengusiran dibuka, namun ruang direksi lantai 20 gedung Wijaya Coastal Development masih terasa seperti medan perang yang belum selesai. Cahaya sore memantul dari dinding kaca yang menghadap pelabuhan Tanjung Priok, menerangi wajah-wajah dewan yang tegang. Andika Pratama berdiri di ujung meja, bahunya tegak, tapi setiap detik terasa seperti beban yang semakin berat. Rachmat Wijaya masih memimpin serangan, suaranya menggelegar.
“Andika bukan sekadar beban lama. Dia ancaman langsung bagi proyek ini!” Rachmat menunjuk ke arah Andika dengan jari telunjuk yang gemetar karena amarah. “Dana yang kita kelola ratusan miliar. Kalau dia tidak mau buka-buka soal sumbernya, dia harus keluar sekarang juga!”
Beberapa anggota dewan mengangguk cepat, tangan mereka sudah terangkat setengah untuk mendukung usulan pemotongan dana 40 persen yang diajukan Rachmat. Tawa sinis kecil terdengar dari sudut ruangan, suara yang Andika kenal betul—suara orang yang merasa sudah menang sebelum pertarungan benar-benar usai.
Maya Sari duduk diam di kursinya, tangannya tidak terangkat. Matanya bertemu dengan Andika sebentar, memberi sinyal kecil yang hanya mereka berdua pahami. Andika menarik napas pelan, menahan keinginan untuk langsung membalas. Ia tahu taruhannya bukan hanya kursi di dewan ini, tapi kendali penuh atas proyek redevelopment pesisir yang selama ini dia biayai diam-diam.
“Andika,” lanjut Rachmat dengan nada merendahkan, “kau pikir kau bisa terus bersembunyi di balik nama keluarga? Waktunya habis.”
Andika mengangkat tangan perlahan, meminta kesempatan bicara. Suaranya tenang, hampir datar, tapi cukup tajam untuk memotong gemuruh ruangan.
“Rapat darurat malam ini pukul delapan. Di ruangan yang sama. Saya akan ungkap sumber modal sebenarnya. Siapa yang tidak datang, berarti tidak peduli lagi dengan proyek ini.”
Kata-kata itu langsung membuat suasana berubah. Beberapa anggota dewan saling pandang, tangan yang tadinya terangkat mulai turun perlahan. Rachmat memucat, tapi masih mencoba menguasai ruangan dengan suara lebih keras.
“Jangan dengarkan omong kosong itu! Voting tetap berjalan!”
Namun momentum sudah bergeser. Maya Sari bangkit dari kursinya, melangkah ke depan meja utama dengan berkas audit di tangan. Lampu neon dingin menyinari wajahnya yang tegas.
“Berdasarkan audit internal yang saya pimpin,” suaranya jelas dan tegas, “seratus lima puluh miliar rupiah telah mengalir dari rekening pribadi Bapak Andika Pratama melalui PT Nusantara Capital. Dana ini fondasi utama proyek. Setiap pemotongan atau pengalihan tanpa persetujuannya berisiko memicu audit eksternal yang bisa menghentikan semuanya.”
Ruangan hening seketika. Rachmat menatap Maya dengan mata menyipit penuh ancaman.
“Maya, kau sadar apa yang kau lakukan? Kau memilih sisi yang salah. Konsekuensinya bukan hanya di sini.”
Maya tidak mundur. Ia menatap langsung ke dewan. “Saya tidak akan ikut voting pemotongan dana 40 persen itu. Dan saya siap membawa bukti tambahan malam ini.”
Andika merasakan perubahan itu seperti angin segar di tengah badai. Dukungan Maya bukan hanya kata-kata; itu pukulan nyata yang menggeser papan kekuasaan. Beberapa anggota dewan mulai berbisik, posisi mereka bergeser. Voting pengusiran yang tadinya hampir tertutup kini terasa goyah.
Setelah sesi dewan usai, koridor kaca lantai 20 terasa lebih sempit dari biasanya. Rachmat menyudutkan Maya di dekat jendela besar yang menghadap laut. Suaranya rendah, penuh racun.
“Kamu pikir aku takut? Masa lalumu masih ada di tangan saya, Maya. Satu kata saja, dan semua orang akan tahu siapa kamu sebenarnya.”
Maya menggenggam tasnya erat, wajahnya pucat tapi tatapannya tetap keras. Sebelum ia sempat menjawab, Andika muncul dari belakang, ponsel di tangannya sudah menyala.
“Dengarkan ini dulu, Rachmat.”
Rekaman suara mengalun jelas—ancaman Rachmat yang lebih panjang dan mematikan, kata demi kata yang terekam sempurna. Wajah Rachmat berubah merah padam, kepanikan melintas di matanya.
“Ini… ini rekaman palsu!” bentaknya, tapi suaranya sudah goyah.
Andika mematikan rekaman dengan tenang. “Malam ini pukul delapan. Datanglah. Atau keluarga besarmu yang akan menjelaskan semuanya.”
Rachmat mundur selangkah, napasnya tersengal. “Kamu tidak akan menang begitu saja. Keluarga Wijaya tidak akan biarkan ini.” Ia langsung mengeluarkan ponsel, menghubungi nomor penting, dan bicara dengan nada mendesak melalui speakerphone. Tapi nada suara di seberang sudah berbeda—lebih dingin, lebih hati-hati. Investor luar mulai bertanya dengan nada yang jelas berubah setelah kontrol dana bergeser.
Maya menatap Andika, ada campuran lega dan kekhawatiran di matanya. “Terima kasih,” bisiknya pelan. Tapi Andika hanya mengangguk kecil. Ia tahu permainan ini baru saja memasuki babak yang lebih berbahaya.
Malam itu, tepat pukul delapan, ruang rapat darurat sudah penuh. Anggota keluarga Wijaya yang lebih senior hadir, wajah mereka tegang di bawah cahaya lampu yang lebih redup. Andika berdiri di tengah, senyum tipis masih tersungging di bibirnya. Rachmat duduk di ujung, tangannya mengepal di atas meja.
Maya Sari melangkah maju membawa berkas tebal yang selama ini dia simpan. Suaranya tidak gemetar.
“Ini bukan sekadar ringkasan audit. Dokumen ini menunjukkan aliran dana tambahan yang selama ini dipertanyakan, dan pengalihan modal yang menguntungkan pihak tertentu di luar pengawasan dewan.”
Ia membuka halaman demi halaman, angka-angka dan nama-nama yang jelas. Salah satu anggota keluarga Wijaya, Pak Harun, yang selama ini diam, tiba-tiba bangkit. Wajahnya memerah karena marah yang tertahan lama.
“Jadi selama ini kau sembunyikan ini dari kami, Rachmat? Kau ambil keuntungan sendiri sementara kami semua menanggung risikonya?” suaranya bergetar, tapi penuh kekuasaan.
Ruangan langsung meledak dalam bisik-bisik marah. Rachmat mencoba bangkit, suaranya meninggi. “Audit ini dimanipulasi! Ini jebakan Andika untuk menggulingkan saya!”
Maya menatap Rachmat tanpa berkedip. “Dokumen ini diverifikasi pihak ketiga. Dan saya memilih sisi yang benar—sisi yang menjaga proyek ini tetap berdiri.”
Pak Harun menoleh ke Andika, tatapannya kini berbeda. “Kalau ini benar, maka kendali dana harus kembali ke penyandang modal asli.”
Andika hanya mengangguk pelan, tapi di dalam dadanya, tekanan semakin naik. Aliansi baru terbentuk malam itu, dan pengkhianatan internal sudah terbuka lebar. Tapi ia tahu Rachmat tidak akan diam saja. Besok pagi, serangan balik pasti datang—mungkin dengan dokumen palsu, mungkin dengan saksi yang dibeli. Dan Andika sudah siap melindungi saksi kunci yang selama ini dia sembunyikan.
Sekarang, pertanyaannya bukan lagi siapa yang akan kalah di ruangan ini, tapi seberapa jauh Rachmat akan pergi untuk merebut kembali segalanya—dan siapa yang akan hancur di tengah jalan.