Chapter 7
Dua jam lebih berlalu sejak voting pengusiran dibuka, tapi ruang direksi lantai 20 gedung Wijaya Coastal Development masih seperti tungku. Cahaya sore dari pelabuhan Tanjung Priok menyusup lewat dinding kaca, membuat bayangan wajah-wajah dewan memanjang di meja mahoni. Andika Pratama berdiri di ujung meja, jasnya tetap rapi, tangan kanannya memegang map krem tipis. Rachmat Wijaya duduk di kursi kepala, jari-jarinya mengetuk-ngetuk lengan kursi, senyum sinisnya sudah retak di pinggir.
"Sebelum voting ini ditutup," kata Andika pelan, suaranya tenang tapi tajam seperti pisau lipat, "ada yang harus kalian lihat."
Ia meletakkan map itu di tengah meja. Kontrak Rahasia 2022 terbentang, segel basahnya masih mengilat. Pasal tujuh tercetak tebal: seluruh alokasi dana proyek redevelopment pesisir terikat pada penyandang modal awal—PT Nusantara Capital, rekening pribadi Andika sebesar 150 miliar. Ruangan langsung hening. Tangan-tangan yang tadi siap mengangkat untuk mendukung pemotongan dana 40 persen kini membeku di udara.
Rachmat mendengus, tapi suaranya pecah di tengah. "Dokumen palsu. Ini proyek Wijaya, bukan permainanmu, Andika."
Andika tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Rachmat dengan senyum tipis yang tidak menyentuh mata. "Bukan palsu. Dan bukti auditnya sudah siap." Ia melirik Maya Sari.
Maya melangkah maju. Rok pensil hitamnya bergerak rapi, wajahnya tetap profesional, tapi matanya membawa bara yang sudah lama ditahan. Ia meletakkan berkas audit di samping kontrak. Suaranya jernih, tanpa getar: "Aliran dana 150 miliar dikonfirmasi berasal dari rekening pribadi Bapak Andika Pratama melalui PT Nusantara Capital. Klausul pasal tujuh mengikat pencairan selanjutnya. Pemotongan 40 persen akan melanggar kontrak dan memicu penalti otomatis—termasuk pembekuan seluruh proyek."
Bisik-bisik pecah. Seorang direktur senior mengusap keringat di pelipis dengan sapu tangan batik lusuh. Voting pemotongan dana yang hampir pasti lolos kini goyah. Andika tetap berdiri tegak, tidak perlu meninggikan suara. Tekanan yang selama ini menindihnya sebagai 'beban keluarga' mulai bergeser—uang yang dulu dianggap tidak ada kini bicara lebih keras daripada ejekan siapa pun.
Rachmat bangkit tiba-tiba, kursinya bergeser keras. "Ini belum selesai." Ia menatap Maya dengan tatapan beracun. "Kita bicara di luar. Sekarang."
Ia keluar lebih dulu. Maya mengikuti setelah melempar kode mata singkat ke Andika—lebih tegas kali ini, bukan sekadar isyarat. Andika menunggu tiga detik, lalu menyusul.
Di koridor kaca yang menghadap laut, angin sore menyusup lewat celah ventilasi, membawa bau garam pelabuhan. Rachmat menekan Maya ke dinding kaca dengan suara rendah. "Kau kira aku lupa masa lalumu, Maya? Satu panggilan saja, reputasimu hancur di seluruh industri ini. Tarik audit itu sekarang, atau—"
"Atau apa?" potong Andika dari belakang, langkahnya tak terdengar di lantai marmer. Ia mengangkat ponsel. Rekaman suara Rachmat yang lebih panjang dan jelas—ancaman lengkap dengan nada memeras—bermain keras di speaker. Setiap kata tentang 'rahasia gelap' Maya menggema di koridor kaca.
Wajah Rachmat memucat seketika. Tangannya terulur ingin merebut ponsel, tapi Andika menariknya mundur dengan gerakan halus tapi tegas. "Ini bukan ancaman kosong," kata Andika dingin. "Ini bukti yang bisa langsung masuk ke dewan pengawas dan keluarga besar. Kau baru saja kehilangan satu sekutu lagi."
Maya berdiri lebih tegak di samping Andika. "Aku sudah memilih sisi, Rachmat. Audit ini bukan hanya angka. Ini soal siapa yang selama ini benar-benar memegang proyek."
Rachmat mundur selangkah, napasnya tersengal. Untuk pertama kalinya ia terlihat kecil di koridor yang biasanya jadi wilayah kekuasaannya. Ia merogoh saku, menekan nomor di ponsel, lalu mengaktifkan speakerphone. "Ayah, Paman... ini Rachmat. Situasi lepas kendali. Andika mengklaim modal 150 miliar dan mengancam klausul kontrak. Kami butuh intervensi keluarga besar sekarang!"
Suara berat dari seberang menyahut penuh ketidaksabaran. Andika mendengarkan dengan tenang, senyum tipisnya tak hilang. Ia mengeluarkan lembaran tambahan dari saku dalam jas—dokumen yang selama ini disimpan rapat. "Rapat darurat malam ini, pukul delapan. Saya akan ungkap sebagian kecil sumber modal yang sebenarnya. Siapa yang ingin tetap di proyek ini, datang dengan kepala dingin."
Kembali ke ruang direksi, suasana sudah berubah total. Kursi-kursi yang tadi penuh ejekan kini dipenuhi wajah-wajah yang menghitung ulang kerugian. Voting pemotongan dana 40 persen gagal telak. Tangan-tangan yang tadinya terangkat kini turun satu per satu. Maya membacakan paragraf akhir audit dengan suara mantap: setiap pencairan dana baru harus melewati persetujuan penyandang modal awal—Andika Pratama.
Rachmat duduk kembali, wajahnya seperti orang yang baru kehilangan separuh kerajaannya. Ponselnya bergetar terus-menerus. Pesan masuk dari nomor-nomor investor luar yang selama ini tersembunyi. Nada pesan berubah drastis—bukan lagi dukungan untuk Rachmat, melainkan pertanyaan tajam tentang aliran dana dan klausul baru yang tiba-tiba muncul. Satu pesan berbunyi: "Konfirmasi apakah kontrol dana sudah bergeser. Kami tidak mau rugi."
Andika berdiri di depan jendela kaca, memandang pelabuhan Tanjung Priok yang mulai menyala lampu sore. Ia tidak perlu berteriak kemenangan. Cukup berdiri di sana, dengan dokumen di tangan dan Maya di sisinya, sudah cukup mengubah peta kekuasaan di ruangan itu. Status yang dulu diinjak-injak kini mulai naik—pelan, tapi tak terbendung.
Tapi di balik senyum tipisnya, Andika tahu permainan baru saja dimulai. Saat ponsel Rachmat terus berdering dari investor yang kini berpaling, Maya mendekat dan berbisik pelan, "Saya punya berkas tambahan. Satu anggota keluarga Wijaya mungkin akan berbalik malam ini. Tapi harganya... bukan kecil."
Andika mengangguk kecil. Malam ini, meja akan bergeser lagi—lebih tajam, lebih mahal, dan tak ada jalan kembali.