Chapter 4
Andika Pratama berdiri tegak di ruang direksi lantai 20 gedung Wijaya Coastal Development, dinding kaca besar menghadap pelabuhan Tanjung Priok menampilkan pemandangan laut yang cerah kontras dengan ketegangan yang menyelimuti ruangan. Beberapa anggota dewan saling bertukar bisik, sementara Rachmat Wijaya melangkah maju dengan langkah pasti, wajahnya yang biasanya penuh wibawa kini memancarkan amarah yang terpendam.
"Dana proyek redevelopment pesisir harus dipangkas 40 persen," suara Rachmat meninggi, mengiris udara di antara deretan kursi mewah. "Ini konsekuensi dari pengungkapan pasal tujuh kontrak rahasia yang kamu klaim, Andika. Tidak ada kompromi." Tatapan Rachmat menyapu satu per satu anggota dewan, mencari dukungan. Beberapa anggota mengangguk, tangan mulai terangkat untuk voting pemotongan.
Tawa kecil dan bisik sinis menyebar di ruangan berlapis kaca itu. Andika merasakan tatapan penuh cemoohan dan skeptisisme seolah ia bukan sekadar beban yang harus dieliminasi, tapi ancaman nyata. Namun, saat Rachmat hendak menutup voting, Andika perlahan mengeluarkan sebuah dokumen dari saku jasnya — selembar kertas tipis, kontrak rahasia asli tahun 2022 dengan cap basah yang tak terbantahkan.
"Sebelum voting ini dilanjutkan," suara Andika rendah namun penuh kendali, "perhatikan ini. Klausul pasal tujuh mengikat seluruh alokasi dana proyek pada saya sebagai penyandang modal awal sebesar 150 miliar. Tapi ada bagian yang belum kalian baca secara lengkap." Ruang hening seketika, tatapan semua tertuju pada dokumen di tangan Andika.
Rachmat terpaku, wajahnya berubah pucat. "Apa maksudmu?" suara seraknya pecah, berusaha menutupi kegugupannya. Andika melanjutkan, "Klausul itu tidak hanya mengatur alokasi dana, tapi juga memberikan hak veto pada penyandang modal awal untuk mengatur penggunaan dana. Ini artinya, pemotongan dana tanpa persetujuan saya adalah pelanggaran kontrak yang dapat memicu audit eksternal dan pembatalan proyek." Bisik-bisik berubah menjadi kegaduhan kecil di antara anggota dewan.
Di sisi meja, Maya Sari berdiri tegak, tatapannya tak bergeming meski Rachmat mendekat dengan senyum sinis. "Maya, kau tahu risikonya, kan? Menentangku bukan keputusan bijak," suara Rachmat lirih tapi penuh ancaman, sementara tangannya menggeser dokumen di meja seolah memperingatkan. Maya mengangkat dagu, menatap lurus ke mata Rachmat. "Aku bukan boneka, Rachmat. Aku punya bukti kuat soal audit internal yang akan mengubah segalanya. Dukungan pada Andika bukan pilihan emosional, tapi profesional." Ia menyentuh ponselnya, memberi kode rahasia.
Andika menangkap sinyal mata Maya, sebuah secercah harapan menyelinap di balik kelelahan panjangnya. Rachmat mengernyit, merasakan perlawanan yang mulai mengikis kekuasaannya. Beberapa anggota dewan saling bertukar pandang, ragu-ragu. Tekanan meningkat, ruang rapat itu berubah menjadi medan perang senyap; siapa yang akan bertahan?
Rachmat menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan wibawa yang mulai goyah. "Maya, pikirkan baik-baik konsekuensi dari keputusanmu. Dukunganmu pada Andika bukan hanya mengancam posisiku, tapi juga stabilitas perusahaan yang kita bangun bersama." Suaranya dingin, penuh tekanan terselubung. "Tarik dukunganmu, dan aku jamin posisimu akan aman. Tolak, dan kau akan menanggung akibatnya sendiri." Maya tetap tenang, tatapannya tajam menembus ancaman itu, seolah menantang batas kekuasaan Rachmat.
Dua jam setelah voting pengusiran yang dramatis itu masih menggantung, suasana ruang direksi berubah semakin tegang. Cahaya matahari sore menembus dinding kaca besar, memantulkan kilauan ombak di pelabuhan, namun dalam ruangan itu, udara terasa berat dengan waspada dan perhitungan. Andika berdiri tegap di ujung meja panjang, wajahnya tetap tenang, tapi matanya menyimpan api yang sulit dipadamkan.
Anggota dewan mulai berdiskusi dengan nada berbisik, banyak yang masih terperangah oleh pembalikan bukti yang baru saja ia lakukan. Rachmat, yang tadi sempat mengancam, kini tampak pucat, menggenggam lengan kursinya seolah mencari pegangan.
"Kalian semua tahu konsekuensi dari apa yang telah diungkapkan Andika," suara Rachmat pecah kembali, "jika kita terus membiarkan ini, keluarga besar Wijaya dan investor luar akan turun tangan. Proyek ini bisa berantakan dan nama baik kita hancur." Suara ketukan jam di dinding menambah berat tekanan di udara.
Andika menatap Rachmat, lalu perlahan mengangkat tangan, mengambil telepon dari saku jas. Semua mata tertuju padanya. Dengan suara yang tetap terkontrol, ia menekan nomor rahasia yang hanya diketahui beberapa orang di hierarki tertinggi keluarga dan investor.
"Maaf, Rachmat," ujar Andika dengan senyum tipis yang menyiratkan kemenangan tersembunyi. "Saatnya memperluas percakapan ini." Keluarga besar mulai bergerak mendukung Rachmat, tapi satu panggilan telepon dari Andika membuat dua anggota kunci ragu—perang kelas baru dimulai.
Ketegangan meningkat, dewan yang tadinya penuh cemoohan kini berubah menjadi arena perhitungan dingin. Andika tidak lagi hanya bertahan, dia mulai menguasai permainan. Pertarungan status dan kekuasaan baru saja memasuki babak yang lebih berbahaya dan menentukan.