Terms Rewritten
Dua jam setelah voting pengusiran dibuka, ruang direksi lantai 20 gedung Wijaya Coastal Development terasa lebih sempit dari biasanya. Cahaya sore dari pelabuhan Tanjung Priok menyusup lewat dinding kaca, memantulkan bayang wajah-wajah yang sudah lelah menghitung untung rugi. Andika Pratama duduk di kursi ujung, tangan terlipat tenang di pangkuan, sementara suara Rachmat Wijaya masih memotong udara.
“Empat puluh persen potongan itu bukan ancaman. Itu keputusan,” kata Rachmat, suaranya rendah dan tajam. “Proyek ratusan miliar ini sudah terlalu lama disandera janji kosong. Minggu lalu di rapat keluarga, Andika berani janji suntik dua puluh miliar pribadi. Hasilnya? Nol besar. Sekarang dia mau mengikat kita dengan pasal tujuh yang entah muncul dari mana.”
Beberapa kepala mengangguk pelan. Andika merasakan tatapan itu—tatapan yang sama seperti saat dia dianggap beban mati yang hanya menghabiskan oksigen keluarga. Jika pemotongan jadi, mitra pelabuhan akan mundur, nama Andika akan jadi bahan tertawaan dari Tanjung Priok sampai Sudirman, dan kursi di meja ini bisa lenyap selamanya.
Andika tetap diam. Hanya menggeser salinan kontrak tipis di depannya.
“Pasal tujuh, ayat tiga,” ujarnya pelan, suara tak naik sedikit pun. “Setiap pemotongan di atas dua puluh persen tanpa persetujuan penyandang modal awal memicu klausul alih kendali. Penyandang modal awal itu saya. Seratus lima puluh miliar melalui PT Nusantara Capital, perusahaan cangkang Singapura, tahun 2022. Bukti ada di sini.”
Ia mendorong kertas itu ke tengah meja. Bunyi pelan kertas menyentuh kayu cukup membuat ruangan terdiam sejenak.
Rachmat tersenyum tipis, tapi matanya dingin. “Kau kira kami takut kertas lama? Ada pihak di atas kita yang sudah muak dengan sandiwara ini.” Ia melirik Maya Sari yang berdiri di samping proyektor, tangan memegang tablet erat-erat.
Maya tidak mengangkat tangan saat voting tadi. Sekarang, di balik kacamata tipis, ia memberi Andika kedipan singkat—kode lama dari masa magang: tunggu saya.
Rachmat mengetuk meja keras. “Kita tidak bisa menunda lagi. Voting sekarang. Siapa yang setuju Andika Pratama dikeluarkan dari dewan dan proyek ini?”
Tangan mulai terangkat. Empat. Lima. Maya tetap berdiri, tangan di samping tubuh.
Andika menatap Rachmat langsung. “Sebelum tanda tangan tersegel, ada yang harus dilihat dulu.”
Maya melangkah maju. Sepatu hak rendahnya berbunyi pelan di lantai marmer. Ia meletakkan berkas audit tebal tepat di atas kontrak Andika, lalu membuka halaman pertama.
“Ini audit internal tiga bulan terakhir,” katanya jelas. “Aliran seratus lima puluh miliar memang berasal dari rekening pribadi Bapak Andika Pratama melalui PT Nusantara Capital. Setiap rupiah bisa ditelusuri. Pemotongan empat puluh persen akan melanggar pasal tujuh dan memicu audit eksternal—termasuk ke otoritas pelabuhan.”
Ruangan seperti kehilangan udara. Tangan-tangan yang terangkat mulai turun satu per satu. Rachmat membeku, wajahnya memucat di bawah cahaya neon.
“Tidak mungkin,” gumamnya. “Kau bohong, Maya—”
“Saya hanya melakukan tugas sebagai sekretaris dewan,” potong Maya tanpa berkedip. “Data ini tidak bisa dipungkiri. Saya tidak ikut voting tadi karena bukti ini belum lengkap diserahkan.”
Andika bangkit perlahan, bukan untuk berteriak, tapi untuk berdiri setara. “Voting pengusiran belum ditutup. Tapi sekarang semua tahu siapa yang memegang tali proyek ini. Potong dana, dan seluruh alokasi bisa dialihkan—termasuk hak suara kalian di rapat mendatang.”
Bisik-bisik berubah jadi gumaman kaget. Pak Hadi, direktur senior, mengusap keringat di dahinya. “Kalau ini benar… kita bicara ratusan miliar yang bisa hilang dalam semalam.”
Rachmat memukul meja. Suaranya pecah. “Ini bukan akhir! Keluarga besar di belakang kita—paman-paman di Jakarta dan investor luar negeri—sudah muak. Mereka akan mendengar tentang klausul ini malam ini juga!” Matanya menyipit ke Andika. “Kau kira kau menang? Ini baru membuka pintu yang lebih besar. Hierarki di atas dewan ini tidak main-main.”
Andika tidak tersenyum lebar. Hanya senyum tipis yang sama seperti tadi. “Biarkan mereka mendengar. Saya juga punya nomor yang bisa dipanggil.”
Ia melirik ponsel di saku jasnya—dokumen asli kontrak masih utuh di sana.
Maya menutup berkas audit dengan pelan. Ruangan kini sunyi, hanya suara ombak samar dari pelabuhan yang menembus kaca tebal. Tangan-tangan yang tadi terangkat kini terlipat. Wajah-wajah yang penuh penghinaan berubah jadi perhitungan dingin.
Voting pengusiran gagal total.
Tapi Andika tahu kemenangan ini mahal. Rachmat sudah mengetik cepat di ponselnya. Di luar ruangan kaca ini, keluarga Wijaya besar mulai bergerak mendukung Rachmat. Namun ketika Andika nanti menekan satu nomor—hanya satu panggilan—dua anggota kunci di rantai komando itu akan ragu.
Perang yang baru dimulai bukan lagi soal kursi dewan.
Ini soal siapa yang benar-benar memiliki meja, dan siapa yang akan dipaksa berdiri di luar pintu kaca selamanya.