The First Lever
Dua jam setelah suara palu ketuk membuka voting pengusiran, ruang direksi lantai 20 gedung Wijaya Coastal Development masih terasa sesak meski angin laut Tanjung Priok meniup dingin di balik dinding kaca setinggi langit-langit. Andika Pratama duduk di kursi ujung meja mahoni panjang, punggungnya tegak, tangan kanannya diam-diam mengusap lipatan kontrak rahasia 2022 di saku jas hitamnya. Di luar jendela, lampu-lampu kapal kontainer berkelap-kelip seperti mata yang mengawasi. Di dalam, tatapan dua puluh pasang mata mengunci dirinya seolah ia sudah mayat yang belum dikubur.
Rachmat Wijaya berdiri di kepala meja, dasi sutra merahnya seperti noda darah di bawah lampu neon dingin. "Andika," katanya pelan, suaranya tajam cukup untuk terdengar jelas di seluruh ruangan, "kita tidak punya waktu lagi untuk kesabaran. Kamu janji suntik dua puluh miliar minggu lalu di rapat keluarga. Hasilnya? Nol. Proyek redevelopment pesisir ratusan miliar ini terancam macet karena satu orang yang tidak bisa memenuhi kata-katanya." Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-kata itu menggantung. Beberapa anggota dewan mengangguk cepat, wajah mereka menunjukkan kelegaan karena bukan mereka yang disorot.
Seorang direktur wanita paruh baya di sebelah kiri Rachmat menambahkan dengan suara manis beracun, "Kalau begini terus, lebih baik kita cari pengganti yang benar-benar bisa bawa uang, bukan cuma bawa nama keluarga." Tawa pendek pecah di dua-tiga tempat. Andika merasakan gigitan itu di tulang dada—bukan sekadar kata, tapi ancaman nyata kehilangan kursi di meja ini, kehilangan muka di depan keluarga besar, dan pintu warisan yang mulai tertutup rapat.
Maya Sari berdiri di sisi meja, membacakan laporan audit dengan nada netral profesional. Angkanya dingin: kerugian operasional, keterlambatan pencairan, ketidaksesuaian dana pribadi. Tapi saat tiba giliran voting, tangannya tetap di samping tubuh. Tidak terangkat. Satu detik. Dua detik. Ruangan yang tadinya riuh menjadi hening mendadak. Rachmat menoleh tajam. "Maya. Jangan main di luar aturan. Angkat tanganmu kalau setuju."
Maya hanya menatap lurus ke depan, jari telunjuk kirinya bergerak pelan menyentuh berkas di meja—kode yang hanya Andika pahami. Andika menarik napas pelan, lalu bicara untuk pertama kalinya sejak voting dibuka.
"Sebelum suara ditutup dan tanda tangan dikunci," katanya tenang, suaranya rendah tapi jelas, "ada satu hal yang harus diketahui dewan. Dana tambahan sudah diamankan. Bukan dari kantong bersama."
Bisik-bisik langsung menyebar. Rachmat menyipitkan mata. "Dari mana? Kalau ada sumber gelap, kami punya cara memotongnya sebelum menyentuh tanah proyek."
Andika tidak menjawab langsung. Ia merogoh saku jasnya dengan gerakan lambat yang disengaja, mengeluarkan dokumen berlipat yang kertasnya sudah agak menguning di tepi. "Kontrak Rahasia 2022," bacanya pelan. Ruangan seketika hening total. Cahaya lampu memantul di kaca, memperjelas wajah-wajah yang tiba-tiba tegang. "Klausul pasal tujuh menyatakan bahwa seluruh alokasi dana proyek terikat pada pihak yang menanam modal awal sebesar seratus lima puluh miliar melalui perusahaan cangkang Singapura. Pihak itu adalah saya."
Wajah Rachmat berubah. Marah bercampur kaget yang cepat disembunyikan. "Kamu berani mengklaim itu sekarang? Setelah bertahun-tahun diam seperti tikus?"
Andika tersenyum tipis, tidak ada kebanggaan berlebih, hanya kepastian dingin. "Bukan klaim. Fakta. Kalau dana proyek dipotong, klausul ini aktif. Seluruh anggaran berhenti. Proyek mati sebelum fondasi pertama dituang."
Beberapa anggota dewan saling pandang. Suasana yang tadinya penuh ejekan kini berubah menjadi perhitungan cepat—siapa yang akan kehilangan paling banyak kalau proyek benar-benar berhenti. Maya mengangkat berkas auditnya sedikit, seolah siap meletakkannya di meja sebagai penguat.
Rachmat mengusap dagu, lalu tersenyum balik—senyum yang tidak sampai ke mata. "Baik. Kalau begitu, dewan akan mengambil langkah tegas. Saya usulkan pemotongan dana proyek sebesar empat puluh persen, efektif hari ini. Hukuman langsung atas kegagalan Andika memenuhi komitmen dua puluh miliar. Kita lihat seberapa kuat klausul kertasmu itu menahan pukulan ini."
Kali ini tidak ada tawa lepas. Hanya gumaman gelisah dan kursi yang bergeser pelan. Andika tetap duduk tenang, jarinya masih menyentuh dokumen di atas meja. Leverage pertama sudah di tangan—tapi ia tahu, dengan pemotongan ini, Rachmat baru saja membuka pintu serangan yang lebih besar. Keluarga Wijaya tidak akan diam saja.
Maya meletakkan berkas audit di meja dengan suara pelan yang menggema. Suara Rachmat terhenti sejenak. Di balik kaca besar yang menghadap pelabuhan, lampu kapal terus berkelap-kelip, seolah menunggu gelombang berikutnya yang lebih dahsyat.